Senjakala Narasi Besar dan Munculnya Local Genius
Al-Zastrouw
Budayawan, Dosen Pasca Sarjana UNSIA Jakarta, Kepala UPT Makara Arts Cetre UI Jakarta
berita
Berpikir Merdeka
Ilustrasi muid/watyutink.com 05 June 2020 15:32
Watyutink.com - Melihat fenomena yang muncul di dunia akhir-akhir ini menandakan sedang terjadi senjakala narasi-narasi besar yang bisa meruntuhkan kekuatan besar dunia. Idealitas konsep humanisme liberal yang menjunjung tinggi nilai-nilai kebebasan manusia, kesetaraan, anti diskriminasi kini seolah hilang disapu badai sektarian dan gerakan intoleran. Demokrasi, HAM dan toleransi seolah ambyar seiring dengan datangnya gelombang kerusuhan, anarki dan kemarahan. Bahkan negara super power Amerika Serikat yang dikenal sebagai kampium demokrasi dan polisi dunia, seolah tidak berdaya menghadapi gelombang aksi massa dengan isu rasial.

Di belahan dunia lain, klaim-klaim modernisme sebagai solusi segala persoalan hidup juga mengalami deklinasi. Sains dan teknologi, sebagai anak kandung modernisme, yang selama ini diklaim sebagai sarana menciptakan kesejahteraan, kemakmuran dan kehidupan yang serba mudah dan nikmat ternyata menimbulkan arus balik yang mengancam kehidupan manusia, seperti terlihat pada munculnya krisis lingkungan karena eksploitasi alam, krisis kemanusiaan (alienasi, depresi, trafficking dan sebagainya).

Selain itu, propaganda kemajuan sains dan teknologi yang bisa menjadi alat pelindung diri bagi manusia ternyata lumpuh menghadapi serangan mahluk halus yang tidak kasat mata, yaitu virus Covid-19. Kecanggihan senjata militer yang bisa menghancurkan dunia, kecanggihan sains dan teknologi kesehatan yang konon mampu mendeteksi penyakit sampai ke akar-akarnya kelihatan tidak berdaya menghadapi penyebaran wabah virus Corona. Bahkan para ahli virus yang sudah hampir 70 tahun melakukan penelitian terhadap virus Corona tampak kedodoran membendung pandemi Covid-19. Hal ini tampak jelas pada sikap negara-negara maju di Eropa dan Amerika yang gagap dan aburadul menangani para pasien Covid-19.

Senjakala narasi besar ini tidak hanya melanda modernisme dengan sains dan teknologinya, tetapi juga narasi-narasi besar yang muncul dari agama (Islam). Klaim-klaim para agamawan yang menyatakan agama sebagai penyelamat manusia, bisa menciptakan kebahagiaan dunia akhirat, mewujudkan kedamaian dan ketenteraman hidup ternyata juga melahirkan kenyataan yang berseberangan. Alih-alih mewujudkan klaim yang selalu dipropagandakan tersebut, yang ada justru agama menjadi legitimasi untuk menciptakan permusuhan, menebar kebencian dan fitnah yang bisa memancing timbulnya konflik dan pertikaian. Bahkan muncul perilaku manusia yang tega membunuh sesamanya atas nama agama. Dan anehnya, realitas seperti ini justru muncul di negara-negara yang mengklaim diri sebagai negara Islam atau yang mayoritas Islam; Suriah, Iraq, Iran, Arab Saudi, Libya, Sudan, Afganistan dan sebagainya. Gerakan ini dimotori oleh kaum fundamentalis-puritan yang menganggap narasi mereka adalah sebagai agama, sehingga narasi yang berbeda dengan mereka akan dilindas karena dianggap sebagai musuh agama.

Kelompok terakhir ini juga gagal menghadapi serangan wabah Covid-19. Klaim-klaim mereka bahwa Corona adalah tentara Allah yang hanya menyerang orang yang tidak beriman, virus tidak akan menyerang orang yang beribadah dan sejenisnya, ternyata tidak terbukti. Data menunjukkan, kegiatan agama yang memancing kerumunan ternyata juga menjadi sarana penyebaran virus, seperti terlihat pada kasus misa umat Nasrani di Korsel, pertemuan Jamaah Tablig, pesantren Temboro. Bahkan negara-negara yang mayoritas Islam dan mengkalim diri sebagai negara Islam tidak lepas dari serangan wabah Covid-19. Sehingga tempat yang paling suci bagi umat Islam; Makkah dan Madinah harus ditutup karena pandemi Covid-19.

Sebenarnya kritik atas narasi besar modernisme ini sudah dikakukan oleh beberapa pemikir modern, seperti terlihat pada gagasan postmodernisme yang dimotori oleh Jean-Francois Lyotard, Michael Foucault, Jacques Derrida, Jean Baudrillard, dan Fedrick Jameson. Pemikiran Postmodernisme ini bercorak dekonstruktif, relatif, dan pluralis ini secara tegas menolak klaim-klaim narasi besar modernisme. Kritik yang tajam atas modernisme, terutama yang terkait dengan kapitalisme, juga dilakukan oleh para pemikir madzahab Franfurt yang dimotori oleh tiga serangkai Theodore Adorno, Marx Hokheimer dan Herbert Markus. Manurut para pemikir Madzhab Frankfurt, Kapitalisme modern sudah menggunakan topeng humanis untuk menutupi sikapnya yang eksploitatif terhadap alam dan manusia (Valentinus Saeng, 2012). Melalui seni dan kebudayaan manusia dijebak sehingga terpenjara dalam pemujaan terhadap idola yang membuat mereka menjadi pasif, lemah, dan rentan terhadap manipulasi dan eksploitasi. Hal tersebut merupakan keberhasilan konspirasi kapitalisme lewat budaya populer (Hardiman 2003: 34).

Sedangkan para pemikir teori kritis yang dimotori oleh Jurgen Habermas menyatakan perkembangan teknologi, yang seharusnya membuat masyarakat modern menjadi lebih kritis, justru malah membuat mereka kehilangan kemampuan untuk berpikir kritis. Berbagai inovasi di bidang teknologi justru digunakan oleh para pemilik modal untuk menjinakkan masyarakat. Teori kritis memandang budaya masyarakat modern sebagai sesuatu yang palsu yang diciptakan untuk mengatur dan menjinakkan masyarakat (Ritzer, George, 2010; 284-86).

Kritik terhadap narasi besar agama (Islam) yang memunculkan kejumudan dan melahirkan teologi kekerasan juga sudah dilakukan oleh pemikir Islam sebagaimana terlihat pada pemikiran Islam progresif levolusioner Hassan Hanafi melalui karyanya Minal Aqidah Ila Tsaurah (Dari Dogma ke Revolusi) dan al-Yasarul Islam (Kiri Islam), Abudullah Ahmad an-Na’im melalui konsep Dekonstruksi Syariah, Ibn Abid Al-Jabiri, melalui Kiritik Nalar Arab, Abdurrahman Wahid melalui pemikirannya tentang humanisme Islam dan beberapa pemikir kritis progresif lainnya.

Namun kritik narasi besar modernisme dan agama itu sepertinya tidak dihiraukan oleh kaum modernis sekuler maupun kaum agamis fundamentalis-puritan. Merek terus mengumadangkan narasi-narasi besar tersebut dengan klaimnya masing-masing. Di era milenial ini gerakan mereka semakin masif dan ofensif, sekalipun telah menimbulkan berbagai krisis di berbagai aspek kehidupan. Sampai akhirnya muncul wabah Covid-19 yang menyebar ke seluruh dunia.

Keberadaan pandemi Covid-19 telah meluluhlantakkan tatanan sosial budaya yang selama ini dikendalikan dan dikuasai oleh narasi besar modernisme dan agama. Relasi sosial, gaya hidup, tata cara peribadatan, standar kesalehan dan berbagai aspek kehidupan terpaksa direkonstruksi dan di tata ulang. Hiperrealitas yang diciptakan oleh kaum modernis dan kelompok puritan hancur. Mall dan pabrik yang menjadi simbol masyarakat modern kapaitalis sepi. Beribadah secara berkerumun yang selama ini dianggap sebagai syiar agama berhenti. Manusia dipaksa menyesuaikan diri dengan kebiasaan dan tata kehidupan baru yang dikenal dengan istilah new normal.

Pandemi Corona tidak hanya menuntut adanya kebiasaan baru, tetapi juga norma-norma dan standar baru dalam kehidupan. Misalnya, syiar agama tidak lagi ditentukan semata-mata oleh jumlah massa yang berkerumun saat melaksanakan ritual agama, ekonomi dan bisnis tidak hanya diukur dari keuntungan material semata dan sebagainya. Pendeknya ada perubahan radikal dalam perilaku bisnis, ekonomi dan ekspresi keagamaan.

Era senjakala narasi-narasi besar karena pandemi Covid-19 yang memaksa manusia membangun tananan baru merupakan momentum tepat untuk menggali kecerdasan lokal (local genius) dan kearifan lokal (local wisdom) yang selama ini terpinggirkan dan dipandang pejoratif karena desakan modernisme dan puritanisme agama. Berbagai macam tradisi dan sistem pengetahuan lokal bisa digali untuk dijadikan acuaan dan bahan baku (resources) untuk menjawab persoalan yang tidak lagi mampu dijawab oleh narasi besar agama maupun modernisme.

Salah satu hal yang bisa ditunjuk adalah tradisi cuci kaki dan tangan sebelum masuk rumah. Zaman dahulu bangsa Nusantara selalu menyediakan gentong berisi air yang ditaruh di suatu bilik khusus di samping kiri rumah yang disebut dengan “pakiwan”. Bilik ini berfungsi sebagai tempat mencuci kaki dan tangan ketika seseorang mau memasuki rumah sehabis bepergian. Tradisi ini dihilangkan karena dianggap mengandung mitos, takhayul dan tidak praktis. Tradisi yang sarat makna seperti ini jumlahnya sangat banyak di negeri ini. Jika digali, dieksplorasi dan dilakukan saintifikasi maka akan bisa menjadi jawaban atas narasi besar yang sudah memasuki era senjakala.

Demikian juga yang terkait dengan jamu dan obat-obatan yang bersumer dari tanaman. Semua dihilangkan karena dianggap tidak sesuai dengan standar kesehatan, padahal hal itu sudah terbukti secara faktual selama berabad-abad bisa menyembuhkan penyakit. Namun karena tidak sesuai standar medis, tidak bisa dijelaskan secara saintifik dan ilmiah maka hanya dianggap mitos dan sugesti. Akibatnya khazanah pengobatan herbal non kimiawi ini hilang dilindas obat-obatan kimia produk modern.

Kalau tumbuh-tumbuhan yang bisa menjadi bahan tersebut dianggap belum memenuhi standar ilmiah dan saintifik untuk dijadikan obat, mestinya dilakukan upaya saintifikasi dan penelitian bukan malah ditinggalkan. Ketika obat-obatan kimia tidak mampu menjawab krisis kesehatan dan menimbulkan kontra indikasi yang membahayakan manusia, maka sudah selayaknya menggali berbagai potensi tanaman obat yang secara tradisional belum bisa dijelaskan secara saintifik namun secara faktual memiliki khasiat dan manfaat yang nyata.

Era new normal pada hakekatnya adalah momentum untuk mendialogkan khazanah tradisi dan sistem pengetahuan lokal dengan narasi besar modernisme dan agama agar tercipta tatanan kehidupan dengan budaya baru yang bersumber dari local wisdom dan local genius. Sudah bukan waktunya membenturkan narasi besar dengan narasi kecil yang bersifat lokal, keduanya harus digali dan dikembangkan dan dibangun hubungan yang komplementer bukan kontradisktif sebagaimana yang terjadi saat ini.

Dalam konteks ini dibutuhkan kreativitas dan kearifan yang tinggi. Karena ini merupakan kerja kebudayaan yang tidak saja memerlukan kecerdasan nalar tetapi juga kepekaan nurani. Dan di era pandemi Covid-19 inilah momentum yang tepat untuk melakukannya. 

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF