Menggelar Pesta Musik Ramah Lingkungan
Amanda Katili Niode, Ph.D.
Manager, Climate Reality Indonesia
berita
Berpikir Merdeka
05 October 2019 10:00
Watyutink.com - Glastonbury Festival di Inggris dimulai pada tahun 1970 sebagai sebuah festival musik pop, folk, dan blues dengan pengunjung sebanyak 1000 orang. Tahun depan, pada perayaan Glastonbury 50 tahun di bulan Juni, penontonnya diperkirakan lebih dari 200 ribu orang.

Kibaran bendera-bendera raksasa dengan deretan penyanyi dan pemusik paling terkenal di dunia merupakan ciri khas Glastonbury Festival.  Puluhan panggung yang tersedia menampilkan pertunjukan dalam berbagai bentuk, termasuk musik pop, musik rakyat, jazz, teater, pantomim, sirkus, film, puisi, dan semua bentuk seni kreatif dan desain, seperti seni lukis, patung dan tekstil.

Saingan Glastonbury Festival adalah Coachella Valley Music & Arts Festival di Amerika Serikat yang tahun depan diselenggarakan selama dua akhir pekan di bulan April. Coachella Festival baru berlangsung selama 20 tahun namun pengunjungnya mencapai lebih dari 250.000 orang.

Coachella menampilkan seniman musik dari berbagai genre seperti rock, pop, indie, hip hop, dan musik elektronik, serta instalasi seni dan patung.

Ciri khas Coachella Festival adalah  berbagai pakaian khas yang dikenakan oleh pengunjungnya, yang mencakup kombinasi warna, bahan, dan ragam gaya etnis.

Festival Musik yang ramai dengan suara riuh rendah memang sangat menyenangkan, menghibur dan mengasyikkan, namun dampak lingkungannya luar biasa besar. Polusi dari transportasi ratusan ribu pengunjung, penggunaan bahan bakar yang sangat tinggi untuk sistem suara maupun cahaya listrik, sampah plastik dan makanan yang berserakan, dan kerusakan lokasi festival hanyalah sebagian kecil dari dampak yang timbul. Selain itu penonton juga nampaknya lebih peduli pada musik yang dinikmati daripada menjaga lingkungannya.

Penyelenggara festival musik menyadari bahwa mereka harus berbuat sesuatu untuk melindungi Planet Bumi. Pemerintahan kota tempat festival juga menerapkan berbagai peraturan lingkungan yang ketat.

Kajian Loyola Marymount University mencatat, Kota Indio di Kalifornia tempat Coachella Festival diselenggarakan, memiliki persyaratan yang ketat dalam membatasi polusi udara, senyawa organik yang mudah menguap, ozon, partikel, dan nitro oksida. Selain itu, Kota Indio mewajibkan pemantauan kualitas udara dan bau dari fasilitas sanitasi portabel, mengurangi debu, dan melaporkan pencemaran secara keseluruhan. Berbagai upaya ini diharapkan dapat membantu mengurangi dampak jangka panjang pada penduduk Coachella Valley.

Tahun ini Glastonbury Festival mengumumkan kebijakan bebas plastik pada semua acaranya, sehingga penggunaan lebih dari satu juta botol plastik dapat dihindarkan oleh lebih dari 200.000 pengunjung festival. Niat baik ini masih harus didukung oleh 1.300 relawan yang selama enam minggu melakukan bersih-bersih karena masih ada saja pengunjung yang meninggalkan kursi, tenda, botol plastik, kasur tiup, sandal jepit, dan kotak pendingin di area festival.

Ikhtiar festival musik di Indonesia dalam kampanye lingkungan juga tidak kalah menariknya. Java Jazz Festival secara rutin mengadakan program peduli lingkungan. Tahun ini Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan membagikan cendera mata kepada pengunjung festival berupa sedotan stainless steel dan kantong belanja guna ulang, agar sampah plastik dapat dikurangi. 

Sementara itu Synchronize Festival, acara tahunan musik multi-genre yang berlangsung akhir pekan ini di Jakarta, membawakan tema "Memanusiakan Alam, Mengalamikan Manusia". Beberapa programnya termasuk pengelolaan sampah, bawa botol minum isi ulang, tidak menggunakan genset, hingga bersepeda maupun menggunakan transportasi umum ke lokasi festival.

Bagaimanapun juga mengurangi dampak lingkungan dari festival musik tidak mungkin sepenuhnya diserahkan kepada penyelenggara maupun kota lokasi festival. Jutaan penikmat musik dan seni harus menyadari dampak yang mereka timbulkan dan berusaha berbuat sesuai kemampuan masing-masing seperti melindungi hewan dan tumbuhan di lokasi festival, menghindari plastik sekali pakai, berkendara bersama, mendaur ulang limbah, dan tidak menyampah.

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Lana Soelistianingsih, Dr., S.E., M.A.

Ekonom Universitas Indonesia, Kepala Riset/ Ekonom Samuel Aset Manajemen

Mohammad Faisal

Direktur Centre of Reform on Economic (CORE) Indonesia

Ahmad Heri Firdaus

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

FOLLOW US

Perubahan Nomenklatur Tak Efektif dalam Jangka Pendek             Ketergantungan pada Komoditas Dikurangi, Perbanyak Industri Olahan Berbasis Komoditas             Setia Ekspor Komoditas Alam, atau Diversifikasi Ekspor?             Perlu, Optimalisasi Non Tariff Measure (NTM)             Kebijakan NTM akan Bermanfaat, Selama Tidak Berlebihan.             Sesuaikan pilihan jenis NTM dengan karakteristik produk impor             Kebijakan Mandek Terganjal Implementasi, Koordinasi, Eksekusi               Pemerintah Sibuk Urusi Poliitk             Tinjau Kembali Struktur Industri Nasional             Benahi Dulu ICOR Indonesia