Vaksinasi VS Infeksi, Siapa Pemenangnya?
Sarwani
Jurnalis Watyutink.com
berita
Berpikir Merdeka
19 January 2021 16:00
Watyutink.com – Mulai 13 Januari 2021, masyarakat akan menyaksikan satu balapan yang akan menguras emosi. Dua kontestan yang menjadi pesertanya, yakni program vaksinasi yang resmi berjalan pada tanggal tersebut dan infeksi atau penularan Covid-19. Keduanya akan berlomba untuk mencapai angka tertinggi, berapa banyak yang dapat divaksinasi dan berapa yang terinfeksi virus corona di satu waktu yang sama. 

Penularan Covid-19 sudah terjadi sejak tahun lalu dan angkanya hampir mencapai 1 juta orang. Tapi dalam permulaan balapan, jumlah tersebut tidak dihitung. Per 13 Januari 2021, semuanya berangkat dari angka nol. Program vaksinasi nol, penularan Covid-19 juga nol. Baru setelahnya dimulai hitungan yang baru.

Aksi susul-susulan angka mungkin akan terjadi. Ketika program vaksin berjalan lancar, akan banyak masyarakat yang mendapatkan vaksinasi. Pada saat bersamaan, penularan Covid-19 diharapkan akan berkurang karena makin banyak orang yang kebal. Tapi ini baru asumsi. Jika yang terjadi penularan justru semakin banyak atau tidak dapat dikurangi, ‘balapan’ ini akan menjadi sangat mendebarkan.

Vaksinasi sebagai kontestan pertama punya kecepatan yang terukur, yakni 181,5 juta orang akan mendapatkan vaksinasi dalam 15 bulan ke depan. Rinciannya, Januari hingga April 2021 sebanyak 1,3 juta tenaga kesehatan dan 17,4 juta petugas publik yang ada di 34 provinsi, dilanjutkan kepada masyarakat umum yang akan berlangsung selama 11 bulan, yakni dari April 2021 hingga Maret 2022.

Jika vaksinasi yang melaju lebih kencang dibandingkan dengan penularan Covid-19, maka rakyat Indonesia bisa bernapas lega. Keseriusan pemerintah untuk mencegah penyebaran virus Corona dan tindakan vaksinasi ini akan menimbulkan kepercayaan di tengah masyarakat.  Luka dan kesedihan yang ditimbulkan pandemi Covid-19 terobati, ekonomi akan pulih.

Masyarakat bisa kembali percaya diri untuk menjalankan kegiatan sebagaimana mestinya. Hal ini juga bisa mendorong dunia usaha untuk kembali bergerak dan menjalankan roda perekonomian.

Vaksin saat ini menjadi harapan terbaik dunia untuk mengatasi pandemi. Begitu juga dengan perekonomian Indonesia, vaksin diharapkan menjadi kunci pemulihan konsumsi rumah tangga, investasi, dan pertumbuhan ekonomi.

Pertumbuhan ekonomi dan konsumsi seperti dua sisi mata uang yang sulit dipisahkan. Selama pagebluk, perekonomian terkontraksi lantaran konsumsi tumbuh negatif. Konsumsi terkontraksi karena rumah tangga menengah atas belum percaya diri.

Vaksinasi akan mendorong ekspetasi dalam konsumsi. Dalam model pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) 2021 yang dibuat oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), bila tahun ini berjalan tanpa vaksin, PDB hanya akan tumbuh di kisaran 1,57-2,07 persen.

Bila vaksinasi dilakukan sebanyak 30 persen, pertumbuhan ekonomi akan tumbuh 2,99-3,49 persen. Bila proses vaksinasi telah mencapai 50 persen, pertumbuhan PDB diperkirakan tumbuh 3-3,7 persen.

Pemerintah pun sudah menyiapkan beberapa strategi pemulihan ekonomi dari dampak pandemi Covid-19. Strategi tersebut dijalankan sejak hari pertama 2021. Selain vaksinasi, strategi yang akan mendorong pertumbuhan ekonomi di 2021 adalah implementasi omnibus law Undang-Undang Cipta Kerja, dilanjutkan dengan program pemulihan ekonomi (PEN) yang sudah digencarkan sejak tahun lalu.

Strategi lain yang disusun pemerintah adalah melanjutkan dukungan kebijakan untuk pemberdayaan UMKM, menyusun daftar prioritas investasi (DPI), pembentukan lembaga pengelola investasi atau LPI, program ketahanan pangan, pengembangan kawasan industri, mandatori B30, program padat Karya, dan pengembangan ekonomi digital.

Namun harus diingat, vaksinasi tidak serta merta akan membuat ekonomi Indonesia pulih. Proses vaksinasi masih membutuhkan waktu. Ada banyak penduduk yang harus divaksin, ditambah kendala geografis untuk mencapai kekebalan komunitas.

Selain itu, muncul varian baru Covid-19 seperti ditemukan di Inggris yang dapat mengubah kemampuan vaksin yang sudah ada saat ini untuk meciptakan kekebalan pada tubuh manusia sehingga program vaksinasi akan membutuhkan waktu lebih lama lagi. Oleh karena itu, perusahan atau sektor usaha tidak akan langsung beroperasi 100 persen. Penyerapan tenaga kerja lambat dan angka kemiskinan tak langsung berkurang.

Sementara itu, kontestan kedua tidak memiliki target kecepatan. Ia melaju apa adanya, tergantung kepada ‘dukungan’ pemerintah dan masyarakat. Saat otoritas kesehatan dan masyarakat kendor dalam menerapkan protokol kesehatan, di situlah ia mendapatkan dukungan untuk menambah laju kecepatannya menginfeksi orang-orang.

Kontestan yang satu ini sering membuat kejutan dengan rekor angka tertinggi yang belum pernah tercatat sebelumnya. Tiba-tiba ia ngebut dengan belasan ribu orang terjangkit dalam satu hari, tergantung pada sikap pemerintah dan masyarakat. Umumnya orang-orang bersikap benci tapi rindu padanya. Benci dengan penyebaranya, tapi rindu jalan-jalan ke mal, berlibur, berkerumun yang membuat penyebarannya semakin masif.

Aturan balap menyebutkan bahwa siapa yang paling depan, ia adalah pemenangnya. Suka tidak suka, siapa pun juaranya--program vaksinasi atau penularan Covid-19-- merupakan hasil dari ‘dukungan’ pemerintah dan masyarakat kepadanya. 

SHARE ON

PILIHAN REDAKSI

close

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Abdillah Ahsan, Dr., S.E, M.S.E.

Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas indonesia, Peneliti Lembaga Demografi FEB UI