Tips Sehat Makan Daging Kambing, Jangan Berlebihan dan Terlalu Sering
berita
Daging Kambing
30 July 2020 15:30
Watyutink.com – Saat memasuki bulan Dzulhijjah atau bulan qurban, menu makanan yang paling banyak dinikmati adalah daging kambing. Pasalnya pada bulan yang bersamaan dengan perayaan Hari Raya Idul Adha itu, umat Islam melaksanakan ibadah kurban dengan menyembelih hewan kurban, salah satunya adalah kambing. Namun banyak orang yang takut mengonsumsi daging kambing lantaran khawatir menimbulkan masalah kesehatan.

Para ahli kesehatan menyebut daging kambing berpotensi menimbulkan dampak buruk bagi kesehatan lantaran bisa meningkatkan kadar kolesterol. Hal ini diyakini berpotensi menimbulkan masalah pada jantung dan memicu tekanan darah tinggi atau hipertensi. Itulah sebabnya diperlukan kehati-hatian saat mengonsumsi daging kambing.

Tahulah Anda, bagaimana caranya agar bisa tetap sehat saat makan daging kambing?

Para ahli kesehatan menyebut pada dasarnya daging kambing sehat lantaran memiliki kandungan nutrisi yang sangat tinggi. Daging yang banyak dioleh menjadi sate ini memiliki kandungan kalori, lemak, kolesterol, dan protein. Daging kambing juga mengandung mineral seperti, natrium, kalium dan kalsium serta vitamin B12.

Namun seperti juga makanan lainnya, mengonsumsi daging kambing sebaiknya tidak dalam jumlah berlebihan. Pasalnya daging kambing memiliki kandungan kolesterol yang jika dikonsumsi berlebihan bisa menimbulkan masalah kesehatan, seperti kenaikan kadar kolesterol yang bisa memicu kenaikan tekanan darah. Selain itu makan daging kambing berlebihan juga bisa memicu kenaikan berat badan hingga risiko penyakit diabetes atau kencing manis.   

Menurut pakar kesehatan, konsumsi daging kambing hingga 50 gram masih dalam katagori aman. Jika tidak memiliki masalah kesehatan, makan daging kambing hingga 100 gram masih diperbolehkan. Jika sudah dalam bentuk makanan, seperti sate, batasan aman maksimal 10 tusuk setiap hari. Kalau diolah menjadi rendang atau gulai, sebaiknya jangan lebih dari dua potong.

Dikutip dari doktersehat.com, menikmati daging kambing juga sebaiknya tidak terlalu sering, cukup sekali-sekali saja. Pasalnya mengonsumsi daging kambing yang terlalu sering berisiko meningkatkan kandungan kolesterol dan memicu beragam penyakit kardiovaskuler seperti serangan jantung.

Daging kambing yang dimakan sebaiknya pilih yang rendah kandungan lemaknya. Salah satu bagian kambing yang rendah kandungan lemaknya adalah paha. Itulah sebabnya bagian paha kambing sangat direkomendasikan dikonsumsi.

Daging kambing sebaiknya tidak dimasak dengan cara dibakar. Meski memberikan rasa yang sangat nikmat, namun membakar daging kambing seperti sate dikhawatirkan menimbulkan kandungan karsinogen yang bisa memicu kanker. Bagian yang gosong akibat dibakar biasanya memiliki risiko yang lebih besar

Selain itu daging kambing yang digoreng dan diberi tambahan tepung juga sebaiknya dihindari. Pasalnya cara memasak seperti itu bisa meningkatkan kandungan kolesterol dan kalori. Hal serupa jika daging kambing diolah menggunakan santan atau minyak, seperti gulai atau tongsen. Kalau pun terlanjur disajikan daging gulai atau tongseng kambing, sebaiknya makan dagingnya saja dan abaikan kuahnya.  

Cara mengolah daging kambing menurut pakar kesehatan adalah dengan direbus. Tapi buang air bekas rebusannya. Pasalnya saat direbus, lemak dan kolesterol dalam daging kambing akan ikut terbawa dalam air rebusan atau kuahnya. Itulah sebabnya kuah sebaiknya dibuang. Pakar kesehatan juga menganjurkan mengolah daging kambing dengan cara dipanggang.

Jangan lupa, saat mengonsumsi daging kambing sertai pula dengan makan buah dan sayur. Keberadaan sayur yang tinggi kandungan serat bisa menjadi penyeimbang daging. Serat bisa mencegah masuknya kolesterol dari daging kambing ke dalam tubuh. Selain itu serat dari sayur dan buah juga berguna untuk melancarkan proses pencernaan.

Buah bisa dikonsumsi beberapa saat sebelum menyantap daging kambing. Kandungan nutrisi dalam buah bisa membantu mencegah peningkatan kadar kolesterol dalam darah.

 

SHARE ON
OPINI PENALAR
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Budi Arie Setiadi

Wakil Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Indonesia

Edgar Ekaputra

Pakar Industri Keuangan dan Ekonomi, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis UI

Lia KIan, Dr.

Staf Khusus Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila