Mengatasi Kemiskinan Melalui Pendidikan
Sarwani
Jurnalis Watyutink.com
berita
Berpikir Merdeka
15 October 2019 15:45
Watytutink.com – Esther Duflo, Abhijit Banerjee, dan Michael Kremer, tiga ekonom dari Amerika, diganjar Hadiah Nobel 2019 bidang ekonomi atas upaya mereka memerangi kemiskinan global. Akademi Ilmu Pengetahuan Kerajaan Swedia menyatakan mereka memenangkan Nobel untuk pendekatan eksperimental dalam mengatasi kemiskinan.

Isu kemiskinan juga yang membawa Muhammad Yunus, seorang bankir dari Bangladesh, meraih Nobel Perdamaian. Dia mengembangkan konsep kredit mikro, yaitu pengembangan pinjaman skala kecil untuk pebisnis kecil yang tidak memenuhi kriteria menjadi debitur bank umum. Yunus lalu mengimplementasikan gagasannya dengan mendirikan Grameen Bank.

Konsep kredit mikro Muhammad Yunus diadopsi oleh banyak negara, termasuk Indonesia. Sejak itu lahir produk perbankan yang menyasar masyarakat bawah. Berbagai nama disematkan mulai dari kredit UMKM, Kredit Usaha Rakyat (KUR), PKBL, Dana Bergulir dan lain-lain yang intinya bertujuan membantu rakyat kecil mandiri secara ekonomi.

Esther Duflo, Abhijit Banerjee, Michael Kremer, dan Muhammad Yunus memiliki pendekatan berbeda, tapi tujuan mereka sama; Kemiskinan harus lenyap dari muka bumi. Diperkirakan lebih dari 700 juta orang masih hidup dengan pendapatan yang sangat rendah. Di samping itu, sekitar 5 juta anak di bawah usia 5 tahun meninggal setiap tahun karena penyakit yang dapat dicegah atau disembuhkan.

Perserikatan Bangsa-Bangsa memperkirakan kemiskinan global telah berkurang lebih dari setengah sejak 2000. Menurut lembaga tersebut, satu dari 10 orang di negara berkembang masih hidup dengan pendapatan kurang dari 1,9 dolar AS per hari.

Indonesia juga masih menghadapi kemiskinan. Pemerintah mengklaim kemiskinan sudah jauh berkurang dan berada di level satu digit, terendah dalam sejarah Tanah Air. Namun jika pendapatan 1,9 dolar AS yang digunakan PBB sebagai tolok ukur, kemiskinan di Indonesia akan kembali membengkak.

Di tengah perjuangan negara-negara dan lembaga internasional memerangi kemiskinan, tiga ekonom ini datang dengan tawaran konsep yang menjanjikan. Mereka sekaligus menjawab pertanyaan yang selama ini menjadi perhatian para ekonom dan pengambil kebijakan apakah investasi dalam infrastruktur pendidikan dapat meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan mengurangi kemiskinan?

Esther Duflo menggunakan studi kasus pembangunan SD Inpres di Indonesia. Pemerintah RI membangun lebih dari 61.000 sekolah dasar di seluruh negeri pada periode 1973 – 1978. Ini adalah salah satu program pembangunan sekolah terbesar yang pernah dilakukan.

Dia mengevaluasi pendirian program ini pada pendidikan dan usia dengan menggabungkan perbedaan  lintas daerah dalam jumlah sekolah yang dibangun dengan perbedaan lintas kelompok yang dilakukan pada saat program dijalankan.

Perkiraan menunjukkan bahwa pembangunan sekolah dasar menyebabkan peningkatan pendidikan dan pendapatan.  Anak-anak berusia 2 hingga 6 tahun pada 1974 menerima 0,12 hingga 0,19 tahun lebih banyak masa pendidikan untuk setiap sekolah yang dibangun per 1.000 anak di wilayah kelahiran mereka.

Dengan menggunakan berbagai macam sekolah yang dihasilkan oleh kebijakan ini sebagai variabel instrumen untuk mengukur dampak pendidikan terhadap upah, menghasilkan perkiraan pengembalian ekonomi dari investasi pendidikan sebesar 6,8 persen hingga 10,6 persen.

Riset ketiga ekonomi ini telah menunjukkan bagaimana kemiskinan dapat diatasi dengan memecahnya menjadi pertanyaan-pertanyaan kecil di bidang pendidikan, sehingga membuat masalah lebih mudah untuk dipecahkan. Hasil studi dan eksperimen lapangan mereka seputar peran pendidikan membantu jutaan anak sekolah di India.  

Riset Duflo dkk ini menepis resep yang selama ini dipercaya ampuh untuk mengentaskan kemiskinan yakni melalui bantuan asing dan membebaskan perdagangan dengan negara-negara miskin. Cara ini dinilainya dilebih-lebihkan.

Peran pendidikan dalam mengentaskan kemiskinan sebenarnya sudah dialami oleh banyak individu di Tanah Air. Beberapa kisah menyebutkan bagaimana seseorang dari keluarga tidak mampu berhasil mencapai karir tinggi dengan segala kemewahan yang didapatnya, dengan berbekal pendidikan yang baik.

Bagi masyarakat bawah yang tidak memiliki ekuiti untuk berbisnis atau terjun ke dunia politik, pendidikan menjadi modal untuk naik ke orbit yang lebih tinggi, ke strata sosial di atasnya, menjadi  pejabat tinggi, perwira, atau profesi lain yang menjanjikan.

Sayangnya, pendidikan semakin hari semakin mahal, terutama perguruan tinggi. Hanya orang-orang berduit yang bisa menyekolahkan anaknya hingga menjadi sarjana. Sekolah menjadi sangat elit. Masyarakat kelas bawah berharap pada program beasiswa, namun jumlahnya masih terbatas dan belum menjadi jawaban yang menyeluruh.

Di samping itu, program pengentasan kemiskinan melalui bantuan sosial belum menjadi solusi jangka panjang, menyeluruh, dan berkelanjutan. Program tersebut harus dikombinasikan dengan program lain agar rakyat tidak rentan jatuh miskin lagi.

Konsep yang ditawarkan Esther Duflo, Abhijit Banerjee, dan Michael Kremer menjadi harapan bagi penyelesaian masalah kemiskinan secara fundamental, berkelanjutan, menyeluruh untuk semua rakyat. Semoga dunia dapat belajar dari program yang pernah diresepkan oleh Presiden Soeharto.

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Fithra Faisal Hastiadi, Dr., S.E., MSE., M.A

Direktur Eksekutif Next Policy, Dosen FEB UI

Andry Satrio Nugroho

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

Yahya Agung Kuntadi, Ir., M.M.

Kepala Kantor UGM Kampus Jakarta, Institute of Research and Community LPPM UGM

FOLLOW US

Tidak Pada Tempatnya Meragukan Data BPS             Harus Disadari, Ada Akar Masalah yang Tidak Diselesaikan             Sektor Konsumsi Harus Tetap Didorong             Data Angka Konsumsi dan Investasi Masih Menunjukkan Peningkatan             Rakyat Harus Diuntungkan dalam Jangka Pendek             Jangan Kejar Target Pembangunan Fisik Saja             Kemampuan Investasi dalam Menyerap Tenaga Kerja Semakin Rendah             Sektor UKM Masih Bisa Diandalkan             Masih Harus Banyak Dilakukan Pembenahan             Tantangan Besar Meningkatkan Tenaga Kerja Menjadi SDM Berkualitas