Pola Pikir Menghadapi Krisis Iklim
Amanda Katili Niode, Ph.D.
Manager, Climate Reality Indonesia
berita
Berpikir Merdeka
Ilustrasi muid/watyutink.com 27 June 2020 10:15
Watyutink.com - Warga dunia kini sedang berupaya keras mengurangi dampak krisis pandemi terhadap kehidupan dan penghidupan melalui kombinasi adaptasi pola pikir, perilaku, teknologi, dan pembatasan kebebasan pribadi.

Hasilnya, menurut Majalah Forbes, adalah eksperimen besar pada skala global yang dirancang untuk menguji kesiapsiagaan, kompetensi, dan daya tanggap terhadap tuntutan krisis yang memberi tekanan besar pada pilar-pilar fundamental masyarakat dan spirit manusia.

Perhatian dunia kini terus tertuju pada pandemi, namun para pegiat perubahan iklim mengatakan bahwa dampak krisis iklim akan lebih buruk dari pandemi, terutama jika manusia tidak mengambil tindakan yang tepat untuk menghindari tragedi yang sudah menghadang.

Berbagai kegiatan yang tidak memerhatikan lingkungan seperti alih guna lahan tidak terencana, dan penggunaan bahan bakar fosil berlebihan merupakan pemicu krisis iklim. Dampaknya seperti badai, banjir, tanah longsor, dan kekeringan menjadi ancaman besar bagi kehidupan manusia.

Para peneliti dan pengambil keputusan kini menyadari bahwa krisis iklim dan dampaknya yang menghancurkan tidak dapat diselesaikan hanya dengan teknologi atau tata kelola pemerintahan. Apa yang perlu dilakukan untuk menggalang kreativitas dan inovasi agar dapat menjauhkan manusia dari bencana sosial dan lingkungan adalah mengubah pola pikir.

Pola pikir memiliki beragam definisi. Profesor Carol Dweck dari Universitas Stanford dengan bukunya yang sangat popular “Mindset: The New Psychology of Success,” menyimpulkan bahwa pola pikir adalah persepsi diri atau teori-diri yang dipegang orang-orang tentang diri mereka sendiri.

Orang-orang dengan pola pikir tetap (fixed mindset)— mereka yang meyakini bahwa kemampuan itu tetap — lebih kecil kemungkinannya untuk berkembang daripada mereka yang memiliki pola pikir tumbuh (growth mindset) — mereka yang percaya bahwa kemampuan dapat dikembangkan. Para ilmuwan kemudian menyimpulkan, bahwa pola pikir tumbuh dapat dipelajari.

DR. Scott Lankford, seorang penulis dan petualang, mengaitkan pendapat Carol Dweck dengan krisis iklim. Pola pikir tumbuh, menurutnya, membantu manusia menanggapi ancaman bencana iklim yang kian meningkat, karena dapat membangkitkan imajinasi masyarakat, ketahanan teknologi, dan tekad politik.

Sementara itu, Dr. Ir. Darhamsyah, M.Si, Kepala Pusat Pembangunan Ekoregion Sulawesi dan Maluku, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, yang juga seorang “brain based coach,” mengatakan bahwa pola pikir adalah kebiasaan pikiran (mind habits) yang dapat dikembangkan. Pola pikir untuk melestarikan lingkungan memengaruhi sikap, selanjutnya sikap memengaruhi tindakan, dan tindakan akan memengaruhi hasil.

Pada dasarnya manusia memiliki karakter biophilia, yaitu cenderung dekat dengan alam, dan fitrahnya ingin selalu berafiliasi dengan bentuk kehidupan lain. Karenanya, manusia harus selalu dekat dengan alam, memiliki kecerdasan lingkungan, dan selalu memberi kesejahteraan kepada semua makhluk hidup. Semakin tinggi indeks skala keterhubungannya dengan alam, maka manusia akan semakin sehat dan bahagia.

Darhamsyah menulis buku berjudul “Enjoy Life with Eco Life,” yang memaparkan berbagai upaya yang dapat dilakukan untuk hidup bersahabat dengan alam. Selain itu ia juga mengungkapkan kiat-kiat untuk menata pola pikir cinta lingkungan yang terbukti berhasil. Lima kunci hidup sukses dengan lingkungan, menurutnya adalah keyakinan, kesadaran, kepedulian, kesungguhan, dan kebudayaan.

Dalam dimensi internasional, penulis Christiana Figueres dan Tom Rivett-Carnac merekomendasikan  pola pikir untuk aktivisme iklim. Pada buku “The Future We Choose: Surviving the Climate Crisis,” mereka menulis bahwa
pola pikir ini bertumpu pada tiga sikap yang sebenarnya bukan hal baru. Pertama, optimisme kuat, untuk melawan pesimisme dan kegagalan. Kedua, kelimpahan tiada habisnya, yaitu keyakinan bahwa ada sumber daya yang cukup untuk semua orang, guna menghindari daya saing. Ketiga, regenerasi radikal, yang memahami bahwa kelangsungan hidup manusia tergantung pada alam.

Pada prinsipnya, berbagai kebijakan maupun tindakan untuk menanggulangi krisis global seperti pandemi maupun perubahan iklim, harus diawali dengan pola pikir yang tepat.

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF