BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)
Benahi Dulu ICOR Indonesia

Pertama, harus dilihat bahwa hal ini semua adalah faktor global dalam membentuk pertumbuhan ekonomi Indonesia. Sebenarnya Indonesia relatif lebih kecil tingkat keterbukaan ekonomi Indonesianya. Jika dijumlah ekspor plus impor hanya sekitar 40 persenan terhadap PDB. 
Sementara Negara seperti Vietnam, ekspor plus impornya mencapai 200 persen dari PDB. Jadi lebih besar nilai ekspor plus impornya daripada PDB, sementara kita kecil sekali. Rasio ekspor Indonesia sekitar 20 persen terhadap PDB. Semetara Vietnam rasio ekspor terhadap PDB hampir 100 persen.  

Artinya, Indonesia saat ini lebih memanfaatkan kekuatan domestik, dimana konsumsi menjadi penopang utama. Dari unsur-unsur pembentuk pertumbuhan ekonomi seperti C+I+G+(X-I), maka kalau misalnya net ekspor jeblok, sedangkan kita masih bisa mendorong konsumsi rumah tangga tetap tumbuh menguat, itu artinya masih bisa tertolong. Hal itu menggambarkan bahwa fakor global yang mengalami perlambatan masih bisa diatasi dengan kemampuan domestik dalam negeri.

Permasalahannya, terdapat dampak antara yang secara tidak langsung pertama, struktur ekspor kita saat ini masih mengandalkan harga komoditas. Dimana jika permintaan global melambat atau turun, maka hal itu akan menyebabkan harga komoditas global menurun. Sementara Indonesia masih mengandalkan harga komoditas tersebut. 

Kedua, dari sisi pertumbuhan konsumsi domestik dalam negeri sebenarnya hal itu bisa berarti peluang tapi juga bisa berarti sebuah tantangan. Sebab, impor content kita masih cukup tinggi. Kalau misalnya kita genjot konsumsi yang semakin tinggi untuk mengatasi resesi global, maka hal itu akan otomatis menggenjot impor bahan baku dan barang modal yang semakin tinggi. Dan hal itu pasti akan berimbas kepada nilai tukar mata uang.

Jadi yang perlu dilakukan oleh pemerintah adalah bagaimana sebisa mungkin memanfaatkan konsumsi dengan menggunakan produk-produk yang sedikit kandungan impor. 

Sebagai contoh pada industri manufaktur, maka harus didorong seandainya dia mengimpor barang modal dan impor bahan baku yang membutuhkan devisa, maka barang-barang itu harus bisa diekspor lagi. Atau misalnya jika lebih banyak konsumsi domestik, maka bagaimana caranya Indonesia mampu membangun industri yang strukturnya kuat dari hulu ke hilir. 

Memang hal itu seperti lingkaran dan serba salah. Kalau kita mau mendorong konsumsi supaya tetap tinggi, maka risikonya impor barang modal dan bahan baku harus tetap tinggi. Karena strukturnya seperti itu. Jika terus tinggi maka ke depan rupiah akan bisa semakin merosot. Sementara ekspor kita masih belum bisa diandalkan karena masih tergantung pada harga komoditas global.

Lain hal, investasi kita sebetulnya besar, hanya saja pertumbuhannya agak melambat tetapi secara value investasi kita besar. Negara mana yang investasinya mencapai 30 persen dari PDB. Artinya kalau kita lihat konsumsi masyarakat 56 persen PDB sedangkan investasi sekitar 30 persen PDB. sisanya belanja pemerintah sekiar 8 persen.

Investasi memang besar, tapi masalahnya investasi yang besar itu belum bisa menghasilkan apa-apa atau belum bisa mendorong pertumbuhan ekonomi. Hal itu disebabkan oleh adanya sesuatu yang boros. Pemborosan itu tercermin dalam ICOR Indonesia yang masih tinggi (6,2) di antara Negara-negara ASEAN. 

Di situ terlihat adanya in-efisiensi. Katakanlah untuk memproduksi satu unit barang diperlukan lebih banyak modal, kalau di Indonesia. Akibat pemborosan itu, maka investasi yang besar tadi belum bisa berdampak terhadap pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi ataupun penyerapan tenaga kerja yang lebih tinggi lagi. 

Maka saat ini, salah satu yang perlu dibenahi adalah bagaimana menurunkan ICOR. Hal hal yang membuat inefisien seperti biaya transportasi dan logistik yang mahal misalnya, harus segera diatas agar investasi kita bisa lebih efisien.

Tetapi khawatirnya jika pemerintah terus mengundang investasi asing, maka itu akan berbuntut meningkatnya impor barang modal. PMA yang akan membuka pabrik di Indonesia akan membawa segala peralatannya (barang modal dan bahan baku) ke dalam negeri. Jika demikian halnya maka dikhawatirkan akan mengganggu neraca transaksi berjalan, sementara ekspor Indonesia masih belum kuat.   

Maka sekarang konsentrasinya daripada mengundang investasi, lebih baik benahi dulu ICOR Indonesia. Itu prioritas utama, supaya investasi yang ada bisa lebih efisien dan efektif dalam menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang lebih besar. (pso)

SHARE ON
close

TOPIK TERPOPULER

14 November, Hari Diabetes Sedunia

0 OPINI | 14 November 2019

Mie Instan Plus Krupuk, Picu Obesitas

0 OPINI | 15 November 2019

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Fithra Faisal Hastiadi, Dr., S.E., MSE., M.A

Direktur Eksekutif Next Policy, Dosen FEB UI

Andry Satrio Nugroho

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

Yahya Agung Kuntadi, Ir., M.M.

Kepala Kantor UGM Kampus Jakarta, Institute of Research and Community LPPM UGM

FOLLOW US

Tidak Pada Tempatnya Meragukan Data BPS             Harus Disadari, Ada Akar Masalah yang Tidak Diselesaikan             Sektor Konsumsi Harus Tetap Didorong             Data Angka Konsumsi dan Investasi Masih Menunjukkan Peningkatan             Rakyat Harus Diuntungkan dalam Jangka Pendek             Jangan Kejar Target Pembangunan Fisik Saja             Kemampuan Investasi dalam Menyerap Tenaga Kerja Semakin Rendah             Sektor UKM Masih Bisa Diandalkan             Masih Harus Banyak Dilakukan Pembenahan             Tantangan Besar Meningkatkan Tenaga Kerja Menjadi SDM Berkualitas