Kebiasaan Saat Sakit yang Ternyata Salah Secara Medis
berita
Foto Istimewa
17 July 2019 08:00
Watyutink.com - Setiap orang pasti ingin selalu sehat. Tapi ketika sakit melanda, apapun akan dilakukan agar segera kembali sehat. Sayangnya, terkadang penderita melakukan metode penyembuhan yang umum dilakukan masyarakat namun sebenarnya justru berbahaya secara medis.

Tahukah Anda, ada beberapa kebiasaan saat sakit yang justru salah secara medis?

Saat seseorang mengalami demam, dia cenderung memakai atau diberi pakaian tebal atau selimut karena merasa dingin. Kebiasaan ini salah, karena memakai selimut atau pakaian tebal saat demam justru akan menyebabkan suhu panas yang dikeluarkan oleh tubuh tidak dapat menguap dan akhirnya membuat suhu tubuh semakin naik. Jika tidak segera diantisipasi, maka penderita demam bisa mengalami kejang-kejang. Tindakan yang paling benar adalah menyeka seluruh tubuh dengan kain basah terus-menerus selama 5-7 menit, sehingga lama-kelamaan suhu tubuh akan turun. Jangan menggunakan alkohol, karena alkohol akan diserap oleh kulit, dan mengompres hanya pada bagian kepala tidak efektif karena kontak permukaannya terlalu kecil.

Selain itu orang sering kali menghindari mandi saat demam karena takut tubuh semakin menggigil dan memperparah demamnya. Ternyata kebiasaan ini juga salah. Justru penderita demam tetap disarankan mandi dua kali sehari untuk menurunkan suhu tubuh dengan cepat dan menghindari terkena infeksi yang lain. Namun yang harus diperhatikan adalah air yang digunakan lebih baik air hangat untuk menyesuaikan dengan suhu tubuh. Tidak disarankan mandi dengan air dingin karena dapat menaikan suhu tubuh dan memparah demam. 

Anggapan bahwa mandi malam hari menyebabkan rematik ternyata keliru. Menurut keterangan dokter spesialis penyakit dalam dan konsultan reumatologi, Handono Kalim, mandi malam tidak masalah, anggapan mandi malam menyebabkan rematik itu hanya mitos. Jika tubuh dalam keadaan sehat dan memerlukan mandi untuk kebersihan maka tetap diperbolehkan mandi. Bagi penderita rematik, mandi malam tetap diperbolehkan, hanya saja tidak disarankan mandi dengan air dingin, karena rematik bisa kambuh saat dingin akibat perubahan tekanan udara.

Larangan mandi saat terkena cacar air atau campak karena takut penyakitnya semakin menyebar justru salah. Secara medis, pasien tetap disarankan untuk mandi dengan air mengalir dan sabun untuk mencegah perluasan penyakit dan membersihkan kuman-kuman pada kulit agar tidak menambah infeksi pada lenting cacar sehingga menimbulkan nanah. Timbulnya nanah menandakan telah terjadi tambahan infeksi bakteri sekunder pada ruam. Ketika mandi usahakan agar lentingan yang berisi air pada kulit tidak pecah, karena mengandung virus yang dapat menyebabkan penularan lebih lanjut.

Memijat tubuh ketika terkena angin duduk justru dapat menyebabkan pasien meninggal. Angin duduk merupakan rasa masuk angin yang disertai dengan keringat berbutir-butir besar, nyeri, rasa tertekan atau berat pada bagian dada. Hal ini bisa jadi gejala awal serangan jantung berat akibat sumbatan aliran darah ke jantung yang berfungi mempompa darah keseluruh tubuh. Penderita angin duduk harus segera diberi oksigen, obat, serta harus segera dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan medis yang tepat. 

Kerokan ketika merasa kurang enak badan atau masuk angin justru tidak diperbolehkan. Tanda merah setelah kerokan ternyata bukanlah tanda bahwa angin keluar, melainkan pecahnya pembuluh kapiler tepi yang berada di kulilt. Menurut dokter spesialis jantung dan pembuluh darah, dr Isman Firdaus, SpJP, MD, kerokan membuat kerusakan pada pembuluh darah, bahkan dapat membuat pembuluh darah pecah. Kerusakan tersebut menyebabkan penurunan antibodi dan menimbulkan inflamasi atau peradangan kulit. Perdangan tersebut dapat membahayakan seseorang apabila memiliki alergi tertentu. 

Ketika sakit alangkah baiknya untuk berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter untuk mendapatkan penanganan yang tepat. Selain menghindari semakin parahnya penyakit, juga dapat mmenghindari resiko fatal akibat kesalahan penanganan. (zaki)

SHARE ON
OPINI PENALAR
close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Jerry Massie, Dr., M.A., Ph.D.

Direktur Eksekutif Political and Public Policy Studies

Yahya Agung Kuntadi, Ir., M.M.

Kepala Kantor UGM Kampus Jakarta, Institute of Research and Community LPPM UGM

FOLLOW US

Konsep Sudah Benar, Implementasinya Gagal             Tugas Terbesar Negara, Mencerdaskan Bangsa!             Indonesia Butuh Terobosan-terobosan Progresif Bidang SDM             Penekanan pada Memobilisasi Kapasitas Modal Manusia Lokal Secara Otentik             Meritokrasi vs Kabilisme             Kendalikan Harga Pangan untuk Menekan Inflasi             Utang Semakin Besar, Kemampuan Membiayai Pembangunan Berkurang             Perhatikan Belanja Non K/L yang Semakin Membesar             GBHN Isu Elite Politik Saja             Kepentingan Politik Lebih Menonjol