Pendekatan Survival of The Fittest vs Kaum Miskin
Erros Djarot
Budayawan
berita
Berpikir Merdeka
Ilustrasi muid/watyutink.com 30 March 2020 11:25
Watyutink.com - Mengikuti arahan para penyelenggara negara berkaitan dengan serangan virus Corona, COVID-19, mengundang pertanyaan; mengapa semua arahan lebih cenderung orientasinya pada pendekatan survival of the fittest? Setiap arahan disampaikan lewat bahasa yang seakan hanya diperuntukkan bagi kaum berada, masyarakat kelas menengah-atas yang terdidik. Kaum the have not seakan tidak eksis dalam kehidupan di negeri ini. Padahal merekalah komunitas penduduk yang paling besar dan sangat signifikan jumlahnya. 

Mayoritas rakyat di kelompok papan bawah ini, tak mengerti bahasa asing berikut sejumlah arahan aksi sosial yang tak terjangkau oleh mereka. Baik secara ekonomi, sosial, maupun budaya. Keterputusan komunikasi sosial ini seharusnya menjadi persoalan serius yang perlu mendapat perhatian khusus dari kita semua. Tapi heran, seakan masalah komunikasi yang tak nyambung antara penyelenggara negara dan mayoritas rakyatnya, dianggap hal biasa atau malah dibenarkan; apanya yang salah?

Mengangkat persoalan ini, sering kali dianggap sebagai tindakan yang mengada-ada dalam upaya mempertentangkan antara kelompok kaya dan miskin. Tuduhan seperti ini gemar dilakukan oleh para penikmat kemapanan, para elite dan kaum borjuis kota. Agar comfort zone mereka tak terusik. Untuk mengamankannya, mereka dibeking sejumlah oknum petugas keamanan atau alat negara yang menjadi alat dan penjaga mereka. Konon para influencer atau lebih vulgarnya para buzzer sengaja mereka siapkan untuk mem-bully siapa pun yang bersuara miring terhadap pemerintah dan kelompok mereka. 

Akibatnya mayoritas masyarakat, terutama di lapisan menengah atas, menjauh dari pemikiran kritis. Seperti terjadi ketika negeri ini dihebohkan oleh serangan virus Corona, COVID-19. Ketika semua petunjuk dan rujukan berikut informasi yang disebar dan tersebar, hampir 90 persennya  hanya diperuntukkan dan dimengerti oleh mereka yang berada di lapisan sosial ekonomi menengah-atas, dianggap OK-OK saja, tanpa masalah. 

Maka meluncurlah dengan lancar sejumlah arahan...self distancing, lockdown, swab, petunjuk harus mengonsumsi vitamin A, B, C, D, menggunakan masker, sanitizer, dan sejenisnya. Semua itu merupakan bahasa, peristiwa, dan barang-barang yang memang eksis dalam budaya kehidupan kaum berada. Sebaliknya, jauh dari kehidupan sosial dan jangkauan ekonomi kaum miskin, kaum papa, kaum marhaen, kaum duafa dan kaum jembel yang hidup di perkampungan kota maupun pinggiran kota. 

Jangankan membeli vitamin, masker, dan lain-lain, untuk makan saja ada yang masih harus mengais makanan sisa. Kehidupan mereka sehari-hari telah ter-lockdown oleh sistem dan struktur sosial-ekonomi-politik negara (kapitalis-liberal-individualis). Dalam kehidupan kaum miskin kota, untuk bisa mengonsumsi vitamin dan suntikan penyegar tubuh, hanya lah sebuah mimpi indah, seakan menemukan harta karun sekarung emas di jalan raya. 

Mengapa penekan pusat perhatian saya arahkan pada komunitas kaum miskin kota? Karena merekalah yang paling berada di garis terdepan merasakan kemiskinan struktural sebagai pil pahitnya kehidupan yang terpaksa mereka harus telan. Berbeda dampak tragis dan dramatiknya kemiskinan bila dibandingkan dengan kehidupan kaum miskin di desa dan pelosok tertinggal walau terpencil sekalipun.

Kehidupan di desa dan pelosok terpencil, walau tangan negara jarang atau belum sempat menyentuhnya, mereka terbiasa hidup saling bantu. Gotong royong adalah bagian dari hidup mereka. Kehidupan di desa, belum terhimbas jauh oleh individualisme. Sebuah isme yang membuat anggota masyarakat perkotaan lupa dan kehilangan cara maupun ruang untuk hidup saling bantu bergotong royong. 

Dalam konteks warga miskin kota dan serangan virus Corona, bagaimana nasib para pemulung, para tukang dan buruh harian, kaum papa yang tinggal di bedeng-bedeng pinggiran kali dan sepenjang rel kereta, maupun para penghuni rumah kardus di berbagai lorong kumuh kota-kota besar? Cukup menggelisahkan bila serius dipikirkan. Tapi mereka sendiri menjalankan hidup seperti biasa, dan hanya bisa menonton kegelisahan kaum berada perkotaan yang panik menghadapi serangan virus Corona. 

Mereka dipaksa keadaan untuk merelakan diri ketika virus Corona menghapiri. Ketika saya tanyakan kepada para pengemudi ojek dan angkutan umum, mengapa mereka masih terus berkeliaran di jalan-jalan seperti tak peduli ganasnya virus Corona? Jawaban mereka rata-rata sangat mengharukan. Bagi mereka ancaman kematian hampir setiap hari mereka hadapi sebagai realita kehidupan. Lebih menakutkan membayangkan anak istri mati kelaparan dari pada dirinya mati terjangikit virus Corona. 

Jawaban yang sama saya dapatkan dari para pedagang kecil, buruh kasar, dan para penjual jasa yang mengandalkan upah harian. Bukan mereka tak takut dan ngeri terhadap serangan virus Corona, tapi pilihan yang dihadapkan sangat memojokkan mereka. Pilihan tak sedap ini mereka ambil dengan penuh tanggung jawab, tanpa pilihan lain, kecuali mempertaruhkan nyawa mereka. Bayangkan, bagaimana nasib mereka saat tindakan lockdown diberlakukan. Jangan sampai melakukan jarahan ke pusat-pusat pertokoan dan perbelanjaan terpaksa mereka lakukan, sebagai satu-satunya cara untuk bertahan hidup. 

Untungnya, dari kondisi umum yang miskin solidaritas dan perhatian kepada kaum miskin kota ini, masih ada juga individu maupun kelompok warga papan atas yang terbangunkan kesadaran dan empatinya. Mereka rela mengorbankan waktu dan harta membantu kaum yang lemah, kaum papa. Seperti yang dilakukan para dokter dan petugas kesehatan. Mereka rela mempertaruhkan nyawa bahkan mengobankan jiwa untuk menyelamatkan siapa saja yang terinfeksi virus COVID-19. Tanpa pandang bulu dan tanpa menunggu bantuan pemerintah. Tindakan yang heroik dan mengagumkan ini, perlu kita berikan acungan jempol yang sangat tinggi. 

Dalam hal ini, Pemerintah Republik Indonesia cq. Departemen Sosial, sangat perlu melakukan gebrakan dalam bentuk gerakan nyata dan terukur hingga sentuhan tangan negara dirasakan oleh mereka.  

Tentunya, dalam hal membantu rakyat miskin ini, bukan melulu tanggung jawab Departemen Sosial. Masalah ini berkaitan dengan pola pikir dan ideologi yang ada dalam pikiran dan jiwa kaum berada dan para pemimpin kita. Termasuk para pimpinan parpol dan para petinggi di lembaga eksekutif, legislatif, dan yudikatif. 

Sebagai catatan, berpikir lewat jendela individualis-kapitalistik, adalah sebuah jalan buntu (cul de sac) untuk sampai pada tahap memiliki rasa empati dan tekad menyudahi kemiskinan dan penderitaan rakyat. Diperlukan langkah dan kerja politik yang berlandaskan pijakan ideologi pro kesejahteraan mayoritas rakyat. Sehingga negara dalam upaya memberantas kemiskinan bukan dengan cara meniadakan orang miskin, tapi dengan jalan membasmi pemiskinan, demi tiadanya kemiskinan.

Membiarkan jutaan kaum miskin hidup tanpa pembentengan yang kuat hingga sangat mudah dimangsa virus Corona, bisa dimaknai sebagai melakukan slow motion genocide (pembunuhan massal secara perlahan). Dan tentu saja haqul yakin, tak sedikit pun pemerintah berpikir, berniat dan sengaja menjalankan kebijakan yang sesadis itu. 

Akan tetapi, salah mengambil pijakan ideologi, bukan tidak mungkin menghasilkan resultat yang sama walau tak serupa dan sebangun. Berdiri di atas pijakan ideologi yang benar akan memicu tumbuhnya jiwa kepemimpinan yang genuine pro rakyat dalam setiap langkah kebijakan politiknya. Api kerakyatan dan kemanusiaan dalam bingkai Nasionalisme yang humanis, pasti berkobar dalam jiwa dan pikirannya! 

Lalu, mengapa tulisan ini sampai ada? Mungkin inilah saatnya secara jujur membuka diri; siapa kita sebenarnya? Apakah kumpulan kaum Celeng (babi) yang ngaku Banteng; apa kaum Banteng yang berpikir dan berperilaku seperti Celeng; Banteng yang tengah selingkuh dengan Celeng; atau Banteng asli yang sejati?

Semoga Pak Jokowi cs, masih Banteng asli. Untuk itu ada pesan sangat urgen dan ideologis; tolong pikirkan dan selamatkan rakyat miskin, rakyat Marhaen! Karena untuk  sementara, kaum berada, kelas menengah dan atas, sudah mampu mengatasi serangan virus Corona berbekal pengetahuan dan kemampuan ekonomi yang mereka miliki. Tidak demikian halnya dengan kaum miskin kota, kaum duafa, kaum jembel, yang keseluruhannya adalah kumpulan rakyat Marhaen!!! 

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF