Pecah Ban Saat di Jalan, Tetap Tenang, Jangan Injak Rem, Kopling dan Turunkan Gigi
berita

17 September 2019 17:10
Watyutink.com – Pada Minggu (15/9/2019) terjadi kecelakaan tunggal di Jalan Tol Jagorawi, kilometer 36, Sentul, Bogor, Jawa Barat. Kecelakaan yang melibatkan sebuah mobil Suzuki APV ini menyebabkan sembilan orang meninggal dunia dan enam orang luka-luka. Kuat dugaan kecelakaan ini disebabkan mobil mengalami pecah ban. Akibatnya mobil terguling dan penumpang terlempar keluar.

Kondisi pecah ban memang kerap menjadi penyebab kecelakaan. Sayangnya banyak pengemudi yang tidak memahami bagaimana cara menangani kondisi seperti ini.

Tahukah Anda, apa yang harus dilakukan ketika mengalami pecah ban saat diperjalanan?

Customer Engineering Support PT Michelin Indonesia, Fachrul Rozi, mengatakan penyebab utama pecah ban adalah tekanan angin yang kurang dari semestinya. Kurangnya tekanan angin menyebabkan kawat di dinding ban mengalami stress. Padahal kawat ban adalah penahan bobot mobil saat berjalan. Jika kondisi kurang angin terjadi terus menerus maka bisa menyebabkan kawat putus dan dinding ban sobek. Terlebih saat berjalan, ban mobil menjadi panas.

Itulah sebabnya Rozi menekankan pentingnya selalu mengecek tekanan angin ban. Rozi menyebut setiap jenis mobil selalu menyertakan ukuran tekanan ban yang ideal. Posisinya biasanya terdapat di bagian pintu sopir atau pilar B.

Rozi juga menyarankan agar pengemudi menambah tekanan angin ban sedikit lebih banyak. Misalnya, jika idealnya tekanan ban 32 psi maka bisa ditambah menjadi 35 psi. Hal itu lebih aman dibandingkan ban diisi angin 25 psi.

Sementara itu Sonny Suksmana, Director Training Safety Defensive Consultant (SDCI) mengatakan ada beberapa hal yang perlu diperhatikan saat mengalami pecah ban di tengah jalan. Hal pertama yang ditekankan adalah jangan panik dan tetap tenang, sehingga pengemudi bisa berfikir dengan jernih.

Langkah kedua adalah mempertahankan stir atau kemudi tetap mengarah ke depan. Biasanya saat mengalami pecah ban arah mobil akan berubah mengikuti bagian ban yang pecah. Upaya mempertahankan stir tetap lurus ke depan dapat menghindakan mobil dari kondisi terbalik atau roll over.

Hal berikutnya adalah jangan menginjak rem yang justru menyebabkan mobil terbalik akibat cengkraman tidak seimbang antara ban yang pecah dan yang normal. Sonny menganjurkan pengemudi membiarkan mobil melambat dengan sendirinya hingga benar-benar berhenti.

Bagi pengendara mobil bertransmisi manual, dianjurkan tidak menginjak kopling. Pasalnya menginjak kopling justru akan menghilangkan engine brake yang berguna untuk memperlambat laju kendaraan. Bagi pengendara mobil bertransmisi matic disarankan tidak menurunkan rasio gir dengan melakukan shift ke posisi gigi rendah. Tindakan tersebut dikhawatirkan memberikan reaksi pada cengkraman ban yang justru membuat mobil terbalik. (cp)

SHARE ON
OPINI PENALAR
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Lana Soelistianingsih, Dr., S.E., M.A.

Ekonom Universitas Indonesia, Kepala Riset/ Ekonom Samuel Aset Manajemen

Mohammad Faisal

Direktur Centre of Reform on Economic (CORE) Indonesia

Ahmad Heri Firdaus

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

FOLLOW US

Perubahan Nomenklatur Tak Efektif dalam Jangka Pendek             Ketergantungan pada Komoditas Dikurangi, Perbanyak Industri Olahan Berbasis Komoditas             Setia Ekspor Komoditas Alam, atau Diversifikasi Ekspor?             Perlu, Optimalisasi Non Tariff Measure (NTM)             Kebijakan NTM akan Bermanfaat, Selama Tidak Berlebihan.             Sesuaikan pilihan jenis NTM dengan karakteristik produk impor             Kebijakan Mandek Terganjal Implementasi, Koordinasi, Eksekusi               Pemerintah Sibuk Urusi Poliitk             Tinjau Kembali Struktur Industri Nasional             Benahi Dulu ICOR Indonesia