Sejarah Hari Ini: Ibu Kota Republik Indonesia Dipindah dari Jakarta ke Yogyakarta
berita
Foto Istimewa
04 January 2021 14:00
Watyutink.com – Hari ini, 4 Januari menjadi momen yang sangat bersejarah bagi bangsa Indonesia. Pasalnya 75 tahun lalu, tepatnya 4 Januari 1946 ibu kota Republik Indonesia terpaksa dipindahkan dari Jakarta ke Yogyakarta. Pemindahan ini terpaksa dilakukan lantaran Jakarta sudah jatuh dan dikuasai oleh Belanda.

Pemindahan Ibu Kota berlangsung sangat cepat. Selain lantaran kondisi yang sudah sangat mendesak juga lantaran Sri Sultan Hamengkubuwono IX , Raja Kraton Yogyakarta saat itu secara langsung menawarkan Yogyakarta menjadi Ibu Kota RI sementara menggantikan Jakarta.

Perpindahan Ibukota dari Jakarta ke Yogyakarta ini dilakukan untuk menghindari situasi yang semakin kacau setelah Belanda menguasai Jakarta. Rencana perpindahan Ibukota ini pun dilakukan dengan singkat rapat terbatas. Berdasarkan usulan dan koordinasi dari pemerintah Daerah Yogyakarta, Soekarno memutuskan untuk mengatur pemerintahan nasional dari kota Yogyakarta.

Pemindahan Ibu Kota bermula saat tentara NICA Belanda datang kembali ke Indonesia dengan membonceng tentara Sekutu yang akan melucuti tentara Jepang yang kalah perang. Pada 16 September 1945 tentara Sekutu berlabuh di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta. Pada saat itu pula tentara NICA Belanda ikut serta namun dengan maksud berbeda. Jika tentara Sekutu datang untu melucuti tentara Jepang, NICA Belanda datang untuk kembali berkuasa di Indonesia yang sudah memproklamirkan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945.

Tentara Belanda juga melakukan penculikan dan percobaan pembunuhan terhadap para pemimpin pejuangan Indonesia. Menteri Sutan Sjahrir sempat menjadi sasaran dan nyaris terbunuh, namun berhasil diselamatkan Polisi Militer Inggris. Menteri Amir Sjarifuddin sempat menjadi sasaran tembak saat menuju ke rumah Soekarno atau Bung Karno. Bahkan Ketua Komite Nasional Indonesia Mohammad Roem sempat tertembak di bagian paha kirinya.

Kondisi ini memaksa Bung Karno menggelar rapat pada 1 Januari 1946 di kediamannya, Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56 Jakarta. Rapat tersebut memutuskan memindahkan ibu kota agar pemerintahan Indonesia yang baru berdiri bisa tetap berjalan. Pada 2 Januari 1046 datang tawaran dari Sri Sultan Hamengkubuwono IX untuk memindahkan pemerintahan dari Jakarta ke Yogyakarta. Tawaran itu langsung disepakati.

Pada 3 Januari 1946 pukul 18.00 WIB rombongan Soekarno, Muhamad Hatta, dan para menteri kabinet lain mulai meninggalkan Jakarta menggunakan kereta api menuju Yogyakarta. Setelah menempuh perajalanan selama 15 jam, rombongan sampai di Yogyakarta pada 4 Januari 1946 pukul 09.00 WIB.

Selanjutnya Wakil Menteri Penerangan RI, Mr  Ali Sastroamidjojo, langsung mengumunkan kepindahan Ibu Kota RI melalui siaran Radio Republik Indonesia (RRI). Saat itu pusat Presiden Soekarno, Wakil Presiden Muhammad Hatta dan para menteri berkantor di di Gedung Agung yang terletak di seberang bekas benteng Vredeburg.

Namun, pada tanggal 19 Desember 1948 ketika terjadi Agresi Militer II, tentara Belanda menyerang Yogyakarta. Saat itu kondisi Yogyakarta menjadi tidak aman. Para pimpinan RI berhasil ditangkap dan diasingkan oleh penjajah Belanda.

Akhirnya Ibu Kota RI kembali dipindah ke Bukit Tinggi, Sumatera Barat bersamaan dengan dibentuknya Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI). Sjafrudin Prawiranegara ditunjuk sebagai pemimpin PDRI menggantikan sementara pemerintahan Presiden Soekarno yang ditangkap dan diasingkan penjajah Belanda.

SHARE ON
OPINI PENALAR
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

A.S. Laksana

Sastrawan, pengarang, kritikus sastra dan wartawan