Makan Berdiri Sebabkan Gangguan Lambung, Jantung, Ginjal
berita

25 April 2019 16:05
Watyutink.com – Saat ini sudah lazim orang makan sambil berdiri, terutama dalam acara-acara tertentu seperti pesta pernikahan. Jika dilaksanakan di gedung hampir dipastikan dilakukan secara standing party atau pesta berdiri. Para undangan tidak disediakan kursi untuk makan dan minum. Kalau pun ada, jumlah kursi tak sebanyak undangan yang hadir. Para undangan dipersilahkan makan dan minum sambil berdiri.

Padahal sebenarnya makan dengan posisi berdiri tidak baik untuk kesehatan. Itulah sebabnya para ahli kesehatan tidak menganjurkan makan sambil berdiri. Dalam ajaran agama Islam pun makan sambil berdiri sangat tidak dianjurkan. Makan dan minum sebaiknya dilakukan dalam posisi duduk.

Tahukah Anda, apa saja efek negatif kebiasaan makan sambil berdiri?

Alasan yang kerap dikemukakan, mengapa harus makan sambil berdiri adalah efisien. Pasalnya dengan standing party dilaksanakan tanpa perlu banyak kursi. Ruangan pesta pun akan terlihat lebih luas dan lapang. Selain itu suasana makan pun terasa lebih santai dan hangat. Undangan bisa berkumpul dan ngobrol santai saat makan sambil berdiri.

Padahal sejatinya makan sambil berdiri memiliki risiko yang tidak baik bagi kesehatan. Pakar kesehatan dari Slim Gourmet Catering, Desy Nur Arsita mengatakan posisi makan sangat berpengaruh pada kondisi tubuh. Desy menyebut jika seseorang makan sambil berdiri maka makanan dan minuman akan langsung jatuh dengan cepat dan keras ke saluran pencernaan seperti lambung.  

Meski lambung menerima makanan dari kerongkongan, namun makanan yang jatuh secara cepat ke lambung dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan, seperti iritasi pada dinding lambung. Selain menyebabkan perut jadi tidak nyaman, makan sambil berdiri juga bisa menyebabkan mual dan muntah.  

Makanan yang jatuh dengan cepat dari kerongkongan ke lambung ternyata juga bisa menimbulkan gangguna pada saraf otak kesepuluh yang juga memicu gangguan ritme denyut jantung.

Membiasakan diri makan sambil berdiri dapat menyebabkan makanan yang masuk lewat kerongkongan akan langsung berajalan dengan kasar menuju pencernaan, Sehingga dapat menyebabkan disfungsi saraf kronis pada saraf otak kesepuluh dan memicu denyut jantung menjadi kacau.

Makan sambil berdiri juga berisiko menyebabkan asam lambung naik. Terutama jika makanan yang dimakan mengandung cabai, merica, dan asam yang dapat merangsang naiknya asam lambung hingga mencapai esofagus atau kerongkongan. Selain itu bisa juga memberikan efek panas yang memicu iritasi di dinding esofagus.

Jika dibiarkan, dalam jangka panjang kondisi ini bisa memicu munculnya kanker esofagus. Pasalnya iritasi dan infeksi pada dindind esofagus dapat mempercepat pertumbuhan sel abnormal yang menjadi penyebab munculnya sel kanker aktif pada kerongkongan.

Makan sambil berdiri juga bisa menganggu kerja ginjal. Pasalnya makan sambil berdiri menyebabkan makanan tidak mengalami proses pencernaan secara normal.  Kerja ginjal pun menjadi lebih keras sebagai akibat penyerapan nutrisi yang terhambat. Jika dibiarkan ginjal akan lelah dan kinerjanya menurun. Dalam jangka panjang hal ini bisa memicu kerusakan ginjal yang lebih parah.

Makan sambil berdiri juga bisa menyebabkan ulu hati jadi tidak nyaman. Terlebih jika makan tanpa disertai minum. Otot disekitar ulu hati jadi menegang dan aliran darah pun menjadi tidak lancar. Jika dibiarkan kondisi ini bisa menimbulkan nyeri ulu hati dan memicu stres ringan

Selain berdiri, posisi yang tidak dianjurkan saat makan adalah tiduran atau berbaring. Pasalnya saat berbaring saluran pencernaan berada pada posisi sejajar dan bukan tinggi rendah. Hal ini menyebabkan makanan kembali naik ke kerongkongan.   

Posisi terbaik untuk makan adalah duduk. Pasalnya saat duduk saluran pencernaan berada dalam posisi tenang dan rileks. Akibatnya makanan bisa dicerna dengan sempurna dan maksimal. Makan sambil duduk juga bisa meminimalisir gangguan pada saluran pencernaan.

SHARE ON
OPINI PENALAR

PILIHAN REDAKSI

close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Tabrani Yunis

Pengelola majalah POTRET dan Majalah Anak Cerdas. Direktur Center for Community Development and Education (CCDE) Banda Aceh

Nanang Djamaludin

Direktur Eksekutif Jaringan Anak Nusantara (JARANAN), Konsultan Keayahbundaan dan Perlindungan Anak.

FOLLOW US

Tim Teknis Bikin Boros Anggaran Saja             Presiden dan Kapolri Perlu Ambil Sikap Tegas             Fungsi Hutan Tidak Hanya dari Aspek Ekonomi              Kodim Lakukan Pendekatan Pembinaan Teriorial Bukan Pendekatan Operasi Tempur             Lingkungan Baik Ciptakan Anak Sehat             Anak Memiliki Bakat dan Kecerdasan yang Berbeda             Indonesia Bakal Menuai Musibah Electronic Sports             Pemekaran Kodim vis a vis Visi Pertahanan Negara Poros Maritim Dunia             Menggugat Peran Keluarga  Dalam Perlindungan Anak             Anak, Tanggung Jawab Bersama