Bumi Sehat, Hidup Sehat
Amanda Katili Niode, Ph.D.
Manager, Climate Reality Indonesia
berita
Berpikir Merdeka
Ilustrasi muid/watyutink.com 06 June 2020 13:50
Watyutink.com - Hari Lingkungan Hidup Sedunia yang diperingati setiap 5 Juni, tahun ini bertema “Time for Nature,” Saatnya untuk Alam. Perayaan tersebut menjadi tonggak penting dalam perjalanan meningkatkan kesadaran tentang makna keanekaragaman hayati dan bagaimana kesehatannya sangat penting untuk mempertahankan kehidupan di Bumi.

Ekonomi global sangat terkait dengan keanekaragaman hayati, karena nilai yang diberikannya sekitar 125-140 triliun dolar AS per tahun, lebih dari satu setengah kali ukuran Produk Domestik Bruto global.

Keanekaragaman Hayati, disebut juga biodiversitas, mencakup sekitar 8 juta spesies di planet ini, mulai dari tumbuhan dan hewan hingga jamur dan bakteri, juga ekosistem yang menaunginya, seperti lautan, hutan, lingkungan gunung dan terumbu karang, serta ragam genetik di dalamnya.

Ekosistem yang sehat, kaya dengan keanekaragaman hayati, merupakan hal mendasar bagi keberadaan manusia, karena  menopang kehidupan manusia dalam berbagai cara, membersihkan udara, memurnikan air, memastikan ketersediaan makanan bergizi, obat-obatan berbasis alam, dan bahan baku, serta mengurangi terjadinya bencana.

Sayangnya, biodiversitas di seluruh dunia terus menurun, sehingga secara signifikan mengurangi kapasitas alam untuk berkontribusi pada kesejahteraan manusia. Menurut Badan PBB untuk Lingkungan Hidup (UNEP), penyebab utama  menurunnya keanekaragaman hayati adalah perubahan tata guna lahan, ekspolitasi hewan dan tumbuhan secara berlebihan, krisis Iklim, pencemaran, dan invasi spesies asing.

Ribuan kegiatan dilaksanakan secara digital di seluruh dunia dalam rangka Hari Lingkungan Hidup sedunia dengan tujuan meningkatkan kesadaran dan kegiatan melindungi keanekaragaman hayati.

Adalah penting untuk terus-menerus mencatat berbagai upaya yang dilakukan untuk membuktikan bahwa Indonesia adalah salah satu Negara Megabiodiversitas di dunia.

“Bumi Sehat, Hidup Sehat – Saatnya untuk Alam,” sebuah zoominar yang diselenggarakan Climate Reality Indonesia bersama Yayasan Alam Sehat Lestari dan Keling Kumang Group, menggali informasi tentang sebagian upaya yang dilaksanakan di Kalimantan.

Yayasan Alam Sehat Lestari (ASRI) mendampingi masyarakat di kawasan Taman Nasional Gunung Palung, Kalimantan Barat, dengan konsep manusia tidak dapat hidup sehat tanpa Bumi yang sehat. Tim ASRI menghabiskan waktu 400 jam duduk bersama dan mendengarkan masyarakat untuk kemudian menentukan program yang dilaksanakan. Sejak didirikan pada tahun 2007, ASRI telah memberikan layanan kesehatan berkualitas dan terjangkau kepada lebih dari 32.000 anggota masyarakat, serta berkontribusi terhadap penurunan jumlah penebangan liar hingga 89% di kawasan Taman Nasional Gunung Palung.

Sebanyak 215.000 bibit pohon dari sekitar 100 jenis telah ditanam di kawasan tersebut dengan tingkat hidup 70-90%, sedangkan 21.000 Ha hutan sekunder tumbuh kembali dan 30.000 pohon terlindungi melalui program tukar chainsaw dengan penebang hutan.

Sementara itu, juga di Kalimantan Barat, Keling Kumang Group (KKG) yang merupakan sebuah perkumpulan sebagai respon kebutuhan anggota unit bisnis, mengacu pada kinerja sosial, kinerja finansial dan kinerja lingkungan. KKG yang unit pertamanya didirikan 27 tahun lalu menyadari bahwa keberhasilan pemberdayaan adalah bila dapat tercermin dalam tiga kinerja utama tersebut.

Beberapa program lingkungan KKG, yang beranggotakan hampir 200.000 orang, termasuk Unit Pengembangan Usaha dengan produk seperti beras hitam tradisional, sabun yang terbuat dari daun aras, serta madu asli kelulut. Kakao Konservasi dan Sekolah Lapang Kelapa sawit diadakan untuk mendampingi petani agar dapat mengikuti standar internasional ramah lingkungan.KKG juga membeli lahan luas guna Konservasi Hutan dan Hewan Endemik dalam melindungi satwa langka Owa Kalimantan (Hylobates muelleri).

ASRI dan KKG adalah dua dari banyak contoh di Indonesia sebagai ilustrasi dari pesan yang digaungkan oleh Direktur Eksekutif UNEP pada Hari Lingkungan Hidup Sedunia, yaitu melindungi alam yang menopang manusia dan mengangkat masyarakat keluar dari kemiskinan. Untuk itu, investasi dan kebijakan harus fokus pada "infrastruktur alam" seperti lahan basah, hutan, dan hutan bakau untuk mengurangi dampak iklim dan mengembalikan keanekaragaman hayati.

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF