Davos 2020 Berniat Menyelamatkan Bumi
Amanda Katili Niode, Ph.D.
Manager, Climate Reality Indonesia
berita
Berpikir Merdeka
Ilustrasi muid/watyutink.com 18 January 2020 10:00
Watyutink.com - World Economic Forum di Davos, Swiss merupakan acara tahunan bergengsi yang mempertemukan tokoh-tokoh di dunia bisnis, pemerintahan, organisasi internasional, masyarakat sipil, dan akademisi, untuk bersama mencapai dampak global yang positif.

Forum tersebut menekankan konsep pemangku kepentingan, dalam arti tidak ada satu lembaga atau individu manapun yang dapat mengatasi tantangan ekonomi, lingkungan, sosial dan teknologi, dari dunia yang rumit dan penuh ketergantungan ini.

Beberapa hari lagi, pada 20-24 Januari 2020 adalah pertemuan ke-50 World Economic Forum, bertema “Stakeholders for a Cohesive and Sustainable World” dengan 3000 peserta dari seluruh dunia. Lebih dari 700 tokoh akan berbicara di sana dan setidaknya 200 sesi dapat diikuti melalui webcast.

Davos 2020 akan mengangkat tujuh topik utama, yaitu Ekonomi yang Lebih Adil, Teknologi untuk Kebaikan, Masa Depan Pekerjaan, Masa Depan yang Sehat, Bisnis yang Lebih Baik, Melampaui Geopolitik, serta Bagaimana Cara Menyelamatkan Bumi.

Topik terakhir dianggap penting, apalagi karena “Global Risks Report 2020” menyimpulkan bahwa keprihatinan utama para pemimpin bisnis, LSM, akademisi dan tokoh lain, dalam jaringan World Economic Forum, adalah kegagalan dalam mitigasi dan adaptasi perubahan iklim. Mereka menempatkan krisis iklim sebagai risiko nomor satu berdasarkan dampak dan nomor dua berdasarkan kemungkinan selama 10 tahun ke depan.

Davos 2020 membantu pemerintah dan lembaga internasional dalam melacak kemajuan Persetujuan Paris tentang perubahan iklim maupun Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (“Sustainable Development Goals/SDGs”), serta juga memfasilitasi diskusi tentang teknologi dan tata kelola perdagangan.

Dalam usaha untuk menyelamatkan bumi, yang memang sedang kritis, World Economic Forum, yang sudah berjalan setengah abad ini,  juga akan membahas cara memobilisasi bisnis untuk merespons risiko perubahan iklim dan memastikan agar langkah-langkah untuk melindungi keanekaragaman hayati dapat mencapai seluruh ranah hutan dan lautan.

Sesuai konsep pemangku kepentingan di Davos, maka sebuah program bernama “Climate Initiatives” dikembangkan sebagai platform global untuk membantu meningkatkan ambisi dan mempercepat aksi iklim melalui kemitraan berbagai pemangku kepentingan.

Ada tiga bidang utama yang merupakan fokus program itu. Pertama, meningkatkan ambisi politik bagi pemerintah dan bisnis  agar memiliki rencana untuk mengurangi emisi dan membangun ketahanan iklim sejalan dengan rekomendasi ilmiah. Kedua, mempercepat perubahan transformasional untuk memastikan bisnis memainkan peran mereka dalam mengatasi perubahan iklim. Ketiga, menciptakan tata kelola yang efektif dan mekanisme pasar yang mendorong investasi untuk membangun ekonomi rendah karbon.

World Economic Forum mendapat kritikan tajam karena pertemuan di Davos dianggap tidak ramah lingkungan dengan masuk keluarnya pesawat pribadi serta penggunaan sumber daya yang berlebihan. Karenanya penyelenggara berusaha mengurangi emisi gas rumah kaca (penyebab perubahan iklim) melalui berbagai cara, termasuk menyajikan pangan lokal nabati, menggunakan kendaraan listrik maupun hibrid, menerapkan penggunaan energi surya dan panas bumi, serta mengurangi limbah.

Untuk berbagai kegiatan yang tidak dapat dikurangi emisinya maka pengelola melakukan “offset” yaitu mengimbangi dengan berinvestasi dalam skema yang mengurangi tingkat emisi di atmosfer. Sebagai contoh, memberikan pendanaan untuk kompor efisien di China, Mali, India dan Afrika Selatan, instalasi biogas di pertanian lokal di Swiss dan pemulihan lahan gambut di area pertemuan.

Davos 2020 mengangkat isu krisis iklim yang memang harus terus menerus dikumandangkan. Beberapa tokoh dunia yang dijadwalkan hadir untuk ini termasuk Greta Thunberg, Al Gore, dan Pangeran Albert II dari Monaco.

Namun, upaya menyelamatkan Bumi tidak dapat dilakukan hanya dalam pertemuan sesaat, karena bagaimanapun juga tindakan global harus dilaksanakan untuk meningkatkan rencana aksi nasional berbagai negara di dunia. Selain itu, solusi nyata untuk mengurangi emisi dan membangun ketahanan terhadap dampak krisis iklim adalah prioritas utama semua pihak.

SHARE ON
close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Tauhid Ahmad

Executive Director INDEF

Agus Herta Sumarto

Peneliti INDEF

Deniey Adi Purwanto

Peneliti INDEF