Memutus Rantai Penularan Pandemi
Amanda Katili Niode, Ph.D.
Direktur, Climate Reality Indonesia
berita
Berpikir Merdeka
Ilustrasi Muid Watyutink.com 24 July 2021 11:35
Watyutink.com - Sejak awal tahun lalu, Pandemi Covid-19 memorak-porandakan dunia, sehingga menyebabkan perhatian terpusat pada bagaimana menanggapi krisis kesehatan masyarakat, dan mengurangi dampaknya seperti ekonomi yang terus memburuk.

Namun dibalik ribuan makalah ilmiah, kebijakan, dan pedoman tentang Covid-19, sejumlah pakar mengkaji bagaimana cara mencegah pandemi berikutnya, karena tanpa memutus rantai penyebaran, pandemi demi pandemi akan terus terjadi.

Pertengahan tahun lalu, Program Lingkungan PBB (UNEP) dan Institut Penelitian Peternakan Internasional (ILRI) meluncurkan kajian berjudul Preventing the Next Pandemic: Zoonotic diseases and how to break the chain of transmission - Mencegah Pandemi Selanjutnya: Penyakit Zoonosis dan Cara Memutus Mata Rantai Penularannya.

Covid-19 adalah zoonosis, yaitu penyakit menular yang berpindah dari hewan ke manusia. Patogen zoonosis dapat berupa bakteri, virus, parasit, dan jamur, dan dapat menyebar ke manusia melalui kontak langsung maupun melalui makanan, air dan  lingkungan.

Sampai sekarang ada 200 jenis zoonosis yang sudah diketahui termasuk Rabies, Ebola, MERS, demam West Nile, sampar, malaria, dan HIV yang sudah bermutasi menjadi strain khusus manusia.  Penyebaran dari inang hewan ke populasi manusia, menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menjadi lebih intensif karena tekanan kegiatan manusia.

Ketika manusia mengganggu ekosistem, maka patogen zoonosis lepas dari satwa sebagai inang alaminya. Sehingga, mereka membutuhkan tumpangan baru, dan seringkali manusialah sasarannya. Hampir 6 dari setiap 10 penyakit menular ditularkan oleh hewan, dan 75 persen penyakit baru yang muncul bersifat zoonosis.

Dengan makin melonjaknya kasus Covid-19 yang kini sudah merenggut lebih dari 4 juta nyawa, pemutusan rantai penularan harus mendapat perhatian lebih banyak lagi dari para pengamat maupun pengambil keputusan.

Dasar ilmunya, menurut kajian UNEP dan ILRI, sudah jelas. Jika manusia terus mengeksploitasi satwa liar dan menghancurkan ekosistem, zoonosis akan terus menerus terjadi. Guna mencegah wabah di masa depan, manusia harus lebih berhati-hati dalam menjaga lingkungan alamnya.

Kajian itu menyebutkan ada tujuh pendorong utama penyakit zoonosis, yang semuanya terkait dengan kegiatan manusia dan dimensi lingkungan hidup. Ketujuh faktor tersebut adalah meningkatnya permintaan protein hewani, intensifikasi pertanian yang tidak berkelanjutan, peningkatan eksploitasi satwa liar, serta pemanfaatan sumber daya alam berlebihan yang dipercepat oleh urbanisasi, perubahan tata guna lahan, dan industri ekstraktif. Pendorong lainnya adalah perjalanan dan transportasi, perubahan dalam rantai pasokan makanan, serta perubahan iklim, karena banyak zoonosis yang berkembang di tempat yang lebih hangat dan lebih basah.

Kesepakatan internasional dan kebijakan pemerintah sudah ada yang menyikapi elemen pendorong munculnya zoonosis, meskipun mungkin belum dalam konsep rantai penularan pandemi, karenanya perlu ada tinjauan untuk analisis secara terintegrasi.

Sebagai contoh, ada Undang-Undang No 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya serta Peraturan Menteri  Lingkungan Hidup dan Kehutanan tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa yang Dilindungi. Indonesia juga baru memutakhirkan komitmen untuk mengurangi emisi gas rumah kaca penyebab perubahan iklim (mitigasi), dan menyesuaikan terhadap dampak perubahan iklim (adaptasi).

UNEP dan ILRI merekomendasikan langkah-langkah praktis yang dapat dilaksanakan pemerintah untuk mencegah wabah zoonosis di masa depan. Karena beberapa di antaranya sudah masuk dalam program Kementerian dan Lembaga Pemerintah, di bawah ini adalah saran yang patut dipertimbangkan.

Pertama, memperkuat praktik pemantauan dan regulasi yang terkait dengan penyakit zoonosis, termasuk sistem pangan. Kedua, mendukung pengelolaan lanskap dan bentang laut yang berkelanjutan untuk meningkatkan koeksistensi pertanian dan satwa liar yang berkelanjutan. Ketiga, berinvestasi dan mengoperasionalkan pendekatan One Health dalam perencanaan, implementasi dan pemantauan penggunaan lahan dan pembangunan berkelanjutan.

Pendekatan One Health merupakan kolaborasi lintas disiplin ilmu, antara lain kesehatan masyarakat, veteriner, dan lingkungan hidup, yang dapat membantu pemerintah, bisnis dan masyarakat sipil guna mencapai kesehatan yang langgeng bagi manusia, satwa, dan Planet Bumi.

SHARE ON
close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF