Kill or be Killed
Gigin Praginanto
Pengamat Kebijakan Publik, Wartawan Senior
berita
Berpikir Merdeka
06 September 2019 14:00
Watyutink.com - Pada 1966, ketika Mesir mengerahkan pasukan secara besar-besar ke perbatasan dengan Israel, Presiden Gamal Abdel Nasser yakin betul bahwa dia akan segera menenggelamkan negara Yahudi ini ke laut. Optimisme Nasser didukung oleh fakta bahwa mesir memiliki jumlah tentara, pesawat temput, kapal perang, dan tank berkali lipat lebih besar ketimbang Israel. 

Optimisme Nasser tentu meningkat ketika Israel menarik mundur sebagian kekuatannya dari perbatasan. Demikian pula dengan pilot-pilot pesawat tempur yang sedang sarapan pada 5 Juni 1967 di seluruh pangkalan udara militer Mesir. 

Mereka mendadak panik ketika tiba-tiba puluhan pesawat tempur Israel melakukan blitzkrieg (serangan kilat) seperti dilakukan Hitler ketika menyerbu para tetangganya di Eropa. Serangan dahsyat ini nyaris  tanpa perlawanan sehingga hampir seluruh pesawat tempur Mesir hancur di dilandasan parkir.

Serangan yang sama juga dilakukan terhadap Jordani dan Syria. Maka, tanpa dukungan kekuatan udara, kekuatan militer darat dan laut ketiga negara ini jadi sasaran empuk Israel. Hasilnya, hanya dalam 6 hari sejak blitzkrieg udara, ketiga negara ini menyerah kepada Israel. Sebagian wilayah mereka juga dicaplok oleh Israel. 

Di Papua, setelah demonstrasi besar besaran disertai kekerasan selama beberapa hari, para demonstrannya dengan cepat menghilang dari jalanan. Mereka meninggalkan berbagai kerusakan dan korban di berbagai tempat. Entah bagaimana nasib para pendatang yang menjadi sasaran amuk para demonstran karena masih menjadi rahasia pemerintah. 

Kerusuhan yang melanda beberapa kota utama di Papua itu diawali dengan rasisme terhadap mahasiswa Papua di kota Malang dan Surabaya 

Mengingat separatisme di Papua adalah sebuah gerakan laten, yang memiliki organisasi sipil dan militer dengan jaringan lokal dan internasional cukup luas, tak mustahil bila demonstrasi anti rasisme tersebut  melibatkan kaum separatis. Setidaknya kaum separatis ini mengeksploitasi kemarahan orang Papua untuk direkayasa menjadi sebuah blitzkrieg berupa aksi jalanan secara besar-besaran. 

Bila sekarang suasana tampak normal, bisa jadi mereka sedang menerapkan strategi Israel dalam perang enam hari.  Mundur untuk menyenangkan lawan, lalu melancarkan serangan dahsyat ketika mereka sedang lengah. 

Kaum separatis di Papua memang sangat berpengalaman dalam mengeksploitasi isu-isu sosial, politik, dan ekonomi untuk membangun dukungan masyarakat. Tak semua isu ini dikemas dalam bentuk gerakan separatisme karena tak semua orang Papua mendukung separatisme. Bahkan banyak yang siap mati demi keutuhan Indonesia. Pertanyaannya,  sejauh mana aparat kemanan siap menghadapi serangan dadakan di masa mendatang, baik berupa aksi massa maupun militer? Tak kalah penting adalah kemampuan diplomasi pemerintah menghadapi negara-negara yang bersahabat dengan kaum separatis Papua. 

Sejauh ini sahabat terdekat kaum separatis Papua adalah negara-negara dan kawasan otonomi di bawah Perancis,  Inggris dan Amerika di Kepulauan Pasifik. Persahabatan mereka dibangun berdasarkan persamaan rumpun, yaitu Melanesia. Mereka sangat aktif dalam melakukan internasionalisasi masalah Papua. 

Tokoh utama separatis Papua yang bergerak di arena diplomasi adalah Benny Wenda. Tokoh ini telah menjadi warga kehormatan Oxford, Inggris, dan mendirikan International Parliament for West Papua. Secara pribadi maupun organisasi, Wenda sangat giat melakukan provokasi di luar negeri. 

Di Indonesia, Wenda memiliki jaringan yang terdiri dari para ahli provokasi bahkan militer, termasuk perang gerilya. Sebuah kenyataan yang membuat kaum separatis berulang kali berhasil membunuh anggota TNI, Polri, dan penduduk sipil yang dianggap kaki-tangan Indonesia.

Maka tak aneh bila Kapolri Tito Karnavian menyatakan akan mengejar siapa saja yang menjadi dalang kerusuhan rasisme di Papua. Tito tampaknya ingin menghanyutkan lawan sebelum dihanyutkan karena paham betul pepatah 'sungai tenang menghanyutkan'. 

Sikap Tito mirip dengan judul komik karya Ed Brubaker, Sean Phillips,  dan Elizabeth Breitweiser,  yaitu Kill or be Killed. Komik serial ini terbit pertama kali tahun 2016, dan tamat pada 2018. Tito mungkin juga akan mengerahkan petugas seperti agen rahasia Inggris bernama James Bond dalam film Licence to Kill yang dirilis tahun 1989. 

Sayang tak jelas apa yang sedang dilakukan oleh kaum separatis di balik suasana tenang saat ini.

SHARE ON
close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Christianto Wibisono

Analis Bisnis/ Pendiri Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI)

Didin S. Damanhuri, Prof., Dr., SE., MS., DEA

Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Manajemen (FEM) IPB

Riza Annisa Pujarama

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

FOLLOW US

Revisi UU KPK, Ancaman Terhadap Demokratisasi oleh Oligarki Predatoris             Presiden sedang Menggali Kuburnya Sendiri             Duet Tango DPR & KPK             Utamakan Tafsir Moral ketimbang Tafsir Hukum dan Ekonomi             Langkah Menkeu Sudah Benar dan Fokuskan pada SKM 1             Industri Rokok Harus Tumbuh atau Dibiarkan Melandai             Perizinan Teknis Masih Kewenangan Daerah             Kiat Khusus Pangkas Birokrasi Perizinan di Indonesia             Politik Etika vs Politik Ekstasi              Kebutuhan Utama : Perbaiki Partai Politik