Kebijakan Moneter Longgar, Pemulihan Ekonomi Kelar
Sarwani
Jurnalis Watyutink.com
berita
Berpikir Merdeka
Ilustrasi muid/watyutink.com 05 May 2021 15:30
Watyutink.com – Kerumunan pecah di Pasar Tanah Abang pada Sabtu dan Ahad lalu. Ribuan orang berjubel di gang-gang sempit pertokoan. Mereka membeli berbagai macam barang untuk keperluan Lebaran tahun ini.

Pengunjung yang datang ke Pasar Tanah Abang pada akhir pekan lalu jumlahnya hampir 200 persen dari kapasitas. Jika pada hari biasa sekitar 35 ribu, kali ini mencapai 87-100 ribu orang. Padahal Pemprov DKI Jakarta membatasi kunjungan di suatu tempat selama masa pandemi maksimal 50 persen dari kapasitas.

Tugas pemerintah untuk membatasi, namun masyarakat juga diminta untuk tak menyambangi suatu lokasi yang tampak adanya kerumunan. Jika ingin berbelanja, mengetahui kondisinya lebih atau mendekati 50 persen kapasitas tak perlu memaksa masuk.

Namun kerumunan di Pasar Tanah Abang sudah terjadi. Ada kekhawatiran terjadi penularan massal Covid-19. Semoga saja tidak ada, karena hampir semuanya menggunakan masker. Kalau pun ada, semoga gejalanya tidak menimbulkan keparahan karena bisa jadi mereka berani berkerumun karena sudah mendapatkan vaksinasi.

Berjubelnya pembeli di Pasar Tanah Abang mengkonfirmasi fakta yang tidak dapat dibantah bahwa ekonomi mulai pulih. Memang belum kembali ke masa sebelum pandemi Covid-19 meletup di Tanah Air pada Maret tahun lalu, tetapi kecenderungan pulihnya perekonomian terus berjalan.

Data yang ada juga menunjukkan kunjungan ke mal, supermarket, dan tempat rekreasi mulai meningkat. Masih bersifat lokal dan tempatnya dekat dengan rumah tinggal. Untuk tujuan lebih jauh yang dicapai dengan menggunakan bus, kereta api, dan pesawat belum kelihatan kenaikannya.

Momentum pemulihan ekonomi ini perlu dirawat agar ekonomi benar-benar kembali pulih seperti sebelum resesi tanpa harus menunggu pandemi Covid-19 lenyap sama sekali. Perlu kebijakan yang pas agar akselerasi perbaikan ekonomi tidak berhenti di tengah jalan.

Resesi terjadi karena permintaan tiba-tiba turun, pariwisata, ekspor anjlok. Untuk mengatasinya adalah dengan meningkatkan konsumsi. Konsumsi yang sudah turun dikembalikan pada posisi semula. Ada dua instrumen yang bisa digunakan untuk memulihkannya, yakni kebijakan fiskal dan moneter. Pada masa resesi, kebijakan pemulihan bermain pada dua instrumen tersebut.

Pemerintah memberikan stimulus, insentif dan fasilitas fiskal untuk meningkatkan konsumsi masyarakat yang anjlok selama resesi akibat pandemi Covid-19, sementara instrumen moneter digunakan untuk meningkatkan likuiditas di tengah masyarakat.

Sayangnya, kebijakan moneter saat ini justru menahan pemulihan ekonomi, kontraproduktif. Bank Indonesia sudah menurunkan suku bunga acuan hingga ke level 3,5 persen, tetapi tingkat suku bunga kredit masih di atas 10 persen. Suku bunga ini masih sangat rigit, abnormal. Di sisi lain, kebijakan fiskal diluncurkan untuk mendorong kenaikan konsumsi tidak dapat mencapai titik optimal karena daya dorong instrumen moneter kurang kuat.

Di AS, kebijakan fiskal yang menghabiskan dana miliaran dolar AS juga dibantu oleh tingkat suku bunga. Bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve alias The Fed, memutuskan mempertahankan suku bunga acuan.

Dalam pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) pada pertengahan Juli tahun lalu, The Fed memutuskan untuk menjaga kisaran target suku bunga acuan alias fed fund rate (FFR) sebesar nol persen hingga 0,25 persen. Hal ini dilakukan untuk mendukung pemulihan ekonomi.

Sikronisasi kebijakan fiskal dan moneter diperlukan dalam masa resesi untuk mengembalikan output ekonomi yang tergerus ke titik sebelum krisis.

Pada masa krisis tingkat suku bunga acuan 3,5 persen juga masih relatif tinggi. Ditambah lagi dengan suku bunga dasar kredit (SBDK) di bank-bank besar yang masih bertengger di 9,8 persen. Sekalipun kebijakan ini tidak bisa dibilang tight money policy (Kebijakan Moneter Ketat), penetapan tingkat suku bunga sebesar ini menghambat pemulihan ekonomi sehingga ancaman kredit macet semakin besar.

Kredit macet terjadi bukan karena korporasi tidak mampu membayar cicilan atau disebabkan oleh kondisi ekonomi, tetapi karena masalah arus kas dimana suku bunga terlalu tinggi membebani  perusahaan di Tanah Air. Korporasi di AS dan Singapura hanya membayar suku bunga kredit 2-2,5 persen dengan rincian suku bunga acuan 0-0,5 persen plus margin bank dua persen. Indonesia membayar hampir lima kali lipat.

Penyelarasan kebijakan fiskal dan moneter sangat dibutuhkan pada masa resesi. Apalagi kemampuan fiskal belakangan menurun akibat penerimaan negara yang berkurang sekitar delapan persen. Penurunan ini membebani rasio pembayaran bunga utang negara terhadap penerimaan negara. Pertumbuhan penerimaan negara yang melemah meningkatkan rasio tersebut sehingga akan menciptakan krisis fiskal.

Rakyat Indonesia tidak seperti rakyat di AS yang mempunyai tabungan. Rakyat miskin Indonesia yang berpendapatan 5,5 dolar per hari--purchasing power parity 2011-- ada 150 juta orang. Mereka tidak bisa diharapkan memiliki tabungan, hidupnya dari bulan ke bulan, bahkan mempunyai utang sehingga asetnya negatif. Mereka tergantung pada stimulus dan bantuan sosial. Kalau stimulus diberikan baru mereka dapat meningkatkan konsumsi.

Investasi belum dapat diharapkan untuk mempercepat pemulihan karena diperkirakan belum akan berjalan mengingat kondisi saat ini kelebihan kapasitas. Bahkan banyak perusahaan mengembalikan pinjaman yang sudah diteken (commitment loan). Perusahaan justru mengurangi produksi dengan mengurangi jam kerja dari tiga shift menjadi dua, dari dua menjadi satu.

Perusahaan baru dapat melakukan ekspansi jika konsumsi meningkat. Untuk itu dibutuhkan kebijakan moneter dan fiskal agar konsumsi naik, mencapai volume yang cukup bagi perusahaan untuk menaikkan produksi.

Segera saja tetapkan Kebijakan Moneter Longgar (easy money policy) dengan menurunkan tingkat suku bunga acuan dan pinjaman ke level yang memberikan ruang bagi peningkatan likuiditas di tengah masyarakat dan dunia usaha agar konsumsi dapat ditingkatkan. Ingat, momentum tidak mengetuk pintu dua kali.

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF