Mengenal Saturasi Oksigen, Salah Satu Indikator Seberapa Parah Pasien Covid-19
berita
Sumber Foto : kompas.com/Shutterstock
09 July 2021 16:10
Watyutink.com - Dalam beberapa pekan terakhir ada istilah yang sering kita dengar, yakni saturasi oksigen. Istilah ini menjadi populer menyusul terjadinya lonjakan kasus Covid-19 di tanah air. Pengukuran atau pemantauan saturasi oksigen sangat penting, termasuk bagi pasien Covid-19.

Sayangnya masih banyak orang yang kurang memahami apa saturasi oksigen itu. Padahal ukuran saturasi oksigen bisa menjadi salah satu indikator seberapa parah pasien Covid-19. Termasuk tindakan apa yang harus dilakukan.

Tahukah Anda, apa itu saturasi oksigen?

Saturasi oksigen adalah ukuran yang menunjukkan seberapa banyak oksigen yang terikat pada hemoglobin dalam darah. Bagi penderita Covid-19 pemantauan saturasi oksigen sangat penting guna mengetahui besarnya kadar oksigen dalam jaringan dan organ.

Banyak pasien Covid-19 mengalami penurunan kadar oksigen dalam darah. Hal ini seringkali menyebabkan gejala seperti kelelahan atau sesak napas. Meski tidak semua penderita Covid-19 mengalaminya, penurunan kadar oksigen harus segera ditangani guna mencegah akibat yang lebih fatal.

Penurunan kadar oksigen dalam darah bisa menyebabkan beberapa penyakit, seperti penyakit paru obstruktif kronik (PPOK), asma, pneumonia, kanker paru-paru, gagal jantung, serangan jantung, dan juga memperburuk kondisi pasien Covid-19.

Itulah sebabnya pemantauan saturasi oksigen sangat penting dilakukan. Sehingga jika terjadi penurunan kadar oksigen, bisa segera mendapat penanganan medis. Dilansir dari laman halodoc.com, pemeriksaan saturasi bisa dilakukan menggunakan dua cara. Pertama, menggunakan Pulse Oximeter. Cara ini paling umum digunakan untuk mengukur saturasi oksigen.

Cara atau metode ini memerlukan alat
pulse oximeter yang penggunaannya sangat mudah dan tidak menimbulkan rasa sakit. Hanya perlu menempatkan alat di ujung jari atau daun telinga. Selanjutnya kadar oksigen akan terlihat melalui layar yang terdapat pada alat tersebut. Hasil pulse oximeter dinyatakan dalam persentase.

Alat pulse oximeter menggunakan dua sumber cahaya, yaitu cahaya merah dan cahaya inframerah, yang diserap oleh jaringan tubuh. Bila penyerapan cahaya inframerah lebih tinggi daripada cahaya merah, artinya saturasi oksigen baik. Sebaliknya, bila penyerapan cahaya merah yang lebih tinggi, hal itu berarti saturasi buruk.

Lantaran harganya murah, sangat disarankan mempunyai alat pulse oximeter di rumah. Sehingga pengukuran saturasi oksigen bisa dilakukan secara mandiri.

Cara kedua adalah menggunakan metode Tes Analisa Gas Darah yang dirasa lebih akurat. Pemeriksaan ini dilakukan dengan mengambil darah dari pergelangan tangan (tes gas darah arteri) atau daun telinga (tes gas darah kapiler). Tes ini digunakan terutama untuk mengetahui apakah paru-paru berfungsi maksimal dalam pertukaran oksigen dan karbon dioksida secara efektif.

Sejumlah kecil darah diambil dari pasien Covid-19 kemudian dianalisis menggunakan alat penganalisis gas darah portabel. Alat tersebut akan memberikan informasi tingkat oksigen, karbon dioksida dan pH dalam darah.

Penggunaan dua alat berbeda itu menghasilkan ukuran saturasi yang berbeda pula. Meskipun keduanya bisa dijadikan ukuran kadar oksigen pasien normal atau tidak. Bila menggunakan tes analisis gas darah, saturasi oksigen normal adalah di atas 80 milimeter air raksa atau mmHg. Saturasi di bawah 80 mmHg dianggap tidak normal

Bila menggunakan pulse oximeter, saturasi oksigen normal berkisar antara 95 hingga 100 persen. Saturasi di bawah 95 persen dianggap tidak normal. Sedangkan jika dibawah 90 persen kondisinya darurat dan harus segera mendapat penanganan medis.

SHARE ON
OPINI PENALAR
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF