Antara Kartel Politik dan Teriakan 'Syiah Laknatullah'
Gigin Praginanto
Pengamat Kebijakan Publik, Wartawan Senior
berita
Berpikir Merdeka
Ilustrasi muid/watyutink.com 12 August 2020 15:30
Watyutink.com - Apa motivasi sesungguhnya penyerangan oleh sekitar 100 manusia laknat itu ke acara sangat penting bagi kehidupan sebuah keluarga. Benarkah karena didorong oleh fanatisme agama? Atau sesungguhnya sebuah operasi politik untuk melakukan pembunuhan karakter terhadap kotak kosong, yang menurut survei Iwan Fals, paling populer dalam Pilwakot Solo tahun ini.

Mereka berlagak seolah punya izin dari Tuhan untuk mengobrak-abrik rumah orang yang sedang hajatan. Mereka bahkan menggebuki tuan rumah sampai babak belur, dan merusak berbagai barang di dalam dan di luar rumah.

Peristiwa itu terjadi di rumah keluarga Habib Umar Assegaf pada Sabtu (8/8/2020) petang di Pasar Kliwon, kota Solo. Penyerangan dilakukan ketika keluarga Assegaf sedang Midodareni, berdoa bersama menjelang pernikahan putrinya. Pembacaan ayat-ayat suci itu mendadak dikacau oleh penyerang yang antara lain berteriak-teriaki "Syiah laknatullah!"

Dilihat dari jumlah penyerang dan korban, peristiwa di atas memang tampak kecil. Namun tak tertutup kemungkinan bahwa peristiwa tersebut terkait dengan sebuah masalah berskala global. Dalam arti, kekerasan tersebut adalah bagian dari perang proxy dua seteru besar yang merupakan representasi utama dunia Islam: Arab Saudi dan Iran.

Paling mengerikan dari perseteruan tersebut, dan sedang menjadi perhatian dunia adalah saling bantai antar proxy mereka di Yemen, Suriah, Irak, Libya, dan berbagai negara lain di Afrika. Kedua musuh bebuyutan itu seolah tak perduli berapa banyak orang Islam tewas dan bangkrut. Mereka seolah sedang memainkan skenario Israel dan para pendukungnya untuk melemahkan Islam dengan politik devide et Impera.

Sangat kasat mata memang, perseteruan Saudi versus Iran telah menimbulkan kerusakan serius pada persatuan bangsa Arab khususnya, dan Islam pada umumnya. Israel pun memanfaatkannya dengan mencaploki tanah Palestina secara agresif. Seolah tinggal tunggu waktu bagi Israel untuk menguasai 'tanah yang dijanjikan' seperti dalam Taurat. Tanah ini meliputi Mesir bagian Utara, sebagian Irak, dan seluruh wilayah Jordania.

Dillihat lebih tinggi lagi, tak tertutup kemungkinan bahwa perseteruan itu sesungguhnya bagian dari geostrategi Amerika dan China. Meski sedang berseteru, kedua superpower ini tak ingin dua kubu besar Islam - Syiah dan Suni - bersatu karena bisa mengancam kepentingannya di dalam dan luar negeri mereka berdua. Ingat, China punya masalah serius dengan kaum Uighur yang ingin membebaskan diri dari China dan menghidupkan lagi negara Turkistan Timur.

Catatan penting lainnya terkait dengan runtuhnya kekuasaan Syah Iran tumbang pada 1979, yang disusul dengan perubahan Iran dari negara sekuler menjadi Islam. Muncul kekhawatiran di dunia Barat bahwa kekuatan Islam akan tumbuh dengan cepat dan bisa menjadi ancaman serius. Hal ini antara lain terungkap dalam tulisan Samuel Huntington "The Clash of Civilisations" dalam majalah Foreign Affairs Tahun 1993.

Setelah runtuhnya Uni Soviet, menurut Huntington, dunia masih akan terbelah. Yaitu antara Barat versus Islam sebagai pengganti Uni Soviet.

Namun bisa saja peristiwa laknat di Solo sesungguhnya hanya terkait dengan politik lokal dan Pilpres 2024. Maklum, dalam pemilihan wali kota mendatang, Solo dihadapkan pada kemungkinan calon tunggal bernama Gibran Rakabuming, putra Presiden Jokowi. Maka, bila nanti benar terjadi, pertama kali dalam sejarah kota Solo ada Pilwakot diikuti oleh kotak kosong

Di atas kertas, Gibran terlalu kuat bagi siapa saja karena hanya PKS yang tak mendukung dirinya. Apalagi Presiden Jokowi terlibat langsung dalam upaya menyingkirkan saingannya. Hal ini tentu saja mengindikasikan menguat dan meluasnya cengkeraman kartel politik di pusat dan daerah, yang sasaran utamanya adalah Pilpres 2024.

Salah satu strategi dari kartel tersebut adalah membangun citra sebagai kubu para pecinta perdamaian dan persatuan bangsa. Maka, tak mengherankan bila penyerangan terhadap pengajian di rumah Habib Umar Assegaf langsung dimanfaatkan untuk berpropaganda, bila nanti kotak kosong yang menang, Solo akan dikuasai oleh kaum laknat penyuka kekerasan.

Propaganda semacam ini sesungguhnya sudah lebih dulu digemakan di tingkat nasional untuk melakukan pembunuhan karakter kaum kritis. Antara lain dengan menyudutkan mereka sebagai kaum intolerans, mau menjadikan Indonesia negara Agama, pendukung Arabisasi dan sebagainya.

Nah, kita lihat saja bagaimana hasilnya nanti. Bila kartel politik yang sedang berkuasa menang lagi, kaum kritis bakal makin banyak menghuni bui. Ekspansi bisnis konglomerat besar bakal makin sulit dibendung, dan banjir TKA dari China kian membludak.

SHARE ON

PILIHAN REDAKSI

close

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF