Obat Mabuk Teknologi
Al-Zastrouw
Budayawan, Dosen Pasca Sarjana UNSIA Jakarta, Kepala UPT Makara Art Center UI Jakarta
berita
Berpikir Merdeka
Ilustrasi Muid Watyutink.com 22 November 2021 10:00
Watyutink.com - Dalam buku High Tech High Touch yang terbit tahun 1999, John Naisbitt menyatakan bahwa masyarakat saat itu tengah berada pada zona mabuk teknologi yaitu suatu zona yang ditandai adanya hubungan yang rumit dan sering kali kontradiktif antara teknologi dan pencarian makna.

Naisbitt menyebut ada enam gejala penting yang muncul dalam zona mabuk teknologi ini, yaitu: 1). Munculnya budaya instan; 2). Masyarakat diperbudak oleh teknologi, karena sangat memuja teknologi; 3). Masyarakat menghapuskan batas antara fakta dan fiksi, antara data dan imajinasi sehingga perbedaan antara keduanya menjadi kabur; 4). Masyarakat menerima budaya kekerasan dengan menganggapnya sebagai sesuatu yang wajar; 5) Masyarakat menjadikan teknologi sebagai gaya hidup dan mainan 6). Masyarakat hidup secara berjarak secara fisik (Naisbitt, 1999/2002; 23-24)

Setelah 22 tahun, gejala yang disebutkan Naisbitt tersebut menjadi terlihat nyata. Hal ini terlihat pada kecenderungan masyarakat saat ini yang lebih menyukai  penyelesaian masalah dan mencapai tujuan dengan menggunakan jalan pintas, tanpa mau berproses. Kecenderungan ini terjadi pada hampir segala aspek kehidupan, termasuk dalam beragama. Fenomena bom bunuh diri, maraknya gerakan radikal dan terorisme dapat digolongkan sebagai sikap beragama yang pragmatis, ingin mencapai surga dengan jalan pintas.

Gejala kedua, masyarakat diperbudak teknologi, terlihat pada munculnya dominasi teknologi atas diri manusia, sehingga manusia seolah terpenjara oleh teknologi. Saat ini, teknologi telah mengambil alih peran organ manusia, termasuk organ berpikir. Kemampuan berhitung (pikir/kognitif), berjalan dan bekerja (motorik) sudah digantikan oleh teknologi. Secara pelan namun pasti manusia menyerahkan sebagian besar potensinya secara suka cita kepada teknologi. Inilah yang disebut hubungan yang rumit dan kontradiktif. Di satu sisi menusia sebagai pencipta teknologi adalah pengendali dari teknologi tetapi di sisi lain manusia justru tunduk dan pasrah dihadapan teknologi.

Gejala ketiga terlihat secara jelas pada munculnya kondisi yang oleh Jean Boudrillard (1994) disebut dengan istilah hyperreality yang melahirkan era post-truth. Suatu era di mana kebenaran dan kebohongan, fakta dan fiksi, data dan imajinasi kehilangan batasnya. Teknologi informasi yang memberikan ruang kontestasi secara terbuka sehinga batas antara keduanya menjadi kabur. Dalam konteks Indonesia, fenomena ini terlihat nyata pada Pilkada DKI, Pilpres 2019 yang dampaknya terasakan hingga sekarang. Akibatnya, saat ini kita sulit membedakan antara teroris dengan ulama, antara pejuang dan pecundang. Banyak teroris berbaju ulama, ulama menjadi teroris. Banyak pecundang yang menindas rakyat dan menguras uang negara berpenampilan pejuang dan pejuang yang justru dianggap sebagai pecundang. Teknologi telah menjadi instrumen dominan untuk membentuk, mengubah dan mengarahkan pikiran, tindakan dan cara pandang masyarakat. 

Gejala keempat terlihat pada maraknya sikap permisif masyarakat terhadap kekerasan yang terjadi di tengah-tengah masyarakat. Bom bunuh diri, teror, tawuran antar kelompok, pembunuhan dengan cara-cara yang sadis dan biadab seperti terlihat pada peristiwa Tolikora, Cikesik seolah menjadi sesuatu yang biasa saja. Mengusik emosi dan hebih sejenak tetapi kemudian kembali dingin, redup dan hilang tanpa jejak hingga muncul lagi kekerasan yang sama. Teknologi berperan besar membangun daur emosi masyarakat yang seperti ini. Masyarakat tidak mampu belajar dan melakukan refleksi terhadap peristiwa kekerasan yang disebarluaskan secara terus menerus. Akibatnya mereka menjadi imun dalam melihat kekerasan.

Gejala kelima terlihat pada munculnya budaya konsumerisme teknologi. Dalam konteks ini, teknologi bukan lagi sekadar alat bantu untuk mempermudah kerja atau sebagai alat produksi, tetapi telah bergeser menjadi alat membangun prestise dan citra diri untuk meningkatkan status sosial. Penggunaan teknologi untuk mainan terlihat pada maraknya tik tok, selfi dan berbagai game online. Jasa Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) tahun 2020 mencatat sebesar 16,5% masyarakat pengguna jasa internet menggunakan internet untuk bermain game online. Sedangkan data penelitian tahun 2018 menunjukkan 14% pelajar di ibu kota mengalami kecanduan game online. Ini merupakan angka tertinggi di Asia.

Gejala keenam terlihat pada maraknya zoom dan webinar dan berbagai media sosial lainnya. Teknologi memang berhasil mendekatkan jauh, dapat menghilangkan jarak karena dengan bantuan tehnologi manusia dapat bertatap muka, berkumpul, silaturrahmi dan bertutur sapa setiap saat di ruang maya. Tetapi di sisi lain juga menjauhkan yang dekat. Sehari-hari kita menyaksikan, betapa banyak orang yang yang berdekatan, satu ruang, bahkan satu kursi, tapi mereka tidak bertegur sapa, tidak ngobrol tidak saling memperhatikan karena sibuk dengan gawai masing-masing. Mereka lebih asyik berbicara dengan orang lain yang entah berada di mana. Inilah yang membuat manusia semakin berjarak.

Berbagai gejala yang digambarkan Naisbitt ini mengingatkan kita pada cerita novel klasik karya Mary Shelley yang terbit tahun 1818. Novel ini ini mengisahkan seorang profesor yang menciptakan robot bernama Frankenstein untuk membantu tugas-tugasnya. Namun sang robot justru menjadi monster yang mengancam jiwa sang profesor dan masyarakat. Teknologi (informasi) yang diciptakan untuk membantu meringankan tugas manusia, ternyata mengancam manusia teryata justru mengancam manusia.

Munculnya fenomena tersebut memang tidak dapat dibendung, dan akan terus terus berjalan sesuai dengan perkembangan teknologi. Lalu bagaimana menyikapi fenomena tersebut, agar manusia tidak hanyut dalam teknologi yang mengancam nilai-nilai dan eksistensi manusia?

Salah satu jawaban atas maraknya fenomena mabuk teknologi adalah mengembangkan dan memperkuat aspek rasa yang dalam taksanomi Bloom dikenal dengan dimensi afektif. Ketika dimensi kognitif dan afektf sudah diambil alih oleh teknologi, maka yang tersisa adalah dimensi afektif. Secanggih apapun teknologi tidak dapat menggantikan dimensi afektif yang ada pada diri  manusia. Sentuhan dan belaian yang menghasilkan rasa teduh dan damai, pelukan hangat untuk menumpahkan rasa rindu, bau aroma masakan yang menyimpan memori indah masa lalu dan sejenisnya, adalah aspek rasa atau dimensi afektif yang tidak dapat digantikan oleh teknologi secanggih apapun. Dimensi afektif akan menumbuhkan solidaritas, peduli dan kepekaan pada sesama yang dapat menjadi kekuatan perajut atas keretakan sosial dan psikologis akibat mabuk teknologi.

Atas dasar ini, maka sudah selayaknya menyusun strategi kebudayaan yang diorientasikan pada pengembangan dan penguatan dimensi afektif. Artinya sistem pendidikan harus ditekankan pada pada dimensi afektif. Tanpa penguatan dimensi afektif, manusia akan menjadi robot Frankestein karena mabuk teknologi. Sebaliknya dengan penguatan dimensi afektif, manusia akan memiiki kemampuan mengendalikan teknologi.

  

SHARE ON

PILIHAN REDAKSI

close

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF