Halusinasi di Tengah Resesi Tidak Mengubah Kenyataan
Anthony Budiawan
Managing Director Political Economy and Policy Studies (PEPS)
berita
Berpikir Merdeka
Ilustrasi muid/watyutink.com 14 August 2020 11:05
Watyutink.com - Indonesia masuk resesi pada Q2/2020 (kuartal2/2020), karena pertumbuhan ekonomi sudah negatif selama dua kuartal berturut-turut, dihitung berdasarkan Quarter-on-Quarter-Seasonally Adjusted (QoQ-SA). Yaitu, kuartal saat ini dibandingkan dengan kuartal sebelumnya, setelah dikoreksi faktor musiman.

Pertumbuhan Q1/2020 dibandingkan Q4/2019 minus 0,7 persen. Sedangkan pertumbuhan Q2/2020 dibandingkan Q1/2020 minus 6,9 persen. Perhitungan untuk menentukan resesi seperti ini, QoQ-SA, berlaku universal secara internasional.

Tetapi, pemerintah mengatakan Indonesia masih belum resesi. Karena pemerintah menggunakan definisi resesi sendiri, yaitu pertumbuhan kuartal saat ini dibandingkan kuartal sama tahun lalu (YoY). Berdasakan perhitungan ini maka pertumbuhan Q1/2020 terhadap Q1/2019 positif 2,97 persen. Dan pertumbuhan Q2/2020 terhadap Q2/2019 minus 5,32 persen. Oleh karena itu, pemerintah mengatakan masih belum resesi karena baru satu kuartal negatif.

Pemerintah sepertinya tidak ingin ada stigma Indonesia masuk resesi. Untuk itu, pemerintah berusaha meyakinkan publik kalau ekonomi pada Q3/2020 bisa lebih baik dari Q3/2019 (YoY). Pemerintah bahkan berharap pertumbuhan Q3/2020 bisa positif sehingga dapat terhindar dari kata resesi yang nampaknya menjadi momok bagi pemerintah.

Berharap adalah satu hal. Tetapi menghadapi realita merupakan keharusan. Berharap dan berhalusinasi tidak membuat impian kosong menjadi kenyataan. Realitanya, kondisi ekonomi saat ini sedang sulit. Bukan hanya di Indonesia, tapi melanda seluruh dunia. Pertanyaannya, dari mana sumber pertumbuhan pada Q3/2020 tersebut diperoleh sehingga bisa positif?

Apakah dari konsumsi masyarakat? Dari investasi? Atau dari ekspor? Atau dari belanja negara melalui pelebaran defisit anggaran?

Pemerintah sepertinya akan sulit menjelaskan bagaimana bisa mencapai petumbuhan positif pada Q3/2020 (YoY) ini. Karena semua sumber pertumbuhan sedang terpuruk. Secara hitung-hitungan, sulit masuk akal. Sedangkan ekonomi tidak seperti abracadabra.

Yang lebih parah, secara logika pun sulit dipahami. Bagaimana mungkin ekonomi pada Q3/2020 dapat lebih baik dari Q3/2019, di mana kehidupan sosial masyarakat tahun 2020 ini penuh tekanan dan tidak berani aktif bersosialisasi di tengah kasus virus yang masih terus meningkat? Sedangkan kondisi kehidupan masyarakat tahun lalu sangat bebas dan aktif karena tidak ada ketakutan tertular virus yang mematikan.

Ditambah, semua lembaga keuangan saat ini sedang sakit, sedang menghadapi masalah likuiditas, sehingga kemampuan memberi kredit sangat terbatas? Bahkan banyak dari mereka sedang menantikan suntikan likuiditas dari pemerintah.

Di lain pihak, kasus Corona di luar negeri masih belum reda dengan terjadinya penularan gelombang kedua yang mengharuskan beberapa negara melakukan pembatasan sosial atau lockdown lagi. Kondisi ini tentu saja membuat ekspor dan sektor pariwisata masih terpuruk, jauh lebih rendah dibandingkan Q3/2019.

Berdasarkan hitung-hitungan, PDB (nilai nominal) pada Q2/2019 tercatat Rp3.972,4 triliun. Sedangkan PDB (nilai nominal) pada Q2/2020 turun menjadi menjadi Rp3.687,7 triliun, lebih rendah Rp284,7 trliun. PDB (nilai nominal) Q3/2019 bahkan lebih besar lagi, yaitu Rp4.067,8 triliun. Artinya, ada gap Rp380,1 triliun antara PDB (nilai nominal) Q3/2019 dengan PDB (nilai nominal) Q2/2020 (Rp4.067,8 triliun – Rp Rp3.687,7 triliun).

Artinya, untuk mendapatkan pertumbuhan sekitar 0 persen saja, maka PDB (nilai nominal) Q3/2020 harus naik Rp380,1 triliun dibandingkan Q2/2020 (asumsi, tingkat harga stabil: indeks harga konsumen sama). Dari mana bisa diperoleh dana tersebut?

Sedangkan ekspor masih stagnan dan cenderung turun karena resesi global sedang mencengkeram dunia. Konsumsi masyarakat juga cenderung turun seiring maraknya PHK, pembatasan sosial baik yang diwajibkan maupun yang sukarela, di samping masyarakat juga harus berhemat untuk menyiapkan keadaan sulit, sedia payung sebelum hujan.

Investasi? Mustahil bisa meningkat. Saat ini, semua sektor industri mengalami kelebihan produksi. Saat ini, mereka beroperasi jauh di bawah kapasitas produksi terpasang. Yang akan terjadi malah sebaliknya, PHK akan marak di mana-mana. Investasi pada Q2/2020 turun Rp109,6 triliun dibandingkan kuartal sama tahun 2019 (Q2/2019), YoY. Investasi pada Q3/2020 sepertinya masih akan mengikuti tren turun.

Jadi, berharap tidak akan merubah fakta bahwa ekonomi sedang dalam kondisi sulit. Baik dilihat berdasarkan hitung-hitungan objektif maupun secara logika.

Sebaiknya pemerintah segera menyiapkan kebijakan antisipasi agar semua rakyat bisa terlindungi dari dampak resesi ini: bisa terlindungi dari kesulitan keuangan dan bisa makan.

SHARE ON

PILIHAN REDAKSI

close

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF