Kadrun-Cebong Bersatulah, Musuhi Bersama Pengangguran!
Erros Djarot
Budayawan
berita
Berpikir Merdeka
Ilustrasi muid/watyutink.com 09 July 2020 12:45
Watyutink.com - Sangat menyedihkan membaca berita, Lion Air terpaksa melepas 3000 karyawannya. Terbayang bagaimana para karyawan yang menganggur tanpa penghasilan harus menghidupi keluarganya. Ditambah lagi beban gerak mereka sekeluarga dibatasi oleh tata laksana menjalani kehidupan di saat wabah pandemi Covid-19 menjadi ancaman serius. Pertanyaannya, berapa banyak lagi keluarga yang bakal mengalami nasib sama seperti yang dialami keluarga 3000 karyawan Lion Air?

Dari berbagai pemberitaan, ternyata banyak keluarga buruh di Jawa Barat pun menghadapi hal yang sama. Pasalnya, pabrik tempat mereka bekerja memilih untuk tak lagi beroperasi. Para pengusaha merasa tak lagi mampu berproduksi secara ekonomis dikarenakan upah buruh dirasakan terlalu tinggi. Hal yang sama walau lebih kecil, dalam pantauan bakal terjadi juga di Jawa Timur dan daerah lain. 

Bisa dibayangkan, berapa ribu keluarga lagi di Jawa Barat yang bakal kehilangan nafkah mereka ketika pabrik dinyatakan tak lagi beroperasi. Hal ini tentunya juga terjadi bukan hanya di Jawa Barat. Masalah PHK dan luapan pengangguran bakal terjadi di mana-mana dan di berbagai bidang usaha. Gempuran virus Covid-19 yang sangat dahsyat membuat kehidupan seakan berhenti. Dampaknya cukup serius bagi kalangan dunia usaha.

Dunia hiburan dan dunia kuliner yang biasanya pada setiap gocangan ekonomi maupun dalam suasana krisis selalu masih tetap moncer, kali ini mendapat pukulan sangat berat. Dunia kuliner dan hiburan redup total, kecuali dilakukan secara online dan bersifat terbatas melayani pelanggan kelas menengah atas. Para pedagang penjaja makanan pinggir jalan pun merasakan kelesuan ekonomi yang sangat signifikan. 

Untuk mendapat gambaran yang lebih jelas, beberapa hari ini saya sengaja mendatangi sejumlah mall di hampir seluruh sudut kota Jakarta. Bukan untuk berbelanja, tapi sekadar ingin melihat dengan mata kepala sendiri apa yang dikatakan beberapa kawan: suasananya sangat menyedihkan. Walau pun larangan untuk tidak beroperasi sudah dicabut, dan masyarakat diperbolehkan kembali mengunjungi, suasana kehidupan di dalam mall relatif sepi. 

Banyak gerai-gerai kecil, sedang, dan bahkan toko-toko besar berkelas juga tutup. Pemandangan di dalam mall sangat jauh berbeda dibanding dengan suasana sebelum adanya serangan virus Corona Covid-19. Sekalipun sudah dibuka, sejumlah toko besar dengan merek dagang yang sudah tak asing lagi bagi konsumen, berada dalam kondisi lengang. Hanya beberapa gelintir pembelanja yang jumlahnya kalah banyak dibanding para pekerja yang berjaga.

Dari pemandangan yang sangat memilukan hati ini, terbayang berapa ribu karyawan yang terpaksa harus tinggal di rumah menunggu panggilan untuk kembali kerja. Bahkan tidak sedikit yang dirumahkan untuk selamanya dikarenakan sang majikan tak sanggup meneruskan usahanya. Bahkan mereka yang sekarang tengah aktif bekerja pun, merasa tak aman dan ketar-ketir mengkhawatirkan datangnya kemungkinan nasib yang sama akan menimpa mereka. 

Dengan cukup banyaknya gerai dan sejumlah toko yang tutup, dapat dipastikan luapan jumlah pengangguran merupakan keniscayaan yang tak terhindarkan lagi. Sehingga ketika membayangkan ribuan buruh, pekerja di sejumah tempat usaha, para penjual jasa yang sepi order, dan pedagang kecil yang sepi pembeli, keresahan yang bakal ditimbulkan oleh luapan pengangguran merupakan momok yang sangat menakutkan. Sangat perlu dicarikan pemecahan dan jalan keluarnya agar tak terjadi hal-hal yang tidak kita inginkan.

Belum lagi datangnya limpahan para calon penganggur yang berasal dari para siswa dan mahasiswa yang telah merampungkan studinya. Lapangan kerja yang tergerus oleh keganasan Covid-19 sehingga mengecil dan tak berkembang maupun meluas, merupakan masalah yang bakal sangat serius dihadapi bangsa ini ke depan. Dengan kata lain, laju pertumbuhan angka pengangguran, merupakan realita yang pasti datang dan harus kita hadapi. Itulah sebabnya mengapa masalah pengangguran harus diposisikan menjadi musuh bersama sebagai pilihan langkah yang strategis. 

Yang memprihatinkan dan sangat menyedihkan, para elite kita, terutama yang sibuk di dunia politik, sebagian besar seakan tak sedikit pun mencerminkan mereka berempati akan masalah pengangguran yang sangat serius ini. Padahal, menjadikan pengangguran sebagai musuh bersama adalah langkah sangat mendesak untuk dilakukan secara bersama dengan semangat gotong royong.

Bukan lagi malah menyoal masalah gotong royong (Eka Sila) yang diperdebatkan ngalor ngidur secara ngawur dan asal cuap mengumbar adab. Inilah justru saat untuk meng-implementasikan apa yang belakangan ini diperdebatkan sehingga menguras tenaga dan pikiran untuk hal yang sia-sia. Karena yang tumbuh malah menggelembungnya permusuhan dari perbedaan yang lahir dari salah paham atau memahami sesuatu secara salah hingga melahirkan paham yang salah!

Berhentilah memperdebatkan sesuatu yang jelas-jelas dan nyata sudah final! Pacasila sudah final! Pilpres sudah masa lalu dan hasilnya sudah final. Mengapa gemar berkutat di lingkaran yang melingkar dan berputar di tempat. Dan pada saat bergerak maju berputar dan bertemu kembali di titik awal yang sama, kembali yang dipersoalkan dan diperdebatkan masalah sama yang membuat kita melingkar dan berputar di tempat. Itulah kerja sejumlah pemimpin kita di wilayah politik.

Tak mengherankan bila kaum muda dan mayoritas rakyat merasa tak membutuhkan kehadiran mereka. Tanpa campur tangan para pemimpin seolah secara auoto pilot kehidupan akan berjalan lebih baik. Kita sudah sedikit terhibur ketika menyaksikan Pak Presiden, sebagai Kepala Pemerintah, marah-marah kepada para pembantunya. Tapi rasanya, masih diperlukan tampilnya Pak Presiden sebagai kepala negara yang memberi arahan dan pencerahan kepada rakyat bangsanya sebagai Kepala Negara.

Sebagai Kepala Negara apakah akan tetap membiarkan Indonesia seolah hanya dihuni dua mahluk aneh yang diberi stempel sebagai si ‘Kadrun’ dan si ‘Cebong’? Apakah akan membiarkan pemimpin komunitas agama atau aliran yang satu menyerang dan menjelek-jelekan yang lainnya? Akankah tetap dibiarkan para koruptor gentayangan dan raibnya tersangka tindak kriminal begitu saja menghilang dari layar kehidupan karena dibeking aparat dan politisi? 

Mau tetap dibiarkan bagi-bagi rezeki antar fungsionaris dan aktivis partai di wilayah APBN dan institusi BUMN? Mau terus dibiarkan anak Bapak pejabat ini Bapak petinggi itu, menguasai semua bidang usaha melalui jalur kekuasaan? Apa memang disengaja ada pembiaran seorang pemimpin dan keluarganya untuk membangun dinasti politik dan ekonomi lewat feodalisme dan kaidah-garis monarki? Untuk menjawab itu semua, inilah saatnya Bapak Presiden RI sebagai Kepala Negara menyampaikan arahan dan pencerahan kepada rakyat bangsanya; apa, siapa, bagaimana, dan mau dibawa ke mana kita sebagai bangsa dan negeri ini?  

Agar rakyat bangsanya mengenal siapa kawan dan siapa musuh sesungguh dan sebenarnya. Bukan kumpulan manusia yang berstempelkan Kadrun dan Cebong yang dipelihara untuk terus saling berhadapan dan saling caci maki dengan rasa permusuhan yang tinggi. Padahal pada komunitas keduanya merupakan kumpulan manusia yang mayoritasnya berpotensi untuk menjadi calon pengangguran. 

Sebagai komunitas bangsa, sudah saatnya kita kembali dalam kesadaran akal sehat. Kaum Kadrun dan Cebong bersatulah. Rakyat bersatu baru bisa memenangkan sesuatu. Termasuk membebaskan bangsa ini dari bahaya pengangguran dengan cara bergotong royong. Sebaiknya ancaman pengangguran jadikan sebagai musuh bersama yang sesungguhnya!

Dengan rakyat bersatu, bukan hanya mampu membebaskan diri dari pengangguran, tapi berpotensi dan mampu membuat para pemimpin dan para elite-konglomerat, menjadi pengangguran! Kekuatan itu adanya ketika rakyat bersatu dalam semangat gotong royong! 

Masih mau diperdebatkan?

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Budi Arie Setiadi

Wakil Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Indonesia

Edgar Ekaputra

Pakar Industri Keuangan dan Ekonomi, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis UI

Lia KIan, Dr.

Staf Khusus Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila