Ekspor Pertanian Melambung, Petani Untung?
berita
Ekonomika
Ilustrasi watyutink (gie/watyutink.com) 15 May 2019 14:00
Penulis
Watyutink.com - Kabar baik datang dari sektor pertanian. Ekspornya meningkat hingga 26 persen. Bukan hanya penjualan ke luar negeri saja yang naik, sumbangannya terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) juga terus meningkat sebesar 47 persen senilai Rp1.375 triliun.

Perbaikan di sektor pertanian juga dirasakan dalam perannya dalam membentuk  indeks harga konsumen (IHK) alias inflasi. Jika pada 2014 inflasi bahan pangan sebesar 10,57 persen, pada 2017 menurun drastis menjadi 1,26 persen.

Produk pertanian Nusantara yang sudah berhasil menumbus pasar dunia antara lain kelapa, kakao, cengkeh, kapas, gula, kelapa sawit, dan karet. Khusus ekspor ke Argentina, ekspor komoditas pertanian mencapai Rp648 miliar. Sampai-sampai Wakil Presiden Argentina Gabriela Michetti menemui Mentan RI Andi Amran Sulaiman dan berharap dapat mengimpor lebih banyak produk pertanian dari Indonesia.

Kerja sama dengan Argentina dan negara-negara lain diharapkan dapat memperluas akses pasar internasional bagi buah tropis eksotis khas Indonesia seperti nanas, manggis, salak, kopi, maupun rempah seperti lada, dan produk unggulan lainnya.

Nanas, misalnya, produksinya sudah mencapai 2 juta ton pada tahun lalu dan diekspor ke 65 negara di antaranya ke negara-negara di Asia, Timur Tengah, dan Eropa dengan volume sebesar 250 ribu ton per tahun. Belum lagi manggis sebanyak 40.000 ton, dan salak sebanyak 1200 ton.

Tidak hanya buah segar yang diekspor, produk olahannya pun banyak diminati konsumen luar negeri seperti pasta cabai, pasta bawang, pasta buah-buahan seperti jambu, mangga, dan sirsak. Di luar itu, produk pertanian yang juga diminati pasar luar negeri adalah sarang burung wallet.

Dengan semakin meningkatnya pasar ekspor bagi produk pertanian, tidak berlebihan jika berharap nasib para petani di daerah ikut terangkat karena mereka terlibat di dalam proses produksinya. Nyaris tidak ada produk pertanian yang dihasilkan di kota. Namun harapan ini apakah akan jadi kenyataan?

Potret petani di Indonesia adalah buruh yang bekerja di ladang-ladang tuan tanah. Mereka hanya mendapatkan upah dari jerih payahnya menggunakan tenaga dalam mengolah dan menanam tanam-tanaman. Dengan begitu, jika produk pertanian meningkat hasilnya, yang menikmati adalah para pemilik modal. Sudah menjadi rahasia umum siapa menguasai apa di negeri ini. Gula yang diekspor dihasilkan dari ribuan hektar ladang tebu milik konglomerat, bukan petani papa. Bagaimana strateginya agar petani ikut merasakan manisnya gula yang mereka olah?

Dengan hasil ekspor produk pertanian yang meningkat, apakah petani semakin diuntungkan? Apakah petani memiliki akses untuk menjual hasil pertaniannya ke pasar secara langsung? Bagaimana dengan peran pemerintah di dalam memberdayakan petani? Apakah pemerintah lebih mementingkan pertumbuhan sektor pertanian daripada kualitas pertumbuhan itu sendiri?

Apa pendapat Anda? Watyutink?

SHARE ON
OPINI PENALAR
Direktur Institute for Development of Economics & Finance (INDEF)

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, pertumbuhan sektot pertanian pada Triwulan I 2019 sebesar 1,81 persen.  Pertumbuhan sebesar ini menunjukkan kinerja yang buruk.

Untuk penghitungan ekspor, yang harus dihitung adalah ekspor bersih (net export), tidak hanya satu sisi. Untuk komoditas daging, misalnya, Indonesia mampu mengekspor sapi dari Bali dan NTT yang memiliki kualitas bagus. Tetapi harus juga dihitung impornya yang ternyata lebih besar dari nilai ekspor.

Demikian juga dengan jagung yang  tercatat tidak ada pembelian dari luar negeri  untuk komoditas tersebut. Tidak ada  catatan impor jagung di BPS bukan berarti Indonesia sudah swasembada atau tidak membutuhkan lagi, tetapi karena tidak dikeluarkannya izin impor. Imbasnya justru ke harga pakan yang menjadi mahal karena harus menggunakan gandum.

Untuk menunjukkan kinerja kementerian bukan dengan cara yang manipulatif seperti itu. Untuk mengetahui kebenaran produktivitas satu sektor bisa dilihat data yang disajikan oleh BPS secara resmi, tidak bisa secara parsial.

Harus diakui kinerja sektor pertanian menurun. Kesejahteraan petani ikut menurun. Berdasarkan data BPS, nilai tukar petani (NTP) per Maret 2019 sebesar 102,73, turun 0,21 basis point dibandingkan dengan bulan sebelumnya sebesar 102,94. Penurunan itu dikarenakan kenaikan indeks harga hasil produksi pertanian lebih rendah dibandingkan peningkatan indeks harga barang dan jasa yang dikonsumsi rumah tangga dan keperluan produksi pertanian.

Selain itu, Bulog juga tidak mau menyerap beras dari petani karena sudah kelebihan stok yang berasal dari impor sehingga petani kehilangan pendapatan dari penjualan beras.

Untuk mengukur kinerja tidak bisa hanya dari satu aspek. Misalnya, konsumen senang karena tidak ada tekanan kenaikan harga beras. Tentu saja hal ini bisa terjadi  karena Bulog kelebihan stok yang membuat persediaan lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. (sar)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest

Sektor pertanian masih menjadi sektor unggulan bagi Indonesia. Berdasarkan indeks keunggulan komparatif, sektor pertanian masih merupakan sektor yang unggul. Selain itu, dilihat dari keterkaitan antarsektor, ia mempunyai tingkat keterkaitan yang tinggi dari hulu ke hilir.

Kunci untuk membenahi sektor pertanian adalah revitalisasi dengan membangun industri, meningkatkan nilai tambah, menjadikannya lebih besar dalam skala ekonomi. Dengan program-program tersebut maka sektor pertanian akan menjadi jawaban atas defisit neraca perdagangan.

Masalahnya kembali kepada political will dan bagaimana pemerintah bisa memetakan masalah. Selama ini Kementerian Pertanian masih menggunakan paradigma 20-30 tahun lalu, dimana Indonesia harus memproduksi semuanya sendiri.  Padahal di era sekarang, yang dibutuhkan adalah pembangunan industri di sektor pertanian yang sering kali luput.

Konsep ketahanan pangan di Kementerian Pertanian masih  beranggapan bahwa Indonesia harus menanam sendiri untuk memenuhi kebutuhan. Kita harus membangun rantai produksi  yang terkoneksi dengan negara-negara lain,  tidak semata-mata bisa memproduksi sendiri.

Yang juga perlu dibenahi di Kementerian Pertanian adalah manajemen data yang amburadul.  Kapan waktunya ekspor dan impor masih abu-abu.  Klaimnya selama ini bersifat artifisial dengan menyatakan sudah mencapai swasembada atau melakukan ekspor, tetapi justru masih terjadi kelangkaan.  Ini berarti ada masalah dalam industri, tata niaga, logistik, dan lain-lain.  (sar)  

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Tabrani Yunis

Pengelola majalah POTRET dan Majalah Anak Cerdas. Direktur Center for Community Development and Education (CCDE) Banda Aceh

FOLLOW US

People Power and Power of Love             Polisi Tak Boleh Berpolitik             Laksanakan Reformasi Perpajakan Secara Konsekuen             Tunjukkan Sikap Politik yang Matang             Menagih Janji Deregulasi dan Perbaikan Infrastruktur Investasi             Perlu Inventarisasi Perundangan dan Peraturan             Bukan Jumlah Peraturan Tapi Korupsinya Yang Penting             Sektor Pertanian Masih Gunakan Paradigma Lama             Gelombang Spekulasi Politik             Demokrasi Tanpa Jiwa Demokrat