Water Fasting, Proses Buang Racun Tubuh yang Diajarkan Nabi Muhammad SAW
berita

12 March 2020 17:00
Watyutink.com – Saat mengonsumsi makanan atau minuman, kita sebenarnya berupaya memasukkan zat-zat nutrisi ke dalam tubuh. Pasalnya tubuh selalu membutuhkan asupan nutrisi untuk menjaga kesehatan. Selain itu nutrisi juga menghasilkan energi yang dibutuhkan untuk aktivitas sehari-hari.

Namun saat mengonsumsi makanan dan minuman, seringkali bukan hanya nutrisi, vitamin atau zat-zat yang bermanfaat saja yang masuk dalam tubuh. Zat racun yang tidak berguna, bahkan berbahaya juga ikut masih dalam tubuh. Itulah sebabnya racun-racun tersebut harus dikeluarkan dari tubuh melalui proses yang disebut detoksifikasi.

Sebenarnya detoksifikasi bukan barang baru. Pasalnya 14 abad lalu Nabi Muhammad SAW telah mempraktikkan proses detoksifikasi tubuh.

Tahukah Anda, bagaimana cara detoksifikasi yang dilakukan Nabi Muhammad SAW?

Detoksifikasi adalah proses atau tindakan membuang racun dari dalam tubuh. Racun tersebut bisanya masuk dalam tubuh akibat merokok, mengonsumsi makanan atau minuman beralkohol serta substansi beracun lainnya. Racun juga bisa masuk dalam tubuh akibat mengonsumsi buah dan sayur yang terkenan paparan bahan kimia, seperti pestisida atau pupuk kimia lainnya. Polusi udara akibat asap knalpot dan perokok pasif juga bisa memicu masuknya racun dalam tubuh.

Racun tersebut seringkali menimbulkan berbagai gangguan kesehatan, mulai dari yang ringan seperti sakit kepala tanpa sebab, sakit punggung, dan mudah lupa, hingga penyakit kronis seperti kanker. Itulah sebabnya detoksifikasi penting dilakukan. Organ-organ seperti usus dan ginjal sangat membutuhkan proses detoksifikasi. Pasalnya di kedua organ inilah racun sering mengendap.  

Selama ini proses detoks bisa dilakukan dengan berbagai cara, seperti mengonsumsi  obat-obatan atau suplemen. Namun jika menggunakan suplemen atau obat sebaiknya pilihnya yang alami atau herbal. Detoksifikasi akan memperbaiki fungsi ginjal, hati atau liver, dan darah. Selain itu detoks juga mampu meningkatkan sistem kekebalan tubuh dan sistem hormonal.

Bagi umat Islam, sejatinya detoksifikasi bukanlah hal baru. Pasalnya Nabi Muhammad SAW sudah memperkenalkan detoksifikasi sejak 14 abad lalu. Pakar kesehatan herbal, dr Zaidul Akbar mengatakan Nabi Muhammad SAW mendetoksi tubuh hanya menggunakan air putih dan kurma. Cara tersebut saat ini diadopsi oleh banyak pakar kesehatan dan disebut sebagai water fasting atau puasa air putih.

Water fasting dilakukan dengan tidak makan apa pun selama 24 jam selain hanya minum air putih. Zaidul menerangkan metode water fasting terutama dilakukan oleh orang yang kondisi tubuhnya sudah parah. Bahkan sudah tidak lagi bisa atau mempan melakukan detoks menggunakan obat-obatan.

Water fasting bisa dilakukan dengan cara seperti puasa ramadhan, yakni tidak makan dan minum. Tapi di waktu maghrib hanya berbuka dengan air putih, tidak makan makanan apa pun. Bagi pria, cara ini sangat baik, selain sebagai detoks juga untuk meningkatkan hormon testoteron. Pria yang mengalami kekurangan testoteron sangat berisiko mengalami masalah kesehatan seperti tubuh menjadi lemah dan lesu, gangguan ereksi, kehilangan gairah seksual, mudah mengantuk, dan rambut rontok.

Sedangkan bagi wanita, water fasting mencegah terjadinya hyper estrogen atau kelebihan hormon estrogen. Kondisi ini berisiko memunculkan gangguan kesehatan, terutama yang menyerang organ repoduksi seperti munculnya kista. Kelebihan hormon estrogen juga dapat kanker payudara dan endometrium.

Detoksifikasi juga bisa dilakukan dengan makan kurma. Buah khas Timur Tengah ini memiliki kandungan glukosa 50 persen hingga 75 persen. Itulah sebabnya menu berbuka yang paling dianjurkan adalah kurma. Pasalnya makan kurma dapat mengembalikan energi setelah berpuasa seharian. Kurma juga mampu menguatkan fungsi saluran pencernaan.

SHARE ON
OPINI PENALAR
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Budi Arie Setiadi

Wakil Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Indonesia

Edgar Ekaputra

Pakar Industri Keuangan dan Ekonomi, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis UI

Lia KIan, Dr.

Staf Khusus Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila