Beragam Manfaat dalam Sepiring Thiwul, Makanan Tradisional yang Mulai Dilupakan
berita

14 August 2019 17:10
Watyutink.com – Saat ini rakyat Indonesia sudah sangat tergantung pada beras. Hal ini lantaran masyarakat hanya menganggap beras atau nasi sebagai satu-satunya bahan makanan pokok. Hal ini pula yang membuat rakyat Indonesia mudah ‘digoyang’ dengan kenaikan harga beras.

Indonesia sejatinya kaya akan makanan tradisional yang bukan dibuat dari beras. Sayangnya makanan tersebut  mulai dilupakan. Celakanya, makanan tersebut justru mendapat stereotip ‘miring’ dan dianggap makanan kaum pinggiran, masyarakat bawah. 

Padahal kuliner tradisional itu tidak kalah dengan makanan berbahan beras, baik rasa maupun manfaatnya bagi kesehatan. Salah satunya adalah thiwul, makanan tradisional dari Yogyakarta.

Tahukah Anda, apa itu thiwul dan apa pula manfaatnya bagi kesehatan?  

Thiwul atau tiwul adalah makanan yang terbuar dari gaplek, yakni singkong yang sudah dikeringkan. Meski kalorinya tidak sebanyak beras, tapi kandungan nutrisi dalam thiwul sangat beragam. Sebuah penelitian menunjukkan dalam 100 gram thiwul terdapat kandungan energi sebanyak 342 kilokalori, protein 2,3 gram, lemak 0,1 gram, dan karbohidrat 38,1 gram.

Selain itu thiwul juga memiliki kandungan mineral dan vitamin, seperti kalsium 27 miligram, fosfor 61 miligram, zat besi 61 miligram, dan vitamin B1 0,06 miligram.

Kandungan nutrisi tersebut membuat thiwul menyimpan beberapa manfaat bagi tubuh, salah satunya sebagai sumber energi tubuh. Kalori dalam thiwul dua kali lebih banyak dibandingkan kentang. Selain itu thiwul kaya akan kandungan karbohidrat yang nantinya diolah menjadi sukrosa. Zat inilah yang menjadi sumber utama energi yang mendukung tubuh melakukan aktivitas sehari-hari.

Singkong yang menjadi bahan dasar pembuat thiwul dikenal kaya akan kandungan vitamin B kompleks. Selain itu singkong kaya akan kandungan thianim, folates, piridoksin, asam pantotenat, dan riboflavin yang bermanfaat untuk membantu pertumbuhan tubuh.  Zat-zat tersebut juga dapat memperoduksi sel darah merah guna mencegah penyakit anemia atau kurang darah.

Selain itu singkong juga memiliki kandungan protein yang cukup tinggi. Jika dibandingkan kentang, ubi, dan pisang, kandungan protein dalam singkong lebih banyak. Oleh karena itu thiwul dapat membantu meningkatkan daya tahan otot.

Sedangkan kandungan mineral dalam singkong seperti seng, tembaga, magnesium dan zat besi dapat menghindarkan tubuh dari berbagai penyakit seperti reumatik, diare, demam, sakit kepala, dan cacingan. Selain itu singkong juga bermanfaat untuk meningkatkan stamina.

Bagi Anda yang sedang menjalani program diet atau penurunan berat badan, thiwul adalah pilihan tepat. Pasalnya thiwul memiliki kandungan karbohidrat yang cukup tinggi sehingga cocok digunakan sebagai pengganti nasi. Sedangkan kandungan serat dalam thiwul membuatnya mudah dicerna dan kenyang lebih cepat.

Melihat beragam manfaat tersebut rasanya sangat disayangkan jika saat ini makanan keberadaan thiwul mulai dilupakan. Itulah sebabnya tidak ada salahnya kita membiasakan mengonsumsi makanan ini. Selain meningkatkan kesehatan, makan thiwul juga melestarikan budaya Nusantara.  

SHARE ON
OPINI PENALAR
close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Christianto Wibisono

Analis Bisnis/ Pendiri Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI)

Didin S. Damanhuri, Prof., Dr., SE., MS., DEA

Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Manajemen (FEM) IPB

Riza Annisa Pujarama

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

FOLLOW US

Presiden sedang Menggali Kuburnya Sendiri             Duet Tango DPR & KPK             Utamakan Tafsir Moral ketimbang Tafsir Hukum dan Ekonomi             Langkah Menkeu Sudah Benar dan Fokuskan pada SKM 1             Industri Rokok Harus Tumbuh atau Dibiarkan Melandai             Perizinan Teknis Masih Kewenangan Daerah             Kiat Khusus Pangkas Birokrasi Perizinan di Indonesia             Politik Etika vs Politik Ekstasi              Kebutuhan Utama : Perbaiki Partai Politik             Pengaruh High Class Economy dalam Demokrasi di Indonesia (Bagian-1)