Benarkah Kita Dianjurkan Berbuka Puasa dengan Yang Manis, Simak Penjelasannya
berita
Ilustrasi/ Net
13 April 2021 17:15
Watyutink.com - Waktu berbuka adalah saat yang paling ditunggu umat Islam selama bulan Ramadhan. Pasalnya saat itulah umat Islam diperbolehkan kembali makan dan minum setelah seharian berpuasa. Umat Islam pun berlomba-lomba mencari makanan dan minuman untuk berbuka atau ifthar.

Selama ini muncul anggapan bahwa menu terbaik untuk berbuka adalah sesuatu yang manis. Begitu populernya hingga ada yang beranggaoan berbuka dengan yang manis adalah perintah atau anjuran agama. Padahal  slogan “berbukalah dengan yang manis” adalah iklan salah satu produk minuman.

Sebenarnya Islam mengajarkan umatnya untuk berbuka menggunakan buah kurma dan air putih. Hal ini sesuai dengan hadis yang diriwayatan oleh Abu Daud dan Ahmad, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berbuka dengan ruthb sebelum menunaikan shalat. Jika tidak ada, maka beliau berbuka dengan tamr. Dan jika tidak ada yang demikian beliau berbuka dengan seteguk air.”

Ruthb adalah kurma basah dan tamr adalah kurma kering.

Tahukah Anda, mengapa buah kurna sangat baik dijadikan makanan berbuka?

Selama berpuasa, kita tidak mengkonsumsi apa pun, baik makanan maupun minuman selama sekitar 12 jam hingga 14 jam. Itulah sebabnya saat berbuka kita disarankan mengkonsumsi makanan yang bergizi yang dapat kembali memenuhi kebutuhan tubuh.

Namun perlu diingat, makanan untuk berbuka haruslah yang mudah dicerna. Pasalnya selama berpuasa pencernaan ‘berhenti’ beroperasi dan lambung pun kosong.  Buah kurma adalah pilihan yang tepat untuk mengembalikan gizi dan energi tubuh setelah seharian penuh berpuasa.

Kurma diketahui mengandung banyak gula. Sebagian besar atau sekitar 55 persen gula dalam kurma berbentuk glukoasa. Sisanya, sekitar 45 persen berbentuk fruktosa. Itulah sebabnya glukosa dalam kurma bisa cepat berubah menjadi fruktosa yang dapat langsung diserap tubuh melalui sistem pencernaan.

Kebutuhan nutrisi dan energi organ-organ tubuh seperti sel-sel otak, sel-sel saraf, sel-sel darah merah dan sel-sel tulang belakang juga bisa segera dipenuhi. Buah kurma juga mengandung banyak serat dalam bentuk pektin. Jumlahnya jauh lebih banyak dibandingkan buah-buah yang lain. Pektin adalah jenis serat pangan yang sangat mudah larut dalam air. 

Selain itu, kandungan serat dalam kurma dapat bertindak sebagai prebiotik. Hal ini dapat membantu pertumbuhan bakteri baik pada saluran usus besar manusia. Itulah sebabnya  mengkonsumsi kurma diyakini membawa pengaruh positif bagi kesehatan organ pencernaan.

Buah kurma juga bisa memenuhi kebutuhan energi. Para ahli kesehatan mengatakan mengkonsumsi 100 gram kurma dapat memenuhi kebutuhan energi harian sebanyak 12 persen hingga 15 persen. Sehingga berbuka menggunakan buah kurma dapat membantu mengembalikan engeri setelah seharian penuh berpuasa.

Bersyukurlah kita, saat ini buah kurma sudah banyak dijual di Indonesia, terutama selama bulan Ramadhan. Sehingga kita tidak kesulitan mendapatkan buah khas timur tengah ini. Berbuka dengan kurma dan air putih, selain menyehatkan juga sesuai dengan ajaran agama.

Jadi mulai sekarang, tinggalkan slogan “berbukalah dengan yang manis” tapi ganti dengan “berbukalah dengan yang benar.”

SHARE ON
OPINI PENALAR
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF