Berkesadaran Hadapi Masalah Dunia
Amanda Katili Niode, Ph.D.
Manager, Climate Reality Indonesia
berita
Berpikir Merdeka
Ilustrasi muid/ watyutink.com 08 May 2021 11:10
Watyutink.com - Penghuni Bumi kini sedang ditempa dan ditimpa gelombang masalah yang nampaknya tiada henti. Pandemi COVID-19 setidaknya telah menewaskan 7 juta penduduk dunia, demikian analisis terbaru Institute for Health Metrics and Evaluation di Amerika Serikat. Sebanyak 700 juta orang mengalami kelaparan, dan pada tahun 2020 saja 50 juta orang terkena musibah ganda, bencana iklim dan pandemi.

Belum lagi hilangnya jam kerja pada 2020, yang menurut lnternational Labour Organization setara dengan 255 juta pekerjaan penuh waktu. Ini menyebabkan hilangnya pendapatan tenaga kerja sebesar 3,7 triliun dolar AS, hampir sama dengan nilai ekonomi Britania Raya.

Krisis yang terus melanda membuat warga dunia berusaha menemukan solusi, dan bertindak mengatasinya. Contoh dalam pandemi adalah protokol kesehatan dan vaksinasi, sedangkan dalam krisis iklim, ada Persetujuan Paris tentang Perubahan Iklim.

Akan tetapi ada hal yang perlu lebih mendapatkan perhatian, yaitu reaksi emosional mereka yang terdampak berbagai krisis sehingga memengaruhi kesehatan fisik dan mental masing-masing.

Medical News Today menulis, level kecemasan di Amerika Serikat, Inggris, Australia, dan Kanada meningkat sebesar 14% akibat pandemi. Penting untuk diperhatikan, ternyata pandemi tidak terlalu memengaruhi kesehatan mental orang dewasa yang lebih tua, namun sangat berdampak pada dewasa muda. Kekhawatiran tentang krisis iklim dan dampaknya juga lebih banyak pada generasi muda, seperti dilansir dari studi Universitas George Mason dan Yale di Amerika.

Emosi negatif timbul, termasuk kemarahan dan ketidakberdayaan, karena berbagai krisis sangat rumit penyelesaiannya, sehingga pikiran manusia yang sudah dipenuhi ragam masalah, menjadi susah untuk menerima dan mencernanya.

Sebuah langkah positif yang dapat diterapkan untuk menjaga kesehatan fisik dan mental seseorang dalam menghadapi berbagai masalah dunia, adalah menerapkan kondisi berkesadaran (mindfulness).

Arida Wahyuni, pelatih berkesadaran dan pendiri Jakarta Mindfulness mengutip pendapat Profesor John Kabat Zinn. Mindfulness adalah menyadari dan memberikan perhatian utuh atas semua kejadian yang kita alami setiap saat tanpa penolakan, penghakiman atau prasangka. Karenanya, berkesadaran berarti kita hadir penuh, di sini, kini, dan di setiap saat kehidupan.

Manfaat melatih berkesadaran yang sudah terbukti dalam penelitian ilmiah, di antaranya mengurangi berpikir secara berlebihan dan berpikiran negatif, mengurangi stres dan kecemasan, serta membantu pengembangan kecerdasan emosi. Selain itu juga meningkatkan kualitas hubungan dengan sesama, maupun meningkatkan kesehatan fisik dan mental.

Menurut Arida, mindfulness dapat dipelajari, dilatih dan ditekuni dengan berbagai teknik, secara formal melalui meditasi, maupun secara  informal tanpa meditasi.

Teknik informal dalam berkesadaran termasuk menikmati alam, berjalan di atas rerumputan tanpa alas kaki, beristirahat sebentar di setiap jam kegiatan, menarik napas tiga kali, berolah raga, dan menghirup wangi bunga,  

Beberapa teknik formal di antaranya jeda dari kegiatan yang sedang dilakukan, praktik teknik bernapas, latihan menyadari sensasi tubuh, meditasi cinta kasih, serta memasak dan makan dengan berkesadaran.

Gyan Ravindranath, salah satu pendiri Tasty Teaching, sebuah start up internasional, yakin bahwa kesehatan mental dapat dijaga melalui Memasak maupun Makan dengan Berkesadaran. Makanan merupakan alat untuk membina komunitas, empati, dan pola pikir yang tangguh melalui aktivitas sederhana dan santai seperti minum teh ataupun menguleni dan menggulung adonan untuk membuat roti.

Media ilmiah maupun media populer di dunia secara positif telah membahas peran mindfulness agar manusia dapat bertahan secara fisik dan mental dalam menghadapi masalah dunia. Di antaranya Majalah Forbes, Glamour, International Journal of Mental Health and Addiction, dan The New York Times.

Karenanya, tidak ada salahnya membentengi diri kita untuk tidak lengah dalam berkesadaran. Bahkan pada abad keenam Sebelum Masehi pun, Lao Tzu, filsuf dan penyair Cina kuno sudah mengatakan: “Jika anda depresi, anda hidup di masa lalu. Jika anda cemas, anda hidup di masa depan. Jika anda damai, anda hidup di saat ini.”

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF