Mengenal Edema Paru, Penyakit yang Sebabkan Sesak Nafas dan Paru-paru Tenggelam
berita
Sumber Foto : halodoc.com
26 September 2019 17:05
Watyutink.com - Pernahkah Anda mengalami sesak nafas berkepanjangan. Bahkan terkadang Anda merasa susah bernafas seolah-olah seperti sedang tenggelam? Jika pernah, sebaiknya berhati-hati. Bisa jadi Anda mengalami penyakit Edema Paru.

Tahukah Anda, apakah Edema Paru itu?

Edema paru adalah suatu kondisi di mana seseorang kesulitan bernafas akibat penumpukan cairan dalam kantong paru-paru atau alveoli. Dalam kondisi normal, udara akan masuk dalam paru-paru dan selanjutnya okisgen akan disebarkan ke seluruh tubuh melalui aliran darah. Namun penderita edama paru akan kesulitan benafas lantaran paru-parunya justru terisi cairan. Akibatnya oksigen yang dihirup tidak dapat masuk ke paru-paru maupun aliran darah

Edema paru bisa terjadi secara tiba-tiba. Namun bisa juga bisa bekembang dalam jangka panjang.  Biasanya penderita akan merasa cepat lelah. Selain itu sesak nafas kerap muncul ketika penderita melakukan kegiatan fisik. Biasanya ditandai dengan munculnya suara nafas tersumbat atau yang sering disebut mengi.

Sesak nafas juga kerap terjadi saat sedang berbaring atau tidur. Hal inilah yang menyebabkan penderita edema paru sering bangun tengah malam saat tidur. Selain itu disertai pula dengan peningkatan berat badan dalam waktu cepat dan terjadinya bengkak pada kedua tungkai atau tumit.

Penderita edema paru juga kerap menderita sesak nafas secara tiba-tiba. Akibatnya penderita akan merasa seperti terkecik atau tenggelam. Mereka kerap terlihat cemas dengan mulut megap-megap seolah ingin mendapatkan oksigen lebih banyak. Edema paru juga sering disertai dengan batuk dengan dahak berbusa dan terkadang bercampur darah. Pada kondisi akut, penderita akan menderita nyeri di dada.

Para ahli menyebut, ada beberapa hal yang menjadi penyebab edema paru. Namun semuanya bisa dikelompokkan dalam dua golongan, yakni kadiogenik atau penyebab yang berasal dari jantung. Masuk dalam golongan ini adalah tekanan darah tinggi atau hipertensi akut. Edema paru juga bisa disebabkan rusaknya otot jantung yang menyebabkan fungsinya melemah atau kadiomiopati.

Masuk pula dalam golongan ini kondisi di mana terjadi kerusakan jantung seperti kaku, lemah, bocor dan jantung koroner. Tanpa penanganan yang tepat, kondisi ini bisa berakibat fatal. Darah tidak bisa dipompa ke seluruh tubuh. Akibatnya muncul tekanan pada pembuluh darah paru dan menyebabkan kebocoran cairan tubuh ke dalam paru-paru.

Penyebab kedua adalah nonkardiogenik atau bukan berasal dari jantung, seperti gagal ginjal, emboli paru atau penyumbatan pembuluh darah yang menuju paru-paru. Selain itu penyakit ketinggian (high-altitude pulmonary edema) dan Acute respiratory distress syndrome (ARDS) juga bisa menyebabkan edema paru.

Beberapa pemicu lainnya adalah demam berdarah dengue dan efek menghirup udara kotor akibat kebakaran dan gas beracun.

Jika Anda merasa mengalami gejala tersebut, segera ke dokter untuk mendapat penanganan lebih lanjut. Sebagai penanganan pertama, berikan penderita bantuan oksigen. Hal ini untuk mengurangi tekanan pada pembuluh darah baik sebelum masuk paru-paru dan jantung maupun sesudahnya.

Bisa juga diberikan obat diuretik seperti furosemide dan obat golongan nitrat seperti nitrogliserin. Diuretik bekerja untuk membuang cairan, sedangkan nitrat berguna untuk melebarkan pembuluh darah. Kedua jenis obat tersebut diharapkan bisa mengurangi tekanan di dalam pembuluh darah.

Bagi Anda yang merasa belum menderita edema paru sebaiknya berusaha melakukan pencegahan dengan rutin berolah raga, minimal 30 menit setiap hari. Disarankan pula mengonsumsi makanan sehat seperti sayur, buah serta makanan rendah lemak, gula, dan garam.

Rutin cek tekanan darah dan kadar kolesterol. Usahakan selalu berada di batas normal. Selain itu hindari rokok dan stres.

SHARE ON
OPINI PENALAR
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Lana Soelistianingsih, Dr., S.E., M.A.

Ekonom Universitas Indonesia, Kepala Riset/ Ekonom Samuel Aset Manajemen

Mohammad Faisal

Direktur Centre of Reform on Economic (CORE) Indonesia

Ahmad Heri Firdaus

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

FOLLOW US

Perubahan Nomenklatur Tak Efektif dalam Jangka Pendek             Ketergantungan pada Komoditas Dikurangi, Perbanyak Industri Olahan Berbasis Komoditas             Setia Ekspor Komoditas Alam, atau Diversifikasi Ekspor?             Perlu, Optimalisasi Non Tariff Measure (NTM)             Kebijakan NTM akan Bermanfaat, Selama Tidak Berlebihan.             Sesuaikan pilihan jenis NTM dengan karakteristik produk impor             Kebijakan Mandek Terganjal Implementasi, Koordinasi, Eksekusi               Pemerintah Sibuk Urusi Poliitk             Tinjau Kembali Struktur Industri Nasional             Benahi Dulu ICOR Indonesia