Awas! Kertas Cokelat Pembungkus Nasi Picu Penyakit Kenker
berita
Sumber Foto : kaskus.co.id
16 September 2019 09:15
Watyutink.com – Hampir sebagian besar warung makan di Indonesia membungkus makanannya dengan kertas warna cokelat atau biasa disebut “kertas nasi”. Dibalik harganya yang relatif murah, praktis, dan mudah didapat ternyata kertas ini dapat mengganggu kesehatan.

Tahukah Anda bahaya dari penggunaan kertas warna cokelat pembungkus nasi ini?

Baca Juga

Menurut penelitian yang dilakukan Dr. Lisman Suryanegara dari Pusat Penelitian Biomaterial LIPI menjelaskan, bahwa kertas warna cokelat pembungkus nasi ini terbuat dari kertas daur ulang. Berdasarkan uji mikrobiologi yang dilakukannya, ditemukan kandungan berbahaya seperti logam berat serta terdapat 1,5 juta koloni bakteri berbahaya.

Selain itu dalam kertas ini mengandung bahan kimia bisphenol A (BPA) yang sangat tinggi. Bahan kimia ini  sering digunakan untuk membuat wadah makanan (kertas dan plastik). BPA berfungsi untuk melapisi kertas agar tahan dari panas. Migrasi bahan kimia berbahaya dari kertas ini ke dalam makanan dipengaruhi oleh faktor suhu tinggi, asam, berkuah, dan berminyak. Bahan kimia ini apabila masuk ke dalam tubuh dapat meningkatkan risiko kanker payudara, kanker kelenjar getah bening, gangguan reproduksi, hingga mutasi gen.

Alangkah baiknya jika kita segera mengganti makanan yang dibungkus kertas ini ke dalalam wadah yang food grade, atau membawa wadah makanan sendiri ketika ingin membungkus makanan.

(Zc)

SHARE ON
OPINI PENALAR
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Lana Soelistianingsih, Dr., S.E., M.A.

Ekonom Universitas Indonesia, Kepala Riset/ Ekonom Samuel Aset Manajemen

Mohammad Faisal

Direktur Centre of Reform on Economic (CORE) Indonesia

Ahmad Heri Firdaus

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

FOLLOW US

Perubahan Nomenklatur Tak Efektif dalam Jangka Pendek             Ketergantungan pada Komoditas Dikurangi, Perbanyak Industri Olahan Berbasis Komoditas             Setia Ekspor Komoditas Alam, atau Diversifikasi Ekspor?             Perlu, Optimalisasi Non Tariff Measure (NTM)             Kebijakan NTM akan Bermanfaat, Selama Tidak Berlebihan.             Sesuaikan pilihan jenis NTM dengan karakteristik produk impor             Kebijakan Mandek Terganjal Implementasi, Koordinasi, Eksekusi               Pemerintah Sibuk Urusi Poliitk             Tinjau Kembali Struktur Industri Nasional             Benahi Dulu ICOR Indonesia