BACK TO TOPIC
OPINI PENALAR
Kepala Humas dan Hubungan Eksternal Universitas Malikussaleh Lhokseumawe
Rekonsiliasi ala Amien Rais Tidak Beretik Demokrasi

Jika fenomena politik pascapilpres yang berpuncak pada pertemuan Jokowi-Prabowo di MRT disebut sebagai rekonsiliasi, maka ia bisa berwujud positif atau negatif. Positif jika ia menjadi momentum berhentinya politik permusuhan cum fitnah yang telah berlangsung bahkan sebelum kampanye Pilpres 2019. Momentum pelukan Jokowi dan Prabowo menjadi titik awal mulainya politik yang lebih beretika di antara elite nasional demi persatuan bangsa.

Namun ia bisa berarti negatif jika menjadi langkah awal membagi-bagi porsi kekuasaan. Padahal di alam demokrasi, tetap diperlukan mekanisme check and balance agar the rulling politic tidak jatuh menjadi kekuatan otoriter yang sepi kritik. 

Demokrasi Pancasila memang tidak menyebutkan secara eksplisit tentang politik oposisi, tapi juga tidak menganjurkan elite politik "bergotong-royong" demi kepentingan pragmatis kekuasaan. Tujuan utama demokrasi Pancasila adalah agar kekuasaan tetap memiliki semangat hikmah-kebijaksanaan demi kesejahteraan dan keadilan sosial. Hal itu akan berjalan jika ada mekanisme mengingatkan kekuasaan agar tidak lupa daratan.

Makanya tawaran Amien Rais agar rekonsiliasi Jokowi-Prabowo akan semakin berarti ketika ada perimbangan kekuasaan 55:45; sebagai cermin hasil pilpres adalah semangat busuk rekonsiliasi. Belum apa-apa hasrat berkuasa telah disisipkan dalam agenda pertemuan itu. Tawaran Amien Rais juga menunjukkan semakin tidak malunya elite menyodorkan proposal kekuasaan dan akhirnya meninggalkan agenda kesejahteraan di lemari besi. Tak akan disentuh hingga momentum elektoral selanjutnya.

Gagasan rekonsiliasi ala Amien Rais menunjukkan bahwa politik menghalalkan cara  Machiavelianis semakin bereaksi di ruang politik bangsa. Padahal politik harusnya instrumen (the means) yang digunakan sebagai sarana mewujudkan keadilan, kesetaraan, persahabatan, keseimbangan, dan kebahagiaan. Itu seharusnya menjadi tujuan (the ends), bukan hanya untuk mengumpan laparnya politikus bernurani serigala.

Tawaran rekonsiliasi ala Amien Rais tidak menghasilkan kebaikan politik, malah sikap culas untuk menikung di kesempatan yang ia punya untuk merusak soliditas kelompok politik yang menang pada momentum elektoral lalu. 

Makanya Jokowi wajib menjauhkan diri dari pragmatisme politik ala Amien Rais. Ia mesti mendedikasikan waktunya untuk membangun sejarah politik agar dikenang sebagai presiden yang memiliki agenda kesejahteraan yang jelas, dan bukan presiden yang asik membagi kue kekuasaan. (mry)

SHARE ON
close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Jerry Massie, Dr., M.A., Ph.D.

Direktur Eksekutif Political and Public Policy Studies

Yahya Agung Kuntadi, Ir., M.M.

Kepala Kantor UGM Kampus Jakarta, Institute of Research and Community LPPM UGM

FOLLOW US

Konsep Sudah Benar, Implementasinya Gagal             Tugas Terbesar Negara, Mencerdaskan Bangsa!             Indonesia Butuh Terobosan-terobosan Progresif Bidang SDM             Penekanan pada Memobilisasi Kapasitas Modal Manusia Lokal Secara Otentik             Meritokrasi vs Kabilisme             Kendalikan Harga Pangan untuk Menekan Inflasi             Utang Semakin Besar, Kemampuan Membiayai Pembangunan Berkurang             Perhatikan Belanja Non K/L yang Semakin Membesar             GBHN Isu Elite Politik Saja             Kepentingan Politik Lebih Menonjol