Menyoroti Gawatnya Polusi Udara
Amanda Katili Niode, Ph.D.
Manager, Climate Reality Indonesia
berita
Berpikir Merdeka
06 July 2019 10:00
Watyutink.com - Lebih dari 90 persen penduduk dunia tinggal di tempat-tempat dengan kualitas udara melebihi batas pedoman Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). WHO memperkirakan sekitar 7 juta orang di seluruh dunia meninggal akibat terpapar partikel halus di udara tercemar (polusi udara). Kematian terkait polusi udara ini sebagian besar terjadi di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah, terutama di Asia dan Afrika.

Gangguan kesehatan, yang dapat menyebabkan kematian, akibat polusi udara sulit untuk dihindari, terutama karena partikel halus tersebut dapat menembus pertahanan tubuh, menyelinap jauh ke dalam sistem pernapasan dan peredaran darah, merusak paru-paru, jantung, dan otak manusia.

Sumber polusi udara, menurut Badan Lingkungan Hidup PBB (UNEP), terutama berasal dari kegiatan manusia termasuk aktivitas rumah tangga, industri, transportasi, pertanian, dan limbah. Polusi udara juga dapat disebabkan proses alam seperti letusan gunung berapi dan badai pasir.

Kualitas udara umumnya diukur dengan beberapa parameter, antara lain particulate matter (partikel debu) yang biasa disebut PM, karbon hitam, ozon di permukaan tanah, nitrogen dioksida, sulfur dioksida dan karbon monoksida.

PM, sebagai partikel yang dapat terhirup, terdiri dari sulfat, nitrat, amonia, natrium klorida, karbon hitam, debu mineral, dan air. Partikel dengan diameter kurang dari 10 mikron (PM10), termasuk yang kurang dari 2,5 mikron (PM2.5) menimbulkan risiko terbesar bagi kesehatan.

Data dari beberapa parameter kualitas udara yang ditetapkan, kemudian diolah menjadi angka tunggal yang disebut nilai indeks, sehingga kualitas udara dapat disimpulkan dan lebih mudah dipahami. Nilai indeks inilah yang menjadi dasar polemik tentang kualitas udara Jakarta akhir-akhir ini karena adanya perbedaan tolak ukur sebagai acuan analisis kualitas udara. Gugatan warga yang menuntut kualitas udara yang lebih baik juga mengacu pada nilai indeks.

Memahami sumber polusi, dan bagaimana hal itu memengaruhi kesehatan dan lingkungan, akan sangat membantu dalam mengambil langkah-langkah untuk memperbaiki kualitas udara.

Dollaris Riauaty Suhadi, alumni Teknik Lingkungan ITB yang juga praktisi manajemen dan kebijakan pengelolaan kualitas udara, mengatakan bahwa polusi udara di perkotaan dipengaruhi beberapa faktor. Di antaranya adalah jumlah emisi (pengeluaran pencemar), kondisi meteorologi, topografi dan tata letak kota. Manusia dapat lebih mudah memengaruhi faktor emisi dan tata letak kota dengan gedung-gedung bertingkat. Sebenarnya, secara topografi, Kota Jakarta diuntungkan, karena datar dan dekat laut, sehingga aliran angin dapat membantu memencarkan pencemar.

Apa yang dapat dilakukan masyarakat umum dalam membantu mengurangi polusi udara? Direktur Eksekutif Komite Penghapusan Bensin Bertimbel, Ahmad Safrudin, memberikan beberapa kiat, khususnya terkait kendaraan bermotor, yang antara lain:

Pertama, pemilik mobil harus rutin melakukan perawatan kendaraan sehingga emisinya (pengeluaran gas buang) dapat memenuhi baku mutu atau standar kualitas.

Kedua, menghentikan kebiasaan memanaskan mesin mobil. Kendaraan yang diproduksi setelah tahun 2007 dirancang sedemikian rupa, sehingga tidak perlu dipanaskan tetapi cukup dihidupkan dan ditunggu selama 15-30 detik. Setelah itu mobil dapat dijalankan dengan kecepatan 15 km/jam selama 5-10 menit, untuk kemudian dipacu sesuai keperluan dan peraturan kecepatan maksimum. Di jalan tol, kecepatan ideal antara 60-80 km/jam sehingga emisi dapat berada pada level terendah.

Ketiga, ketika berencana membeli mobil, sebaiknya memilih yang sudah memenuhi standar emisi Euro IV, seperti telah ditetapkan melalui Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Negara lain bahkan sudah sampai pada standar Euro VI. Bahan bakar yang dipilihpun tentunya harus yang baik kualitasnya dan sesuai dengan keperluan mesin.

Untuk diketahui, tahun ini UNEP menetapkan tema “Beat Air Pollution” atau Kalahkan Polusi Udara, untuk Hari Lingkungan Hidup Sedunia. Di Indonesia, tema ini disesuaikan mejadi “Biru Langitku, Hijau Bumiku,” karena mengendalikan polusi udara sangat erat hubungannya dengan upaya untuk menata bumi agar lebih hijau.

SHARE ON

PILIHAN REDAKSI

close

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Christianto Wibisono

Analis Bisnis/ Pendiri Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI)

Yahya Agung Kuntadi, Ir., M.M.

Kepala Kantor UGM Kampus Jakarta, Institute of Research and Community LPPM UGM

FOLLOW US

Penangkapan Faisol Tidak Berdasar             Lembaga Negara Bukan Pemungut Upeti!             Cost Recovery Bukan dari APBN             Blok Masela, Akankah mengulang sejarah Freeport?             Kebutuhan Gas Dalam Negeri Harus Diutamakan             Blok Masela Jangan Diserahkan Sepenuhnya Kepada Asing             Hendaknya Jangan Berhenti pada Sisi Produksi             Konsumen Kritik Layanan, Seharusnya Dapat Penghargaan             Saatnya Perusahaan Old School Transformasi ke Dunia Digital             Temuan TPF Novel Tidak Fokus