Tekan Impor di Sini, Memble di Sana
berita
Ekonomika
Ilustrasi watyutink (gie/watyutink.com) 18 October 2018 16:30
Penulis
Kebijakan pemerintah menekan impor mulai membuahkan hasil. Neraca perdagangan Indonesia mengalami surplus pada September 2018 dimana ekspor lebih besar dari impor. Ekspor tercatat mencapai 14,83 miliar dolar AS, sementara impor tertoreh di angka 14,60 miliar dolar AS, berselisih  230 juta dolar AS (Rp3,45 triliun dengan kurs Rp15.000 per dolar AS).

Kebijakan mengerem impor berimbas pada laju kenaikan impor. BPS mencatat impor nonmigas September 2018 sebesar  12,32 miliar dolar AS atau turun 10,52 persen dibanding bulan sebelumnya. Sementara itu, impor migas tercatat 2,28 miliar dolar AS atau turun 25,20 persen dibanding bulan sebelumnya.

Penurunan impor nonmigas terbesar pada September  dibandingkan dengan Agustus  adalah golongan mesin/peralatan listrik 259,5 juta dolar AS (13,22 persen), sedangkan peningkatan terbesar adalah golongan buah-buahan sebesar 42,2 juta dolar AS (66,46 persen).

Melihat keberhasilan pembatasan impor dalam memperbaiki neraca perdagangan, Presiden Joko Widodo meminta menteri terkait agar tidak berhenti pada pengetatan tarif impor terhadap 1.147  barang konsumsi.

Selain itu, presiden juga meminta para menteri untuk melakukan terobosan dalam meningkatkan ekspor dan menemukan cara memperluas penetrasi pasar di dalam negeri  agar keseimbangan neraca perdagangan semakin baik.

Melihat angka yang dipaparkan BPS, penurunan impor justru mengkhawatirkan karena lebih banyak menimpa pada barang  golongan mesin/peralatan listrik yang turun sebesar 13,22 persen. Bukankah barang jenis itu dibutuhkan untuk produksi? Jika produksi menurun, tidakkah kegiatan produktif juga akan menurun? Jika hal ini dikaitkan dengan ekspor, apakah tidak akan berpengaruh kepada kinerja ekspor Indonesia ke depan?

Yang juga mengkhawatirkan adalah impor barang konsumsi  justru naik. BPS mencatat peningkatan impor terbesar adalah golongan buah-buahan sebesar 42,2 juta dolar AS (66,46 persen). Bukankah pemerintah sudah bersumpah mengikis habis impor barang konsumsi?

Bisa jadi surplus neraca perdagangan ini bukan hasil dari kebijakan pemerintah menekan impor melalui kenaikan PPh impor atau mandatori kebijakan B20. Lalu surplus ini diciptakan oleh apa? Apakah hanya sebagai respons pasar terhadap pelemahan rupiah yang masih terus terjadi?

Sejumlah ekonom menyatakan surplus  neraca perdagangan pada bulan September tidak berarti menunjukkan sinyal yang baik. Masalahnya, ekspor menunjukkan angka penurunan dibandingkan dengan bulan sebelumnya yakni sebesar 6,58 persen. Ditambah lagi impor nonmigas yang juga menurun 10,52 persen. Dengan demikian nilai impor  pada barang modal, barang konsumsi, dan bahan baku turun semua. Apakah berarti ke depan ekspor akan lebih turun lagi?

Yang juga kadang luput dari perhatian adalah sektor jasa. Surplus yang didapat Indonesia disumbang oleh ekspor impor barang (goods), sementara  ekspor impor jasa (services) selalu mengalami defisit sehingga muncul defisit neraca transaksi berjalan (current account). Apakah hal ini akan dibiarkan terus terjadi sehingga mengancam APBN?

Apa Pendapat Anda? Watyutink?

SHARE ON
OPINI PENALAR
Guru besar dan Ketua Program Studi Doktor ilmu ekonomi di Fakultas Ekonomika & Bisnis Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta.

Berita Resmi Statistik BPS per 15 Oktober 2018  melaporkan bahwa nilai ekspor Indonesia September 2018 mencapai  14,83 miliar dolar AS, yang meningkat hanya 1,7 persen dibandingkan dengan September 2017. Dari total ekspor tersebut, ekspor nonmigas mencapai 13,62 miliar dolar AS, yang meningkat 3,8 persen dibanding Agustus 2018.

Menurut sektor, ekspor nonmigas hasil industri pengolahan Januari–September 2018 naik 5,7 persen dibanding periode yang sama tahun 2017, demikian juga ekspor hasil tambang dan lainnya naik 31,7 persen, sementara ekspor hasil pertanian turun 8,33 persen.

Ekspor nonmigas September 2018 terbesar adalah ke Tiongkok yaitu 1,93 miliar dolar AS, disusul Amerika Serikat 1,49 miliar dolar AS dan Jepang 1,33 miliar dolar AS, dengan kontribusi ketiganya mencapai 34,8 persen. Sementara ekspor ke Uni Eropa (28 negara) sebesar 1,39 miliar dolar AS.

Kinerja perdagangan internasional ini mengkawatirkan. Pertama, meski terjadi surplus perdagangan bukan September 2018, ternyata surplus hanya terjadi 3 bulan sejak januari 2018. Dengan kata lain, lebih sering terjadi defisit perdagangan dimana  impor melebihi ekspor, daripada surplus.

Kedua, ternyata surplus perdagangan hanya terjadi untuk ekspor impor barang (goods), sementara ekspor impor jasa (services) selalu mengalami defisit. Akibatnya terjadilah defisit neraca transaksi berjalan (current account).

Ketiga, diversifikasi produk ekspor belum berjalan. Sebanyak 10 golongan barang masih mendominasi sekitar 53 persen ekspor nonmigas. Padahal ekspor nonmigas menyumbang sekitar 90 persen total ekspor Indonesia. Sementara ekspor migas lebih rendah daripada impor migas yang mengakibatkan Indonesia kini menjadi "net importer of oil" bahkan bukan lagi menjdi negara anggota OPEC.

Saya menyusulkan dilakukan "total global strategy" agar kinerja perdagangan lebih stabil. Upaya menstabilkan nilai tukar rupiah yang terus merosot hingga 26 persen lebih di era Jokowi, perlu dibarengi dengan sejumlah paket kebijakan yang menyeluruh dan mencakup reorientasi kebijakan perdagangan, reindustrialisasi, pertambangan-energi, dan pertanian-perkebunan-perikanan-kehutanan. Upaya diversifikasi produk dan pasar ekspor yang dilakukan oleh Ditjen Pengembangan Ekspor Nasional masih belum optimal.

Strategi substitusi impor masih "setengah hati" karena hampir semua produk masih memiliki kandungan impor yang tinggi. Kita masih mengimpor garam, susu, sapi, kedelai, kapas, minyak mentah, alat kesehatan dan lain-lain. Ironisnya, pertumbuhan impor masih lebih tinggi daripada pertumbuhan ekspor. Sebanyak 75 persen impor Indonesia berupa bahan baku dan penolong yang belum bisa dipenuhi oleh industri dalam negeri. (sar)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

Secara teknis surplus dalam neraca perdagangan ini sudah membaik dibandingkan bulan sebelumnya yang defisit.  Surplusnya hanya 1,5 persen dari total ekspor pada September 2018. Jika dilhat dari semua jenis perdagangan internasional pada September 2018, semua mengalami penurunan.

Ekspor Migas turun sebesar 12,8 persen, ekspor nonmigas turun  5,6 persen, impor migas turun 25,5 persen,  impor nonmigas turun 10,7 persen sehingga belum ada tanda-tanda yang bisa dijadikan patokan. Kita masih harus menunggu konsistensinya.

Dilihat dari surplusnya, apa yang jadi penyebabnya. Secara gamblang terlihat impor menurun 13,3 persen, lebih tinggi dari penurunan ekspor sebesar 6,3 persen. Hal ini berarti ekspor bukan menjadi alasan dibalik surplus  yang terjadi pada September 2018.

Jika ekonomi membaik pada September maka seharusnya diikuti juga oleh membaiknya ekspor dan terjadi hingga akhir tahun. Tetapi tampaknya hingga akhir tahun belum ada tanda-tanda apakah neraca perdagangan akan tetap surplus  atau tidak. Jika dilihat trendnya surplus akan turun dan akan meningkat lagi pada awal tahun. Kita lihat apakah surplus ini akan terjaga atau tidak.

Pada tahun ini terjadi tiga defisit yakni neraca pembayaran, neraca perdagangan, dan neraca transaksi berjalan. Ini harus ditutupi, salah satunya dari migas dan nonmigas. Untuk migas kami melihat dalam jangka panjang harganya akan meningkat dan kurs terdepresiasi lebih dalam sehingga perlu dihindari.

Kita harus melihat apakah suplai Migas, terkait dengan iklim usaha di sektor energi ini, sudah diperbaiki atau belum oleh pemerintah. Masalahnya, blok Mahakam setelah diambil alih oleh Pertamina  dari Total produksinya turun sekitar 30 persen karena BUMN ini mengalami kesulitan.

Sementara itu, dari sisi demand ada rencana menaikkan harga premium berdasarkan perhitungan teknis tetapi karena ada pertimbangan faktor politik jelang Pilpres 2019 harganya dijaga agar tidak merugikan incumbent, sehingga yang perlu dijaga adalah tingkat konsumsi BBM jika tidak berani menaikkan harganya.

Namun jika dikatakan surplus yang terjadi pada September 2018 karena kebijakan penggunaan biodiesel 20 persen dan pembatasan impor, belum terlihat.  Beberapa kali defisit lalu rebound secara teknis jadi surplus hanya karena penurunan impor yang biasa terjadi pada Agustus  dan September bukan dipelopori oleh ekspor, harus diwaspadai.  (sar)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Ahmad Heri Firdaus

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)