Maknai Hidup dengan Filosofi Jawa
berita
Sumber Foto : wikipedia
27 July 2019 17:05
Watyutink.com - Suku Jawa memiliki warisan leluhur yang sangat beragam. Tidak hanya rumah, pakaian, dan bahasa adat saja, namun Suku Jawa juga memiliki filosofi bijak yang sejatinya dapat dijadikan pedoman dalam hidup. Namun karena dianggap sudah tidak menarik untuk dipelajari, kebanyakan orang tua tidak mengajarkan filosofi jawa dalam kehidupan sehari-hari anak. Jadi tidak heran jika anak-anak zaman sekarang merasa asing dengan budaya adat sendiri.
 
Tahukah Anda beberapa filosofi bijak Suku Jawa yang dapat dijadikan pedoman dalam hidup?

Ajining diri saka lathi, ajining raga saka busana” artinya, yaitu kehormatan diri berasal dari ucapan, sedangkan kehormatan badan (raga) berasal dari pakaian. Filosofi ini mengajarkan tentang cara bersikap, bertutur kata, dan berpakaian yang baik. Secara umum filosofi ini dapat dimaknai bahwa segala sesuatu yang dikenakan (penampilan) dan tutur kata yang diucapkan (perkataan) akan menimbulkan reaksi timbal balik (penghargaan/ sikap hormat) orang lain kepada diri kita. 

Saiki jaman edan yen ora melu edan ora komanan, sing bejo sing eling lan waspodo” artinya, yaitu sekarang zaman gila, jika tidak ikutan gila tidak mendapatkan bagian, orang yang beruntung (selamat) yaitu orang yang ingat kepada Tuhan dan waspada. Filosofi ini didapatkan dari kitab Ronggo Warsito yang berjudul “Pujangga dari Tanah Jawa”. Filosofi ini mengajarkan kita jika ingin selamat dunia dan akherat, hendaknya senantinya mengingat Tuhan dalam segala hal, serta selalu waspada dalam melakukan suatu tindakan.

Nerimo ing pandum” artinya, yaitu menerima dengan pemberian. Filosofi ini mengajarkan untuk menerima dengan ikhlas segala ketentuan yang sudah ditakdirkan oleh Tuhan. Meskipun terkadang kenyataan tidak sesuai dengan harapan yang telah dicita-citakan, diusahakan, dan didoakan. 

Aja Ketungkul marang kalungguhan, kadonyan lan kemareman” artinya, yaitu janganlah terobsesi dengan keinginan untuk memperolek kedudukan, kebendaan (harta benda), dan kepuasan duniawi. Filosofi ini secara tidak langsung sebagai pengingat diri bahwa segala sesuatu yang ada di dunia ini hanya bersifat sementara dan tidak dibawa mati.  

Sopo nandur bakal ngunduh” artinya, yaitu siapa yang “menanam” nantinya akan memanen hasilnya. Filosofi ini secara umum bermakna apapun yang dilakukan pasti akan mendapatkan balasan. Filosofi ini biasa disebut dengan istilah karma. Oleh karena itu jika banyak berbuat baik, pasti nantiya akan mendapatkan manfaat dari kebaikan yang dilakukan, dan begitu pula sebaliknya.

Aja milik barang kang melok, ojo mangro mundak kendo” artinya, yaitu jangan mudah tergiur oleh segala sesuatu yang tampak indah, dan jangan cepat berubah pikiran agar tidak menyesal pada akhirnya. Secara umum filosofi ini mengajarkan untuk menahan hawa nafsu agar tidak mudah terjerumus dalam hal-hal negatif. Selain itu juga mengajarkan untuk tidak melakukan hal-hal negatif hanya untuk mendapatkan kesenangan hidup yang sementara.

Datan serik lamun ketaman, datan susah lamun kalangan” artinya, yaitu jangan mudah sakit hati ketika ditimpa musibah, dan jangan sedih ketika kehilangan sesuatu. Filosofi ini secara umum mengajarkan untuk tetap berfikir positif. Karena apapun yang terjadi sudah merupakan ketentuan Tuhan, dan meskipun ditimpa musibah hidup harus terus berjalan. 

Urip iku Urup” artinya, yaitu hidup itu nyala. Filosofi ini secara umum mengajarkan, bahwa kehidupan akan lebih bermakna jika mampu memberikan manfaat kebaikan pada sesama. Seberapa besar dan jumlah kebaikan yang dilakukan, pasti akan merasakan manfaatnya di waktu yang akan datang.

Meskipun hidup penuh dengan cobaan dan masalah, tidak ada salahnya menjadikan filosofi-filosofi bijak dari Suku Jawa sebagai pedoman hidup. Sehingga bisa lebih bijak dalam memaknai hidup. (zaki)

SHARE ON
OPINI PENALAR
close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Jerry Massie, Dr., M.A., Ph.D.

Direktur Eksekutif Political and Public Policy Studies

Yahya Agung Kuntadi, Ir., M.M.

Kepala Kantor UGM Kampus Jakarta, Institute of Research and Community LPPM UGM

FOLLOW US

Konsep Sudah Benar, Implementasinya Gagal             Tugas Terbesar Negara, Mencerdaskan Bangsa!             Indonesia Butuh Terobosan-terobosan Progresif Bidang SDM             Penekanan pada Memobilisasi Kapasitas Modal Manusia Lokal Secara Otentik             Meritokrasi vs Kabilisme             Kendalikan Harga Pangan untuk Menekan Inflasi             Utang Semakin Besar, Kemampuan Membiayai Pembangunan Berkurang             Perhatikan Belanja Non K/L yang Semakin Membesar             GBHN Isu Elite Politik Saja             Kepentingan Politik Lebih Menonjol