Fakta Lain Seputar Proklamasi
berita
Sumber Foto : steemint.com
14 August 2019 09:00
Watyutink.com – Proklamasi kemerdekaan merupakan suatu sejarah yang membuat kita bangga sebagai bangsa Indonesia. Keterbatasan penguasaan teknologi ternyata tak menghalangi para pendiri bangsa ini terus berjuang hingga anda dapat berdiri di negeri ini saat ini juga.

Seputar kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945 ternyata ada rentetan kejadian unik yang harus anda ketahui. Meski mungkin tak tercatat dalam sejarah namun pegetahuan adalah pengetahuan yang layak anda pahami sebagai bangsa Indonesia.

Tahukah Anda, terdapat beberapa fakta unik seputar proklamasi kemerdekaan Indonesia?

Mobil pertama presiden Sukarno merupakan hasil curian. Pertanyaannya siapakah yang berani-beraninya mobil tersebut dari Jepang? Soediro ternyata mengambil mobil keren dan mewah tersebut dari garasi. Bahkan diceritakan Soediro mengambil mobil Buick paling keren se-Jakarta itu dengan meminta kunci yang dipegang oleh supir kala itu. Tak dijelaskan bagaimana cara Soediro mengambil kunci mobil tersebut, yang pasti mobil tersebut menjadi mobil pertama presiden pertama Indonesia.

Sehari sebelum Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, Sukarno dan Hatta ‘diamankan’ ke Rengasdengklok. Otak penculikan ini ternyata seorang pemuda bernama Wikana. Beberapa sumber lebih suka menggunakan kata ‘mengamankan’ daripada ‘menculik’. Apapun itu, tujuannya adalah mengamakan Sukarno dan Hatta secara fisik dan psikologis dari tekanan Jepang yang kala itu sudah kalah perang. Selain menculik Sukarno dan Hatta ke Rengasdenklok ternyata Fatmawati dan Guntur juga ikut diamakankan. Diketahui Guntur kala itu masih bayi berusia sembilan bulan.

Rekaman pembacaan proklamasi kemerdekaan yang selama ini anda dengar ternyata bukan rekaman asli. Bukan berarti rekamanan tersebut bukanlah suara Sukarno, namun rekaman yang selama ini tersebar dilakukan pada 17 Agustus 1951 untuk kebutuhan dokumentasi. Rekaman asli proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945 tidak dijelaskan.

Naskah asli proklamasi ditemukan di tong sampah. Naskah tersebut ternyata dibuang ke tong sampah dan ditemukan oleh seorang wartawan bernama Diah. Naskah yang yang diketik ulang oleh Sayuti Melik dan baru diserahkan oleh Diah kepada pemerintah pada tahun 1992.

Selain itu, film dokumentasi (film foto) proklamasi kemerdekaan hampir saja dicuri oleh Jepang. Untung saja seorang pemuda nekad bernama Frans Mendoer menyelamatkan dokumentasi negative film tersebut dengan menanamnya (menyembunyikan) di bawah pohon di kantor Harian Asia Raja. Bayangkan saja bila dokumentasi benar-benar hilang, maka mungkin saja proklamasi kemerdekaan dianggap sebagai tipuan belaka dan Indonesia sekarang ini bisa saja berbeda.

Penyebaran berita rekaman proklamasi kemerdekaan Indonesia ke seluruh tanah air dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Meski telah merdeka ternyata tak semudah itu melakukan penyiaran berita kemerdekaan, apalagi stasiun radio kala itu masih dikuasai oleh Jepang. Selain itu, para warga juga menyebarkannya melalui mulut ke mulut. Bahkan ada beberapa yang membagikan selebaran, berteriak dan menggambarkan grafiti pada tembok umum, gerbong kereta hingga trem kota.

Pada saat upacara proklamasi pun, Sukarno didatangi oleh lima (ada sumber yang menyebutkan tiga) orang tentara Jepang untuk menyampaikan perintah larangan. Rumah Sukarno kala itu dijaga ketat oleh pemuda dengan mata melotot bersenjatakan golok di tangan. Sehingga, tentara Jepang akhirnya memilih pergi daripada mempertaruhkan nyawa.

Kemerdekaan seyogiyanya harus kita syukuri dan rawat serta isi dengan pengabdian kepada negeri. Dengan demikian, cita-cita kemerdekaan untuk mencapai Indonesia yang adil, makmur dan sejahtera dapat tercapai. (yed)

SHARE ON
OPINI PENALAR
close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Christianto Wibisono

Analis Bisnis/ Pendiri Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI)

Didin S. Damanhuri, Prof., Dr., SE., MS., DEA

Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Manajemen (FEM) IPB

Riza Annisa Pujarama

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

FOLLOW US

Revisi UU KPK, Ancaman Terhadap Demokratisasi oleh Oligarki Predatoris             Presiden sedang Menggali Kuburnya Sendiri             Duet Tango DPR & KPK             Utamakan Tafsir Moral ketimbang Tafsir Hukum dan Ekonomi             Langkah Menkeu Sudah Benar dan Fokuskan pada SKM 1             Industri Rokok Harus Tumbuh atau Dibiarkan Melandai             Perizinan Teknis Masih Kewenangan Daerah             Kiat Khusus Pangkas Birokrasi Perizinan di Indonesia             Politik Etika vs Politik Ekstasi              Kebutuhan Utama : Perbaiki Partai Politik