'Curi Start' Menggapai Peluang Pasar di Era Pandemi
Bambang Prasetya, Prof., Dr., Ir., M.Sc.
Peneliti Senior, Pusribang Badan Standarisasi Nasional (BSN), Mantan Kepala BSN
berita
Berpikir Merdeka
Ilustrasi muid/watyutink.com 26 June 2020 10:00
Watyutink.com - "We are not alone," kita tidak sendirian. Ungkapan ini sering menjadi kalimat pembuka para pejabat publik untuk  mengawali pembicaraan di berbagai forum. Meski kadang terkesan "excuse", tapi sangat diyakini bahwa ungkapan itu "menenangkan publik". Fakta telah menunjukkan bahwa hampir semua negara-negara di dunia saat ini bergulat melawan virus Corona COVID-19. Berbagai upaya penanganan baik langsung terhadap aspek kesehatan, tetapi juga berbagai strategi untuk segera mencapai recovery kondisi sosial ekonomi. 

Hampir setiap negara di awal mengalami kesulitan menghadapi pandemi ini disebabkan oleh karena kondisi sangat begitu dinamis dan sulit diprediksi. Perubahannya begitu cepat (“volatile world”) sehingga koordinasi dan pengambilan keputusan umumnya tidak dapat mengejar untuk antisipasi. Negara manapun belum mempunyai regulasi yang tepat khususnya di saat awal pandemi. Pendekatan penanggulangan  tidak sekedar  menanganai krisis seperti biasanya (beyond crisis management). 

Berbagai perkembangan posisi pandemi telah dilaporkan dan menunjukkan progres yang semakin membaik, meskipun belum ada kepastian apakah puncak pandemi benar benar sudah dilewati. Disi lain, tidak kalah pentingnya adalah bagaimana menata perokonomian khususnya UMKM karena di sinilah tempat sekitar 80 persen penduduk mengandalkan hidupnya. Data kuantifikasi seberapa besar dampak pandemi masih belum tersedia secara komprehensif. Berkaca pada kondisi global, berdasarkan survei di 109 negara yang dilakukan bulan Maret dan Juni 2020, telah dilaporkan International Trade Center (ITC). Secara umum dapat disimpulkan bahwa UMKM relatif lebih terkena dampaknya ketimbang perusahaan besar. 

Kondisi ini benar-benar bertolak belakang dengan krisis sebelumnya di tahun 1998. Di antara belahan bumi yang dilaporkan ITC yang terdampak parah adalah negara negara di Afrika dan di Amerika latin.  Hal-hal yang memburuk dampak pandemi ke UMKM adalah menyangkut akses informasi, aspek terlambatnya antipasi, dan managemen pemerintah lokal. Hal ini juga terjadi di Indonesia pada saat awal pandemi. Sekarang dapat dilihat peta negara mana mengeluarkan insentif apa terhadap UMKM dapat dilihat di situs world bank. Untuk kondisi Indonesia, seperti kebanyakan negara lain dukungan finansial pemerintah adalah platform yang paling mendasar digulirkan. Banyak insentif yang telah digulirkan pemerintah untuk mendorong kegiatan ekomi UMKM berjalan.  

Sambil tetap terus mendukung penanganan pandemi baik secara langsung maun tidak langsung, perlu juga kita menatap ke depan untuk lebih menyiapkan UMKM kita lebih berdaya saing. Melihat kesuksesan di masa pendemi Indonesia mampu mengembangkan berbagai produk alat pelindung diri (APD) dan mampu ekspor ke USA dan sebentar lagi ke negera Singapore, Taiwan, Hong Kong dan lain-lain. Ini benar-benar energi positif agar kita untuk lebih keras lagi mendorong kemapuan dalam negeri menembus pasar. Keberhasilan pengembangan APD, seperti baju hazmat yang telah lolos uji standar ISO 16604 diharapkan akan menginspirasi anak negeri untuk merebut pasar secara dini. 

Dengan kemapuan produksi sebanyak 17 juta unit per bulan dan ditambah kegiatan pendukung di transportasi, logistik, dan industri jasa yang terkait, maka dipastikan dapat menampung tenaga kerja yang cukup mengurangi dampak Tsunami PHK. Kesuksesan ini sekaligus memberi tingkat keyakinan kepada kita bahwa  "setiap krisis akan melahirkan peluang".  Peluang di sektor kesehatan akan lebih terbuka karena terjadi pergeseran pola hidup masyarakat yang lebih peduli dengan aspek kesehatan dan kebugaran. Di sini menimbulkan inovasi dari hulu sampai hilir, baik yang lansung maupun pendukungnnya.

Untuk meningkat peluang pasar dalam negeri perlu dikembangkan secara sistematis program penguatan kemandirian bahan baku. Sekitar 30 persen impor nonmigas Indonesia berasal dari RRT, di antaranya yang  paling besar adalah kelompok bahan baku dan bahan penolong. Keregantungan bahan baku industri telah memukul industri ketika terjadi pandemi. 

Namun untuk mengembangkan bahan baku tidak mudah karena suplai ke industri sangat ditentukan oleh kuantitas,  kualitas dan kontinuitas suplai. Di sinilah diperlukan standardisasi untuk dijadikan acuan pagi pemasok lokal. Standar ini juga dapat dijadikan alat untuk mengelola regulasi impor secara lebih berpihak pada industri dalam negeri. 

Di sisi lain, bagi industri pengguna akan diberi waktu untuk melakukan  penyesuaian dengan proses manufaktur dan juga kelayakan teknis lainnya termasuk ekonomi. Dampak dari ini semua, maka diharapkan akan tercipta "supply chain" baru, lapangan pekerjaan, memperkuat struktur industri nasional dan juga mengundang peneliti dan pengembang teknologi  untuk turut mengembangkan berbagai aspek mulai dari proses, manufaktur, mengembangan produk turunan dan laboratorium pengujian. 

Terkait dengan pengembangan UMKM, maka adanya pandemi telah terbukti banyak mendorong inovasi yang mampu menciptakan peluang baru. Di samping dukungan insentif finasial, yang tidak kalah pentingnya adalah dukungan akses ke sumber infomasi baik pasar, regulasi, tempat konsultasi IPTEK “know how”. 

Di level SDM, diperlukan penguatan kapasitas dalam penggunaan daring dan marketing on line (pemanfaatan teknologi  berbasis digital) untuk pemasaran, komunikasi dengan mitra dan akses informasi. Mengambil contoh kesuksesan menembus pasar ekspor maupun dalam negeri dari beberapa "role model" binaan UMKM oleh kantor-kantor layanan teknis BSN di Palembang, Makasar, Surabaya, Pekan Baru dan Bandung, dapat disimpulkan bahwa "passion" pendampingan untuk UMKM masih diperlukan. Dan budaya mem"proyek"kan UMKM harus ditinggalkan.

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF