BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Mantan Rektor Institut Pertanian Bogor (IPB)
Indonesia Butuh Terobosan-terobosan Progresif Bidang SDM

Dapat diuraikan beberapa tantangan daya saing SDM di Indonesia dan bagaimana peran perguruan tinggi dalam memberikan kontribusi terhadap peningkatan daya saing SDM di Indonesia. Pandangan akan banyak berasal dari sudut pandang praktisi, sebagai orang yang 10 tahun mendapat amanah memimpin PTN yaitu IPB dan 3 tahun mengkoordinasikan para rektor PTN Indonesia dalam wadah MRPTNI.

Secara umum, ada dua hal yang ingin disampaikan. Pertama, terkait tantangan daya saing SDM di Indonesia. Kedua, adalah terkait pengelolaan perguruan tinggi khususnya bidang riset, inovasi, dan komersialisasi inovasi.

Saya sangat sependapat dengan Prof Didik J Rachbini yang mengingatkan kita tentang salah satu amanat konstitusi yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa dalam suasana peringatan hari kemedekaan RI ke 74.

Daya saing SDM memiliki peranan yang sangat penting bagi pembangunan suatu negara termasuk Indonesia. Berbagai studi menunjukkan bahwa kualitas SDM menentukan keberhasilan pembangunan negara-negara di seluruh dunia.

Peningkatan daya saing Indonesia sangat krusial bagi Indonesia yang mempunyai struktur demografis dengan peluang besar adanya bonus demografi di satu sisi dan di sisi lain Indonesia sedang berjuang untuk lepas dari jebakan pendapatan menengah. Jika merujuk kepada studi yang dilakukan oleh Ono mengenai tahapan negara-negara dalam pembangunan, Indonesia sedang menghadapi kesulitan untuk berpindah dari negara yang memproduksi barang dengan tingkat kesulitan lebih lanjut menjadi negara yang memproduksi barang dengan teknologi tinggi.

Menurut Ono, negara yang mampu melewati tahapan tersebut adalah negara-negara yang menciptakan nilai tambah internal melalui human capital upgrading atau peningkatan SDM. Hal ini menunjukkan bahwa SDM merupakan kunci keberhasilan pembangunan suatu negara. Indonesia harus memanfaatkan bonus ini untuk keluar dari pendapatan menengah. Jika tidak, maka Indonesia akan menjadi negara tua sebelum kaya.

Namun jika kita melihat beberapa peringkat kualitas SDM yang dikeluarkan berbagai lembaga, Indonesia masih tertinggal. Misalnya peringkat Human Capital Index yang dikeluarkan oleh World Economic Forum (WEF) tahun 2017, Indonesia berada pada peringkat 65. Tertinggal dari negara-negara tetangga seperti Malaysia (33), Thailand (40), Filipina (50), dan Vietnam (64).

Selain SDM, aspek utama yang penting agar Indonesia meningkat dari negara berpendapatan menengah adalah riset dan inovasi. Namun sayangnya jika kita merujuk kepada sejumlah indikator yang berkaitan dengan aspek-aspek tersebut, Indonesia masih tertinggal. Misalnya, peringkat Global Innovation Index dimana Indonesia berada pada peringkat 85, lalu porsi anggaran belanja Research and Development terhadap PDB yang hanya 0,08 persen.

Melihat berbagai kondisi yang sudah saya jelaskan, Indonesia membutuhkan  terobosan-terobosan yang progresif tapi konsisten dalam 5 sampai 10 tahun ke depan sebagai pondasi untuk keluar dari jebakan pendapatan menengah. Jika tidak, Indonesia akan gagal menjadi negara pendapatan tinggi dan dan terperangkap di posisi negara pendapatan menengah seperti negara-negara Amerika Latin.

Pertanyaannya, apakah ide mengimpor rektor asing dapat menjadi salah satu solusi untuk meningkatkan daya saing SDM dan meningkatkan riset dan inovasi Indonesia agar bisa bersaing dengan negara-negara lain dan bisa keluar dari perangkap negara dengan pendapatan menengah.

Seperti Penyampaian di awal, sektor pendidikan merupakan kunci pembangunan suatu negara. Di antara berbagai jenjang pendidikan, jenjang pendidikan tinggi mulai dianggap krusial bagi kemajuan suatu negara. Pendidikan tinggi dapat menjadi penghela kemajuan pendidikan secara keseluruhan.

Pada beberapa dekade terakhir hal ini menjadi perhatian serius karena pendidikan tinggi dapat melahirkan berbagai lulusan yang memiliki kepakaran-kepakaran penting yang mampu mendorong kemajuan ekonomi di suatu negara. Peran penting pendidikan tinggi juga semakin krusial dalam konteks perkembangan knowledge economy dalam beberapa tahun terakhir dimana pengetahuan (knowledge) dianggap sebagai kunci dalam pertumbuhan ekonomi.

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Zucker Lynne G. Zucker et al di California menunjukkan bahwa terdapat dampak positif dari keberadaan universitas riset terhadap perusahaan di sekitar universitas tersebut. Dampak akan semakin besar jika terdapat kolaborasi antara perusahaan dengan para akademisi yang memiliki tingkat kepakaran yang tinggi.

Oleh karena itu, tidak mengherankan jika terjadi peningkatan permintaan terhadap pendidikan tinggi. Di Indonesia, terjadi peningkatan jumlah peserta didik dari 2,3 juta pada tahun 2000 menjadi 6,9 juta pada tahun 2017 (Kemenristekdikti, 2017). Hal ini juga terjadi di level dunia dimana Bohm dalam bukunya berjudul Global Student Mobility: Forecasts of the Global Demand for International Higher Education, memprediksikan terjadi peningkatan jumlah peserta didik dari 97 juta pada tahun 2000 menjadi 263 juta pada tahun 2025 (Böhm et al, 2004).

Sejalan dengan peningkatan kebutuhan terhadap pendidikan tinggi yang semakin besar maka semakin besar pula permintaan kepada perguruan tinggi untuk membuka akses yang lebih luas dan menyelenggarakan pendidikan bermutu tinggi. Selain itu, muncul tuntutan agar pendidikan tinggi dapat melakukan pengelolaan pendidikan tinggi yang lebih baik sehingga menghasilkan SDM yang memiliki daya saing tinggi dan menghasilkan riset dan inovasi yang bermanfaat bagi pembangunan negara.

Dalam berbagai kesempatan, pemerintah menyampaikan bahwa rektor asing dibutuhkan untuk meningkatkan kampus-kampus di Indonesia menjadi kampus kelas dunia (world class university). Selama ini salah satu rujukan pemeringkatan kampus kelas dunia adalah QS World University Ranking. Pada satu sisi, merujuk QS World University Ranking membuat definisi kampus kelas dunia menjadi lebih sempit.

Namun pada sisi lain, unsur-unsur penilaian dalam pemeringkatan tersebut maupun pemeringkatan lain menjadi rujukan yang terukur dalam menjalankan program dan menjadi indikator kinerja perguruan tinggi. Salah satu indikator yang memiliki bobot yang tinggi adalah reputasi yang sifatnya subjektif dan dilakukan melalui survei kepada para akademisi internasional. Selain itu, riset dan kerjasama internasional juga merupakan unsur penilaian yang penting.

Pertanyaannya, adalah apakah mengundang rektor asing akan meningkatkan reputasi akademik secara global?

Perlu diketahui bersama bahwa sebetulnya dalam memimpin kampusnya seorang rektor harus bekerja dengan basis peraturan dan sumber daya yang ada baik SDM maupun anggaran. Jika kondisi masih seperti saat ini dimana peraturan masih kaku seperti terkait pengangkatan dosen yang hingga saat ini belum leluasa maupun peraturan terkait penggunaan dana yang bersumber dari negara maupun masyarakat maka rektor asing juga akan sulit untuk bekerja.

Masalah pendanaan yang secara nominal kurang memadai maupun kekakuan penggunaan dana juga akan membatasi ruang gerak rektor asing. Selain itu, rektor asing juga akan menghadapi kendala lain seperti bahasa maupun budaya lokal.

Dengan kondisi tersebut maka rektor asing akan sangat sulit menyelesaikan masalah struktural dan fundamental di sektor pendidikan tinggi di Indonesia. Padahal yang lebih penting adalah membangun basis untuk menjadi kampus kelas dunia yang memang betul-betul dicapai melalui tahapan yang runut. Percepatan perlu tapi jangan lompat-lompat atau malah keropos.

Oleh sebab itu, isu rektor asing perlu digeser kepada solusi-solusi bagaimana kita dapat meningkatkan iklim dan lingkungan akademik yang kondusif di kampus-kampus kita, menjalankan agenda riset yang unggul, menghasilkan ribuan inovasi, melakukan komersialisasi inovasi, dan membangun budaya kampus kelas dunia secara progresif tapi konsisten.

Kalau soal kerjasama dengan pakar maupun professor dari negara-negara maju kita sudah terbiasa saya kira, hanya kurang intensify dan kurang konsisten. Saya percaya, kompetensi rektor-rektor maupun para akademisi di Indonesia bagus-bagus. Dengan iklim dan lingkungan akademik yang kondusif, sektor pendidikan tinggi di Indonesia akan maju dan memberikan kontribusi bagi pembangunan Indonesia, tanpa harus mengimpor rektor asing.

Terkait rangking Perguruan Tinggi, ranking itu ibarat cermin yang membantu kita untuk mengetahui kondisi kita lalu kita memperbaiki diri. Ranking bukan piala yang harus kita capai dengan berbagai cara.

Untuk meningkatkan mutu dan relevansi program pendidikan tinggi maupun ikut mendorong pertumbuhan ekonomi lebih baik Pemerintah meningkatkan program pengembangan Science and Techno Park (STP) yang sudah dimulai.

STP dapat berperan penting untuk menjembatani riset dan bisnis. Keberadaannya memiliki berbagai manfaat yaitu antara lain komersialisasi inovasi, transfer teknologi, penciptaan lapangan kerja, dan ikut mendukung pembangunan ekonomi. STP juga dapat mendorong kehadiran perusahaan baru terutama perusahaan dengan tingkat teknologi tinggi.

Berbagai negara maju yang memiliki riset dan inovasi yang unggul sudah mengembangkan STP sejak puluhan tahun yang lalu dan menjadi tulang punggung knowledge based economy.  Pemerintah sebenarnya perlu lebih berfokus kepada pengembangan dan investasi STP ini terutama dengan membangun kerjasama G to G dengan pemerintah negara-negara maju.

Masalah Pengangguran Terdidik

Pengangguran terdidik merupakan akibat tidak adanya man power need of national economy and services serta rendahnya kerjasama kampus dan sekolah dengan dunia usaha/dunia industri. Dengan man power need of national economy and services kita mempunyai gambaran berapa kebutuhan sarjana/ahli madya. Selain itu, kita kemudian mempunyai dasar dalam menentukan berapa banyak mahasiswa baru suatu program studi.

Terkait ide pendirian enclave industrial scientis di Indonesia, sepertinya belum pernah mendengar adanya rencana seperti itu. Pengembangan advanced research dan inovasi khas Indonesia selama ini masih sporadis. Oleh karena itu, perlu ada Grand Strategy dan Research Agenda yang dijalankan secara konsisten. (pso)

SHARE ON
close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Lana Soelistianingsih, Dr., S.E., M.A.

Ekonom Universitas Indonesia, Kepala Riset/ Ekonom Samuel Aset Manajemen

Mohammad Faisal

Direktur Centre of Reform on Economic (CORE) Indonesia

Ahmad Heri Firdaus

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

FOLLOW US

Perubahan Nomenklatur Tak Efektif dalam Jangka Pendek             Ketergantungan pada Komoditas Dikurangi, Perbanyak Industri Olahan Berbasis Komoditas             Setia Ekspor Komoditas Alam, atau Diversifikasi Ekspor?             Perlu, Optimalisasi Non Tariff Measure (NTM)             Kebijakan NTM akan Bermanfaat, Selama Tidak Berlebihan.             Sesuaikan pilihan jenis NTM dengan karakteristik produk impor             Kebijakan Mandek Terganjal Implementasi, Koordinasi, Eksekusi               Pemerintah Sibuk Urusi Poliitk             Tinjau Kembali Struktur Industri Nasional             Benahi Dulu ICOR Indonesia