BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Psikolog Klinis
Pendekatan yang 'Teenager Friendly'

Berbicara mengenai narkoba adalah hal yang kompleks dan ruwet/ rumit. Karena bukan hanya tanggung jawab pemerintah, sekolah ataupun lingkungan serta keluarga. Akan tetapi merupakan tanggung jawab semua pihak secara komperhensif.

Pemerintah, sebagai penegak hukum harus menegakkan hukum secara adil dan bijaksana dengan tidak menitikberatkan kepada pengguna yang adalah korban, namun harus ditegaskan kepada pengedar. Harus dibedakan mana yang menjadi pengedar dan korban.

Lingkungan keluarga dan sekolah harus melakukan tugasnya masing-masing. Sekolah melakukan pelatihan-pelatihan mengenai akibat narkoba secara terus-menerus dan intensif. Bagaimanapun juga pengguna banyak dari kalangan pelajar, dimana remaja ini membutuhkan pendekatan yang konsisten secara psikologis. Semakin sering ‘dibombardir’ secara konsisten maka semakin tertanam di dalam pikiran anak-anak, harus dilakukan secara konsisten dan intensif.

Selanjutnya, pendekatan kepada anak remaja tidak bisa dilakukan dengan metode menakut-nakuti, atau menebarkan rasa takut. Remaja lebih suka jika diajak diskusi, pendekatan dilakukan secara emosional bukan dengan ketakutan. Karena justru jika ditakut-takuti remaja akan semakin penasaran, seperti ‘apa iya ya kalau mengkonsumsi ganja akan seperti ini dan itu’. Hal ini justru akan menimbulkan rasa penasaran dan keingintahuan.

Jadi, lakukanlah pendekatan yang benar (perlakukan seperti teman) dan lakukan penyuluhan secara konsisten yang friendly. Bukan dengan pendekatan menakut-nakuti atau mengancam dengan dalih agama, ‘nanti berdosa lho’, karena pada tahapan remaja anak-anak belum bisa memutuskan secara dewasa apa yang baik dan buruk sehingga masih perlu didampingi secara intensif. Pendekatan yang dilakukan harus yang teenager friendy.

Keluarga juga harus demikian, mengajak anak ngobrol  dan diskusi bukan dengan cara otoriter. Didikan otoriter akan menjadikan anak semakin jauh dan melarikan diri, karena 80 persen pengguna narkoba adalah anak yang jauh dari keluarga secara emosional, mereka yang melarikan diri dari masalah keluarga.

Remaja yang tampaknya seperti bermasalah harus dirangkul dan diajak ngobrol secara konsisten. Awalnya pasti ada penolakan, namun harus ada yang secara konsisten melakukan pendekatan. Keluarga harus menciptakan lingkungan yang ramah bagi anak, yang nyaman dan hangat penuh kasih sayang. Sehingga rumah menjadi tempat yang aman dan nyaman bagi anak dan tidak perlu lari ke hal-hal negatif.

Begitu juga sekolah, memberikan pengetahuan yang cukup akan narkoba. Pemerintah dan penegak hukum menciptakan hukum yang tegas, adil dan bijaksana terkait penganggulangan dan pencegahan narkoba. Masalah narkoba merupakan tugas dan tanggung jawab kita semua, bukan menyalahkan segelintir orang. (yed)

SHARE ON
close

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Nanang Djamaludin

Direktur Eksekutif Jaringan Anak Nusantara (JARANAN), Konsultan Keayahbundaan dan Perlindungan Anak.

Ahmad Heri Firdaus

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

FOLLOW US

Rekonsiliasi ala Amien Rais Tidak Beretik Demokrasi             Indonesia Butuh Rupiah Kuat             Pembangunan Kodim untuk Wilayah 3T Urgen             Harus Disesuaikan dengan Kebutuhan dan Ancamanya             Rekonsiliasi Transaksional Rusak Mental Bangsa             Tak Ada Rekonsiliasi Tanpa Power Sharing             Polisi Tunduk Pada Hukum             Inovasi Kebijakan yang Tidak Menjual             Kebijakan Tergantung Tujuan Awalnya             Kebaya Tak Perlu Dipertanyakan