Beragam Manfaat Nyirih, Sehatkan Gigi dan Pencernaan Tapi Bisa Picu Kanker Mulut
berita

07 August 2019 17:20
Watyutink.com – Salah satu kebiasaan masa lalu yang kini sudah mulai ditinggalkan adalah makan sirih atau nyirih. Saat ini kebiasaan yang lazim dikerjakan di masa lalu ini hanya dilakukan oleh orang-orang tua. Hampir tidak ada generasi muda yang bersedia melakukan kebiasaan yang juga disebut nginang ini.

Padahal sebetulnya nyirih memiliki manfaat bagi kesehatan. Hal ini tak lepas dari daun sirih yang dipercaya memiliki beragam manfaat bagi kesehatan. Namun beberapa ahli kesehatan menyebut kebiasaan nyirih juga memiliki risiko mengganggu kesehatan.

Tahukan Anda, apa saja manfaat nyirih atau nginang dan apa pula efek negatifnya?  

Nyirih atau nginang adalah kebiasaan orang di masa lalu mengunyah daun sirih serta beberpa bahan tambahan lainnya, seperti pinang atau gambir, dan kapur. Terkadang juga ditambahkan daun tembakau atau jeruk untuk menambah rasa. Semua bahan-bahan tersebut disatukan dan selanjutnya dikunyah-kunyah dan dihisap.

Banyak pihak percaya nyirih sangat baik untuk kesehatan gigi. Hal ini tak lepas dari keberadaan daun sirih yang mengandung  beragam manfaat bagi kesehatan. Saat dikunyah, daun sirih dan buah pinang akan memicu produksi air liur yang mengandung beragam protein dan mineral. Zat-zat inilah yang dipercaya dapat menjaga kesehatan gigi. Selain itu air liur juga dapat membersihkan gigi dan gusi dari kotoran dan sisa makanan yang menempel.

Penelitian yang pernah dilakukan membuktikan, orang yang terbiasa nyirih akan terhindar dari penyakit karies gigi dan gigi berlubang.  Kandungan minyak atsiri, flavonoid, alkanoid, dan senyawa fenolik dalam daun sirih dipercaya dapat menghambat pertumbuhan bakteri penyebab karies gigi.

Nyirih juga bermanfaat bagi kesehatan sistem pencernaan. Pasalnya air liur berguna untuk mengikat dan melembutkan makanan. Akibatnya organ pencernaan seperti kerongkongan, usus, dan lambung menjadi lebih sehat.

Selain itu, nyirih juga bisa menjadi sumber energi. Pasalnya biji pinang diketahui mengandung zat psikoaktif yang merangsang tubuh memproduksi hormon adrenalin. Fungsi ini mirip dengan nikotin, kafein, dan alkohol. Setelah nyirih, tubuh cenderung menjadi lebih segar, berenergi dan meningkatkan konsentrasi.

Daun sirih juga memiliki kandungan antioksidan, antiinflamasi, dan antibakteri.  Zat-zat tersebut berguna untuk meredakan sakit tenggorokan dan meredakan demam.

Namun kebiasaan nyirih ternyata juga mempunyai efek samping. Salah satunya menyebabkan luka rongga mulut. Luka tersebut terbentuk akibat iritasi saat menguyah bahan-bahan seperti pinang dan sirih. Terlebih jika nyirih sudah menjadi kebiasaan yang tidak bisa dihentikan. Efek samping yang dihasilkan pun akan makin cepat muncul.

Dalam kondisi parah, nyirih akan menyebabkan mulut dan rahang terasa kaku. Hal ini diperparah dengan kenyataan bahwa hingga saat ini belum ada obat yang bisa menyembuhkan luka rongga mulut. Pengobatan yang dilakukan hanya utuk meringankan gejalanya saja.

Jika dibiarkan, kondisi tersebut bisa memicu terjadinya kanker mulut. Campuran sirih, pinang, kapur, dan tembakau ternyata memiliki sifat karsinogenik yang bisa memicu kanker mulut. Selain itu sifat karsinogenik dapat menyebabkan kanker esofagus atau kerongkongan, kanker laring, dan kanker pipi.

Bagi wanita hamil, sangat dianjurkan untuk tidak nyirih. Pasalnya nyirih saat hamil bisa mengakibatkan gangguan janin. Selain itu nyirih juga bisa memicu perubahan genetik pada DNA janin. Bahaya yang ditimbulkan nyirih sama dengan merokok yang juga bisa mengakibatkan bayi lahir cacat. (cp)

SHARE ON
OPINI PENALAR
close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Jerry Massie, Dr., M.A., Ph.D.

Direktur Eksekutif Political and Public Policy Studies

Yahya Agung Kuntadi, Ir., M.M.

Kepala Kantor UGM Kampus Jakarta, Institute of Research and Community LPPM UGM

FOLLOW US

Konsep Sudah Benar, Implementasinya Gagal             Tugas Terbesar Negara, Mencerdaskan Bangsa!             Indonesia Butuh Terobosan-terobosan Progresif Bidang SDM             Penekanan pada Memobilisasi Kapasitas Modal Manusia Lokal Secara Otentik             Meritokrasi vs Kabilisme             Kendalikan Harga Pangan untuk Menekan Inflasi             Utang Semakin Besar, Kemampuan Membiayai Pembangunan Berkurang             Perhatikan Belanja Non K/L yang Semakin Membesar             GBHN Isu Elite Politik Saja             Kepentingan Politik Lebih Menonjol