Lomba 17 Agustusan Yang Terancam Punah
berita
Sumber Foto : bola.com
14 August 2019 16:10
Watyutink.com - Semarak perayaan kemerdekaan memang menyimpan banyak kenangan. Selain mengenang dan mengucap syukur atas kemerdekaan yang masih bisa dinikmati hingga detik ini, perayaan selalu ditandai dengan berbagai lomba.

Bagi anda yang lahir tahun 90-an kebawah tentu menyimpan memori berbagai lomba 17 Agustusan yang menyenangkan. Meski Indonesia tak seluas daun kelor, namun lomba demi lomba memiliki kesamaan di berbagai daerah. Beberapa perlombaan yang sangat popular seperti panjat pinang dan balap karung tentu tak asing.

Tahukah Anda, ternyata beberapa lomba 17 Agustusan ini terancam punah?

Lomba balap egrang. Perlombaan ini gampang-gampang susah. Meski di Desa begitu banyak bambu namun tak semua orang bisa bermain egrang. Diperlukan keseimbangan yang stabil agar bisa bermain egrang dengan baik. Ironinya lomba ini termasuk salah satu perlombaan 17 Agustusan yang sudah sangat jarang dilombakan. Pasalnya sudah jarang orang bisa memainkannya.

Memasukkan benang ke dalam jarum. Perlombaan ini tak sulit namun bagi beberapa orang terutama laki-laki memasukkan benang ke dalam jarum bukanlah perkara sederhana. Apalagi zaman sekarang, jangankan laki-laki atau bapak-bapak, perempuan juga sudah jarang bisa memasukkan benang ke dalam jarum. Lomba ini hampir jarang dilombakan, mungkin karena kurang diminati oleh masyarakat.

Lomba memindahkan kelereng pakai sendok. Lomba ini bisa lho menyebabkan gigi sakit jika tidak dilakukan secara benar. Sendok stainless bisa membuat gigi ngilu. Perlombaan ini termasuk populer dulunya dan memicu adrenalin karena tak mudah menjaga kestabilan tubuh dan menjaga sendok di mulut agar tidak begoyang sehingga kelereng bisa diantarkan dengan selamat.

Lomba gigit koin. Koin biasanya ditancapkan pada jeruk Bali (yang besar) atau kelapa. Perlombaan ini juga mulai jarang dilombakan. Entah karena peminat yang drastic menurun ataukah masyarakat yang mulai ‘bosan’ melakukan perlombaan yang mengenang masa-masa dulu.

Lomba “Nguwot” atau berjalan diatas bambu. Entah apa bahasa daerahnya di berbagai tempat. Intinya orang akan berjalan diatas bambu dan biasanya di bawahnya adalah sungai. Sehingga, jika orang jatuh maka akan tercebur ke sungai. Perlombaan ini sudah jarang, apalagi di perkotaan. Ya mungkin karena pengaruh sungai-sungai sudah tercemar dan tidak layak digunakan untuk lomba.

Itu adalah beberapa perlombaan yang hampir punah. Layaknya makhluk hidup, suatu perlombaan juga bisa punah atau lenyap jika tidak dijaga dan dilestarikan. Entah mulai lupa memang masyarakat kita sudah jengah dengan perayaan yang dipenuhi perlombaan. Meski demikian, esensi lomba adalah kebersamaan dan gotong royong dalam melakukan sesuatu. Esensi lomba apapun sepantasnya mengingatkan kita pada sebuah perjuangan dan tanggung jawab mengisi kemerdekaan. (yed)

SHARE ON
OPINI PENALAR
close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Christianto Wibisono

Analis Bisnis/ Pendiri Pusat Data Bisnis Indonesia (PDBI)

Didin S. Damanhuri, Prof., Dr., SE., MS., DEA

Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Manajemen (FEM) IPB

Riza Annisa Pujarama

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

FOLLOW US

Revisi UU KPK, Ancaman Terhadap Demokratisasi oleh Oligarki Predatoris             Presiden sedang Menggali Kuburnya Sendiri             Duet Tango DPR & KPK             Utamakan Tafsir Moral ketimbang Tafsir Hukum dan Ekonomi             Langkah Menkeu Sudah Benar dan Fokuskan pada SKM 1             Industri Rokok Harus Tumbuh atau Dibiarkan Melandai             Perizinan Teknis Masih Kewenangan Daerah             Kiat Khusus Pangkas Birokrasi Perizinan di Indonesia             Politik Etika vs Politik Ekstasi              Kebutuhan Utama : Perbaiki Partai Politik