Rutin Makan Tempe Mentah, Sehatkan Tulang, Pencernaan, dan Cegah Kanker
berita
Sumber Foto: youtube.com
10 July 2020 18:42
Watyutink.com - Tempe adalah makanan khas Indonesia yang sudah mendunia. Bukan hanya rasanya yang gurih dan nikmat, dunia juga mengakui manfaat tempe untuk kesehatan. Makanan dari olahan kedelai ini diyakini kaya akan kandungan nutrisi yang berguna untuk mencegai berbagai jenis penyakit.

Namun sayangnya kandungan nutrisi dalam tempe kerap rusak akibat cara memasak yang salah. Sehingga tempe yang semula bermanfaat bagi kesehatan jadi sia-sia.

Tahukah Anda bagaimana cara mengolah tempe yang benar?

Selama ini, kita selalu mengolah tempa menjadi aneka menu masakan. Menggoreng tempe dengan minyak panas adalah cara yang paling sering dilakukan. Aroma tempe panas diakui sangat menggoda selera makan. Padahal sejatinya menggoreng justru menghilangkan nutrisi dalam tempe.

Guru Besar Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan Institut Pertanian Bogor (IPB) Prof. Dr. Made Astawan MS mengatakan menggoreng dengan minyak panas akan menghancurkan bakteri baik yang dikandung tempe.

Astawan yang juga Ketua Forum Tempe Indonesia (FTI) menjelaskan di dalam tempe terdapat mahluk hidup berupa prebiotik. Saat dimakan, prebiotik akan berubah menjadi asam laktat, sama sepeti yang ada dalam yoghurt. Bahkan jika dimasak dengan benar, prebiotik dalam tempe lebih tinggi dibanding yoghurt.

Astawan menyarankan tempe tidak dimasak dengan cara digoreng. Melainkan di kukus atau dipanggang. Cara itu akan membuat kandungan nutrisi, terutama prebiotik dalam tempe tidak rusak.

Sementara itu pakar kesehatan herbal, dr Zaidul Akbar mengatakan kandungan nutrisi seperti protein dalam tempe akan rusak ketika mengalami proses pemanasan. Itulah sebabnya menggoreng tempa akan mengurangi manfaat yang terkandung di dalamnya.

Zaidul menjelaskan dalam dunia medis ada yang disebut denaturasi. Proses yang sama juga terjadi saat makanan lain, seperti telur digoreng.

Penulis buku Jurus Sehat Rasulullah (JSR) ini menuturkan manfaat terbesar tempe justru diperoleh saat masih dalam kondisi mentah. Kandungan nutrisi dalam tempe mentah diyakini lebih alami dibandingkan yang sudah dimasak atau digoreng.

Zaidul menambahkan, tempe mentah bermanfaat untuk menyehatkan sistem pencernaan. Pasalnya tempe mentah mempunyai fungsi sebagai prebiotik alami.  Alumni Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro, Semarang ini menjelaskan prebiotik yang terbuat dari proses fermentasi adalah makanan terbaik bagi pencernaan.

Mengonsumsi tempe mentah diyakini bisa menurunkan kadar kolesterol. Pasalnya kandungan isoflavon kedelai dapat membantu menurunkan kadar total kolesterol jahat. Sedangkan kandungan niasin dalam meningkatkan kadar kolesterol baik yang berfungsi memberiskna plak atau lemak dari pembuluh darah arteri.

Tempe juga memiliki kandungan vitamin D, vitamin K, dan kalsium yang bermanfaat untuk kesehatan tulang. Penyakit osteoporosis atau pengeroposan tulang bisa dicegah dengan memakan tempe mentah.

Mengonsumsi tempe mentah juga membuat tubuh mendapatkan manfaat dari insofkavon yang berguna mencegah penyakit kanker. Isoflavon dikenal kaya akan kandungan antioksidan yang dapat melawan efek buruk radikal bebas penyebab kanker. Isoflavon juga memiliki sifat anti-inflamasi yang dapat mencegah peradangan serta melindungi sel dari kerusakan.

Bagi penderita diabetes sangat dianjurkan mengonsumsi tempe mentah. Pasalnya tempe dapat membantu memproduksi enzim glukoneogenesis. Enzim ini sangat membantu mengkonvensi asam amino menjadi gula. Itulah sebabnya enzim glukoneogenesis sangat bermanfaat menjaga kadar gula darah tetap normal.

Untuk mendapatkan manfaat tempe, Zaidul menyarankan mengolahnya menjadi 'sandwich.' Caranya dengan memakan tempe dan kurma secara bersamaan. Zaidul menyebut kombinasi tempe mentah dan kurma sangat ampuh menjaga kesehatan pencernaan. Pasalnya kedua bahan makanan tersebut adalah prebiotik alami.

Bisa juga dengan mengolah tempe mentah dan kurma menjadi jus dan rutin meminumnya. Jus tempe juga bisa digunakan sebagai minuman pengganti susu.

SHARE ON
OPINI PENALAR
close

PENALAR TERPRODUKTIF

Budi Arie Setiadi

Wakil Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Indonesia

Edgar Ekaputra

Pakar Industri Keuangan dan Ekonomi, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis UI

Lia KIan, Dr.

Staf Khusus Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila