Tarik Investor Asing, Insentif Diumbar
berita
Ekonomika
Ilustrasi watyutink (gie/watyutink.com) 04 May 2019 11:00
Penulis
Watyutink.com - Pemerintah kembali menawarkan sejumlah insentif fiskal kepada investor asing agar mau menanamkan modalnya di Tanah Air. Kebijakan ini sempat terhenti pembahasannya, namun saat ini sudah dilanjutkan kembali dan diharapkan dapat diterapkan setelah mendapatkan masukan dari para pelaku usaha.

Insentif fiskal yang ditawarkan tersebut antara lain perpanjangan tax holiday hingga 50 tahun, penurunan pajak perusahaan hingga di bawah 25 persen, dan diskon pajak besar  bagi perusahaan yang memiliki program riset dan pengembangan.

Di samping itu, pemerintah akan merevisi daftar negatif investasi yang selama ini tertutup  bagi  investasi asing dengan membuka tiga sektor utama yakni pendidikan, kesehatan, serta ekonomi kreatif dan industri digital. Dengan dibukanya sektor tersebut apakah pelaku usaha domestik yang sudah bergelut lama di dalamnya siap untuk bersaing? Apa keuntungan dan kerugiannya jika tiga sektor utama tersebut dilepas kepada asing?

Rencana pemerintah memberikan insentif fiskal itu berkaitan dengan kecenderungan menurunnya investasi asing dalam beberapa waktu terakhir. Realisasi investasi pada triwulan I 2019 tumbuh 5,3 persen dibandingkan dengan 2018. Investasi yang masuk meningkat dari Rp185,2 triliun menjadi  Rp 195,1 triliun. Sayangnya, kenaikan tersebut lebih banyak disumbang oleh penanaman modal dalam negeri (PMDN), sementara penanaman modal asing (PMA) justru turun 0,9 persen.  Bagaimana pemerintah dapat mendorong pertumbuhan ekonomi jika modal asingnya melempem?

Pemerintah juga akan melanjutkan pembangunan infrastruktur sebagai agenda utama sekaligus merencanakan proyek tersebut menjadi daya pikat bagi investor domestik maupun asing menanamkan modalnya.

Dengan bauran kebijakan tersebut diharapkan investor, terutama asing, semakin meningkatkan investasinya di Indonesia. Pemerintah mengakui lesunya pemodal dari luar negeri menginvestasikan dana karena banyak faktor yang mempengaruhinya.

Salah satu faktor yang menyebabkan lesunya investasi asing adalah pemilihan umum serentak pada 17 April 2019 yang menimbulkan efek waspada sejak akhir tahun lalu. Investasi yang berjalan saat ini lebih banyak dilakukan oleh perusahaan Indonesia dengan kepemilikan asing di dalamnya.

Melemahnya nilai tukar rupiah juga ditengarai menjadi penyebab lesunya investasi asing.  Data Bank Indonesia menyebutkan kurs rupiah pada kuartal I 2018 berkisar di level Rp13.400 per dolar AS. Pada triwulan I 2019 nilai tukar rupiah melemah menjadi Rp14.500-Rp15.000 per dolar AS.

Dengan kebijakan insentif baru tersebut, apakah investasi asing akan meningkat di Tanah Air? Apakah insentif tersebut yang memang dibutuhkan mereka? Bagaimana dengan investor asing yang telah lama beroperasi di Indonesia, apakah diberikan insentif yang sama? Selain memberikan insentif, strategi apa yang perlu disusun pemerintah untuk menarik investasi asing?

Apa pendapat Anda? Watyutink?

SHARE ON
OPINI PENALAR
Direktur Centre of Reform on Economic (CORE) Indonesia

Mestinya insentif fiskal yang akan diberikan pemerintah tersebut cukup menarik bagi investor asing masuk ke Indonesia, sepanjang dibenahi juga faktor-faktor lain yang selama ini menghambat penanam modal untuk berinvestasi.

Yang selama ini mengganggu investasi adalah masalah inkonsistensi kebijakan antarkementerian terkait dan pusat-daerah. Jika hal ini juga diatasi, disamping insentif fiskal yang akan diberikan tersebut maka dapat mendorong investasi lebih tinggi lagi.

Masalah inkonsistensi kebijakan ini banyak menghambat realisasi investasi. Pada tahap awal banyak investor tertarik sehingga mereka membuat komitmen, tapi sebagian dari mereka tidak jadi merealisasikan investasinya.

Perusahaan yang memiliki profitabiltas tinggi kemungkinan tidak akan memberikan bobot yang tidak terlalu besar terhadap insentif fiskal yang akan diberikan pemerintah. Mereka lebih menitikberatkan pada masalah konsistensi kebijakan. Namun bagi sektor yang memiliki profitabilitas rendah, pemberian insentif fiskal menjadi lebih menarik bagi mereka.  (sar)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

Masalah yang sebenarnya bukan memberikan insentif fiskal dengan memperpanjang masa tax holiday agar investor asing mau masuk ke Indonesia, tetapi bagaimana menjaga mereka yang sudah di Indonesia untuk mau memperluas investasinya.

Pemerintah perlu mendahulukan investor asing yang sudah ada di Indonesia dan ingin melakukan investasi lagi agar mereka semakin memperluas investasinya. Jika memberikan insentif bagi investor asing baru maka dibutuhkan waktu lama dan efeknya pun masih lama.  Jadi lebih baik investor asing yang sudah ada di Indonesia ditawarkan insentif untuk melakukan investasi tambahan

Selain itu, banyak investasi yang sudah disetujui oleh Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) ketika akan merealisasikannya di daerah jadi terhambat. Walalupun izinnya dari pusat, mereka tetap harus berhubungan dengan pemerintah daerah. Dalam hal ini yang dibutuhkan adalah bagaimana pemerintah pusat berkoordinasi dengan pemerintah daerah agar kebijakan yang diambil sama.

Kebijakan yang tidak sama antara pemerintah pusat dan daerah ini yang menjadi penyebab mengapa investasi asing belakangan ini turun. Jadi percuma saja memberikan insentif fiskal bahkan dengan tax holiday hingga 100 tahun jika masalah ini tidak dibenahi, tidak akan banyak menarik investasi asing.

Pemerintah jangan terlalu banyak maunya dengan memberikan macam-macam insentif. Lebih baik investor yang sudah diidentifikasi masalah yang mereka hadapi dan dicarikan solusinya agar mereka semakin memperluas investasinya. (sar)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Ahmad Heri Firdaus

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)