BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Jurnalis Senior
Fungsi Hutan Tidak Hanya dari Aspek Ekonomi

Secara umum, sektor kehutanan itu memang tidak hanya menghasilkan kayu. Dalam industri Kehutanan, isitilah agroforestry itu termasuk hasil hutan kayu, dan hasil hutan non kayu.

Semuanya memang harus diteliti lebih jauh. Selama ini banyak pihak melihat hutan itu lebih ke kayu atau produk perkebunan seperti sawit atau monokultur dan tambang. Padahal hutan mempunyai potensi lebih dari itu semua.

Jutru potensi non kayu dari hutan jauh lebih besar secara ekonomis. Yang disebut keanekaragaman hayati sebetulnya tidak hanya tanaman tetapi juga binatang, jamur, ganggang, lumut, mikroba, yang kesemuanya itu belum diteliti. Padahal para ahli di barat sedang meneliti potensi hutan sampai yang terkecil seperti jamur dan lumut yang bisa mempunyai niai ekonomi jangka panjang. Jelas itu besar sekali nilainya karena Indonesia adalah salah satu Negara dengan keanekaragaman hayati tertinggi di dunia.

Indonesia adalah pemilik hutan tropis nomor 3 di dunia setelah Brazil dan Kongo.

Jelasnya keanekaragaman hayati itu terdiri dari bermacam-macam. Jadi kalau misalnya terdapat areal tutupan hutan yang akan mengalami alih fungsi lahan menjadi lahan non hutan seperti sawit dan sebagainya maka itu adalah sebuah kerugian besar.

Banyak hutan kita habis bahkan sebelum diteliti dengan benar kandungan potensi hutan tersebut.

Misalnya yang dialihfungsikan untuk kebun sawit, dari situ bisa dikalkulasi berapa keragaman hayati yang hilang. Hal itu sebenarnya kerugian yang tidak bisa dihitung hanya dari sudut ekonomi. Hutan Indonesia memiliki kekayaan yang luar biasa dan amat sempit jika hanya memandang dari potensi kayu saja.

Tambang emas di Freeport Papua sebaiknya dilupakan saja. Tetapi seharusnya ada kajian potensi dari hutan Papua karena itu bisa jadi lebih kaya dari hasil tambang. Kekayaan Papua itu sepertinya bukan emas, tetapi justru hasil hutannya. Ironisnya, sekarang hutan Papua juga mulai dirambah untuk sawit, setelah hutan Sumatera dan Kalimantan habis.

Pembangunan jalan di Papua sebenarnya juga konon untuk pembukaan lahan seluas-luasnya. 

Oleh karenanya hutan Indonesia yang kaya raya itu termasuk di dalamnya lebah hutan, jerenang, rotan dan lain-lain, sungguh tak terkira nilainya. Belum termasuk jamur, ganggang, lumut dan lainnya yang belum pernah dilihat karena memang tidak pernah atau jarang sekali diteliti. Fakultas Kehutanan kita malah lebih banyak mempelajari soal kayu hutan. Tapi tidak melihat hutan sebagai suatu ekosistem. 

Ihwal ”ngeles” nya perkebunan sawit sebagai pelaku deforestasi tapi menunjuk pihak lain misalnya orde baru sebagai pelaku sebenarnya dari perusakan hutan, itu ada benarnya. Hutan Indonesia di Kalimantan, Sumatera, Sulawesi dan lain-lain memang rusak sejak era Orba. Hutan ketika itu dikapling-kapling oleh Suharto dan kroninya. Sebagian, karena orang-orang orba juga tidak bisa mengurus, maka diserahkan kepada kelompok pengusaha besar seperti kelompok Prayogo Pangestu, Bob Hasan, Salim Grup dan lain-lain dengan skala kerusakan yang luas.

Tetapi, “orang” sawit juga tidak bisa berkilah. Apa yang salah di masa lalu tidak boleh juga diulangi. Sawit, tidak bisa mengklaim kerusakan oleh kebun sawit hanya sedikit atau semacamnya. Karena memang sekarang hutan tinggal sedikit jadi dampaknya akan lebih besar.

Di pulau Sumatera jika dilihat dari atas, maka hampir semua adalah kebun sawit, hutannya kebanyakan sudah hilang. Jadi hutan Indonesia setelah di “logging’, sekarang malah dirambah oleh industri sawit. Pengusaha kadang memang nakal, setelah dapat konsesi hutan, kayu ditebang dan dijual lalu dijadikan kebun sawit.

Sayangnya jarang yang menyadari bahwa fungsi hutan bukan hanya fungsi ekonomi tapi juga fungsi ekologi. Dampak banjir yang terjadi di beberapa daerah adalah bukti dari logging yang dilakukan di hulu.

Hutan, walaupun tidak menghasilkan tetapi tetap harus dijaga. Produk hutan bukanya hanya kayu nya yang harus dilihat, tetapi juga sebagai wadah penampung air tanah. Menjadi sumber air, dan fungsi kontrol dari banjir dan sebagainya. Oleh karenanya cara bijak memandang hutan hendaknya jangan hanya dari aspek ekonomi tetapi juga dari aspek ekologi.

Juga dari segi budaya. Contohnya suku Dayak, sekarang sepertinya termarjinalkan semakin jauh karena habitatnya dialih fungsi menjadi kebun sawit dan Dayak otomatis terdesak. Dari situ budaya, keyakinan dan lain lain dari suku tersebut terancam hilang.

Jadi sekali lagi, mari jangan dilihat hutan hanya dari aspek ekonomi, atau dari sisi meubelair saja. (pso)  

SHARE ON
close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Jerry Massie, Dr., M.A., Ph.D.

Direktur Eksekutif Political and Public Policy Studies

Yahya Agung Kuntadi, Ir., M.M.

Kepala Kantor UGM Kampus Jakarta, Institute of Research and Community LPPM UGM

FOLLOW US

Konsep Sudah Benar, Implementasinya Gagal             Tugas Terbesar Negara, Mencerdaskan Bangsa!             Indonesia Butuh Terobosan-terobosan Progresif Bidang SDM             Penekanan pada Memobilisasi Kapasitas Modal Manusia Lokal Secara Otentik             Meritokrasi vs Kabilisme             Kendalikan Harga Pangan untuk Menekan Inflasi             Utang Semakin Besar, Kemampuan Membiayai Pembangunan Berkurang             Perhatikan Belanja Non K/L yang Semakin Membesar             GBHN Isu Elite Politik Saja             Kepentingan Politik Lebih Menonjol