Makna Libur Hari Besar Agama
Al-Zastrouw
Budayawan, Dosen Pasca Sarjana UNSIA Jakarta, Kepala UPT Makara Art Center UI Jakarta
berita
Berpikir Merdeka
Ilustrasi watyutink (muid/watyutink.com) 19 October 2021 18:30
Watyutink.com - “Berterima kasihlah pada agama, karena keberadaannya telah memberikan hari libur pada kita,” demikian status salah seorang teman di dinding medsosnya. Kalimat ini memang mungkin hanya seloroh, atau bisa jadi sindiran terhadap banyaknya hari libur karena perayaan hari besar agama. Namun jika dicermati secara mendalam, sebenarnya ada beberapa makna penting dari libur nasional karena peringatan hari besar agama.

Makna pertama, libur perayaan hari besar agama mencerminkan hubungan yang kuat antara agama dan negara. Sebagaimana dijelaskan para ahli hubungan antara agama dan negara yang terjadi di NKRI adalah hubungan simbiosis mutualistis, yaitu hubungan timbal balik yang saling membutuhkan. Negara perlu agama sebagai acuan moral etis dan agama butuh negara sebagai sarana mengimplementasikan ajaran agama (Afifudin Muhajir, 2020). Hubungan ini tercermin dalam Pancasila sebagai dasar negara, di mana  sila-sila dari Pancasila merupakan cerminan dari nilai-nilai agama. Dengan bentuk relasi yang seperti ini, NKRI menjadi jalan tengah antara negara sekuler dan negara teokrasi (negara agama).

Libur dalam perayaan hari besar agama merupakan salah satu ekspresi dan konsekuensi dari hubungan yang simbiosis mutualistis tersebut. Dalam konteks ini Indonesia sebagai negara yang berketuhanan menjunjung tinggi dan menghormati agama dengan cara menjadikan perayaan hari besar agama sebagai hari libur nasional. Namun demikian hal ini bukan berarti Indonesia sebagai negara agama, karena tidak menjadikan agama sebagai dasar negara. Hanya nilai-nilai agama yang bersifat publik dan universal yang dijadikan inspirasi dalam membentuk dasar negara bangsa.

Kedua, secara internal, libur nasional dalam perayaan hari besar agama memiliki makna untuk memberikan kesempatan kepada para agama berkonsentraasi mempersiapkan perayaan hari besar agamanya. Adanya hari libur nasional membuat para pemeluk agama yang merayakan hari besar agamanya tidak dibebani dengan berbagai urusan “pekerjaan dunia” sehingga mereka dapat melaksanakan ibadah secara maksimal.

Ketiga, libur perayaan hari besar agama bermakna sebagai sarana membangun kesadaran untuk saling merasakan perayaan hari besar agama di antara sesama warga bangsa Indonesia. Makna ini lebih bersifat eksternal. Melalui hari libur nasional ini, setiap warga bangsa Indonesia dapat merasakan suka cita atas perayaan hari besar agama yang dilakukan oleh ummat lain yang berbeda. Misalnya, umat nasrani dapat merasakan kebahagiaan saat peringatan maulid Nabi, Idur Fitri dan hari besar lainnya yang dirayakan umat Islam. Demikian sebaliknya,umat Islam juga dapat merasakan suka cita saat perayaan Natal, Waisak, Cap Go Meh dan sebagainya, yang dilakukan oleh saudara-saudara sebangsa yang berbeda keyakinan, karena menjadi hari libur nasional.

Makna keempat dari libur nasional perayaan hari besar agama adalah solidaritas, empati dan toleransi. Dalam konteks ini hari libur nasional menjadi sarana membangun kesadaran (awareness) terhadap perbedaan dan keberagaman yang dimiliki oleh bangsa Indonesia. Setiap hari libur perayaan agama, bangsa ini diingatkan bahwa pada hari itu ada saudara-sudara  sebangsa yang sedang merayakan hari besar agama. Melalui cara ini setiap warga bangsa tidak dapat mengingat hari-hari besar agama saudara sebangsa, tetapi juga dapat mengenal dan memahami agama dan keyakinan orang lain yang berbeda. Akibatnya akan tumbuh empati dan sikap saling menghargai.

Kebijakan menjadikan hari besar agama sebagai hari libur nasional, juga merupakan cerminan kearifan (wisdom) dan pandangan yang visioner para pendiri bangsa. Sejak awal mereka sudah sadar bahwa bangsa Inndnesia adalah beragam sehingga diperlukan berbagai instrumen untuk merajut keberagaman tersebut agar menyatu. Dalam konteks ini, libur nasional dalam perayaan hari besar agama merupakan bentuk dari instrumen kultural untuk membentuk sikap toleran dan moderat serta pemahaman agama yang inklusif sehingga dapat menjadi perajut atas keberagaman bangsa Indonesia. Suatu sikap dan cara beragama yang oleh Bung Karno disebut sebagai beragama yang berkebudayaan

Melihat berbagai makna yang ada pada libur nasional perayaan hari besar agama jelas menunjukkan bahwa kebijakan tersebut bukan sekadar untuk hura-hura, tetapi memiliki tujuan yang strategis dalam menjaga dan merawat keberagaman di negeri ini. Berbagai makna inilah yang mestinya disadari oleh para pemeluk agama di negeri ini agar libur nasional akan memiliki fungsi dan manfaat yang nyata bagi bangsa ini.

SHARE ON

PILIHAN REDAKSI

close

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF