Geliat Gerakan Indonesia Berkebaya
berita
Humaniora
Ilustrasi watyutink (gie/watyutink.com) 20 July 2019 10:00
Watyutink.com - Gerakan Indonesia berkebaya kini kian menggeliat. Hal ini mungkin sangat sederhana, namun akan memutar ingatan kita sejenak dan menimbulkan tanya, ‘ada apa dengan kebaya?’ lebih dari ‘mengapa harus kebaya?’

Secara etimologi, kebaya berasal dari kata "Kebyak" atau "Mbayak" dari bahasa Jawa. Konon, Majapahit adalah kerajaan Nusantara yang pertama menggunakan kebaya untuk isteri dan para selir raja. Kebaya dipakai dengan kemben dan atau stagen yang dipadukan dengan kain jarik. Kecantikan wanita Indonesia selalu terpancar dalam balutan indah kebaya.

Jika kita tarik mundur sejarah, Kartini, sosok pejuang perempuan digambarkan memakai kebaya. Demikian pula dengan Dewi Sartika. Cut Nyak Dien, juga Christina Martha Tiahahu, juga menggunakan sejenis kebaya khas daerah masing-masing. Tentu saja kebaya bukan hal yang baru, kebaya adalah kekayaan budaya Indonesia. Bahkan pada zaman dahulu, kebaya memainkan peran politik yang cukup penting.

Kabar baiknya adalah bahwa Indonesia kini kembali membudayakan memakai kebaya. Misal saja Pramugari maskapai penerbangan Garuda yang kini menetapkan kebaya dipadukan dengan kain sebagai seragam. Lihat pula acara pagelaran fashion nasional maupun internasional, sudah banyak desainer ternama tanah air mempopulerkan kebaya ke rancah global. Jika diperhatikan pada acara Beauty Queen setingkat Miss Universe dan selevelnya, wakil dari Indonesia sudah tak canggung lagi menggunakan kebaya modifikasi modern. Tidak hanya itu, sudah banyak model atau aktris mancanegara menggunakan kebaya rancangan desainer tanah air dalam berbagai acara.

Di dalam negeri, kebaya umumnya dikenakan pada acara pernikahan, wisuda, dan acara resmi lainnya. Fenomena macam apa ini? Apakah ini tanda bahwa kebaya demikian diformalkan atau justru masih dimarjinalkan? Apakah di zaman serba praktis ini kebaya dianggap sebagai simbol keribetan? Ah, tentu tidak juga, jika kita melihat Bali misalnya, menarik sekali dengan budaya yang dipertahankan wanita Bali masih sering menggunakan kebaya dalam kegiatan sehari-hari, ketika beribadah ke Pura misalnya. Bahkan, pemerintah daerah Bali menetapkan setiap Kamis wajib berkebaya, buat perempuan tentunya.

Kini, ada beberapa komunitas profesi yang mayoritas perempuan selalu berkebaya di setiap aktivitasnya. Termasuk di salah satu komunitas jurnalis perempuan. Mereka punya slogan “Berkebaya kemana saja dan kapan saja.” Keteguhan mereka melestarikan tradisi kebaya sekaligus menepis anggapan bahwa berkebaya mengganggu ruang gerak. Lagipula desain kebaya masa kini dapat dipadupadankan dengan berbagai model bawahan.

Budaya menunjukkan bangsa. Pakaian tak kalah penting dalam membangun karakter budaya. Membudayakan kembali kebaya juga merupakan suatu kepentingan nasional agar berkepribadian dalam bidang kebudayaan. Munculnya kembali kesadaran berkebaya ini bisakah diindikasikan dengan peningkatan kadar nasionalisme? Apakah memakai kebaya hanya trend sesaat, yang kemudian menguap entah ke mana? Atau sebagai bentuk pernyataan identitas sebuah bangsa yang tegak di tengah bangsa-bangsa lain di dunia?

Apa pendapat anda? Watyutink?

SHARE ON
OPINI PENALAR
Pembelajar Kebudayaan dan Peradaban Umat Manusia

Demokrasi menghadirkan kebebasan termasuk kebebasan di bidang kebudayaan seperti misalnya menggemari busana tradisional. Tidak bisa dipungkiri bahwa kebaya adalah busana tradisional Nusantara yang berasal dari masyarakat aristokrat kemudian dikembangkan oleh masyarakat keturunan Belanda dengan ornamen renda dan masyarakat keturunan China dengan ornamen bordir.

Setelah batik diakui sebagai warisan kebudayaan dunia mahakarya Indonesia oleh UNESCO, maka bangkitlah semangat kebanggaan nasional bangsa Indonesia untuk mengenakan busana tradisional bangsa Indonesia sendiri.

Di masa kini, kaum perempuan Indonesia terlepas dari daerah mana bangga mengenakan kebaya. Para desainer kreatif mencipta kebaya gaya baru. Suatu fenomena pengembangan kebudayaan yang sebenarnya tidak perlu dipertanyakan maknanya selama bukan bersifat memaksa atau dipaksa atau demi kepentingan politik kekuasaan tertentu di masyarakat demokratis yang pluralis seperti masyarakat Indonesia.

Sayang belum ada kebaya untuk kaum lelaki maka sementara saya “hanya” mengenakan selendang dan sarung batik saja. Hidup Kebaya! (yed)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Seniman dan Penulis Buku

Menurut saya, gerakan berkebaya adalah salah satu bentuk kesadaran perempuan Indonesia akan identitasnya sebagai perempuan Indonesia. Kesadaran ini adalah hal yang sangat menggembirakan, karena perempuan Indonesia mulai bisa melihat bahwa apa yang kita punya itu indah dan perlu dipertahankan, dibanggakan, dan disiarkan.

Apakah hanya menjadi demam sesaat? Saya harap tidak. Dan harusnya justru semakin menggelora dan menjadi kesadaran kita semua, orang Indonesia.

Bisa jadi, kebaya di masa awal ini menjadi variasi berbusana, pamer koleksi kain. Tetapi ketika kemauan mencoba sudah terlewati dan kenyamanan berkain dan kebaya menjadi kenyamanan, maka setiap hari berkain dan berkebaya adalah hal yang biasa buat perempuan Indonesia.

Sebetulnya yang dikhawatirkan ribet itu bukan berkebaya, tetapi pakai kainnya. Selama ini berkain dianggap harus dipadu dengan kebaya, harus pakai long torso. Ikat sana sini. Padahal berkain itu gampang sekali. Contoh, lihat betapa gampangnya para ibu di seluruh penjuru negeri kita memakai kain daerah  masing-masing. Tak harus dipadu dengan kebaya (encim/kutu baru/kartini).

Jadi kalau menurut saya, dan juga harapan saya, kita tidak terikat okeh kata “kebaya” tetapi menuju pada berkain Nusantara. Memakainya setiap hari. Pakai kain itu luar biasa enak dan gaya dan hemat (kurusan, tinggal ditarik sarungnya, gemukan, longgarkan sarung/kainnya)

Kain kita itu identitas negeri ini. Memakainya adalah cara terbaik menunjukkan kecintaan pada negeri kita. (yed)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Pengamat Budaya

Gerakan Indonesia berkebaya merupakan reaksi terhadap maraknya jilbabisasi esktrim. Ada yang secara jelas menyatakan bahwa ini merupakan perlawanan terhadap dominasi jilbab yang mencapai tahap cadar. Hal ini dikhawatirkan menghilangkan budaya bangsa. Padahal semua ini bisa saja hanya cyber war, misalnya di medsos ada yang menyebarkan foto-foto suatu sekolah di Indonesia yang seluruh siswinya menggunakan cadar hitam. Nah, ini menghilangkan ciri individu dan ciri budaya lokal. Harus diakui cadar apabila menjadi gerakan ekstrim bisa menghilangkan banyak hal, termasuk warisan budaya. Walaupun kadang warisan budaya ini sering dijadikan sebagai dalih reaksi saja.

Pada zaman orde baru, Kebaya ini lekat dengan kepentingan non kultural. Misalnya pada tahun 70-an dianggap terlalu kebarat-baratan, seperti rok mini. Nah, saat ini dianggap terlalu kearab-araban. Kebaya menjadi gerakan yang memiliki muatan politis walaupun wilayahnya kultural. Begitu juga saat ini, aksi reaksi tidak memiliki akar yang dalam dan sekedar tren.

Seharunya pemakaian kebaya menjadi hal yang substansial, bukan hanya sekedar reaksi namun juga menggali nilai budaya yang terdapat didalamnya. Menarik pada tahun 45-an, dimana perempuan Indonesia pakaian kesehariannya menggunakan rok dan seakan tertekan menggunakan rok yang dahulunya memakai kebaya, ada pergeseran kultural. Pakaian kebaya menjadi sesuai yang tradisional. Padahal sebelumnya di Batavia, kebaya menjadi pakaian sehari-hari. Arus pergeseran ini menimbulkan pandangan bahwa pemakaian kebaya itu merepotkan karena bawahannya harus menggunakan kain jarik.

Seringkali pakaian barat yang dibawa kolonial, memiliki nilai-nilai konservatif Kristen dimana pakaian harus tertutup dan panjang. Sementara di Indonesia perempuan harus menyesuaikan karena terbiasa dengan kain jarik, kebaya dan kemben. Hal ini dianggap menjadi revolusi pakaian sehari-hari karena lebih ringkas dan praktis.

Gerakan menggunakan kebaya untuk kegiatan sehari-hari lebih menarik. Karena selama ini kebaya hanya digunakan untuk agenda resmi bukan kegiatan sehai-hari. Sebaiknya kebaya ini menjadi pakaian formil karena saat ini sudah tidak terlalu menghalangi, misalnya bisa mengkombinasikan kebaya dengan celana, rok yang lebih ringkas dan bisa dipadu-padankan dengan jilbab, tidak ada salahnya. Jadi bukan membenturkan jilbab dengan kebaya.

Terpenting sebenarnya penggalian nilai-nilai budaya dibalik kebaya ini. Jadi yang perlu diantisipasi adalah gerakan penggunaan cadar, bukan jilbab sebab cenderung menghilangkan keragaman. Kebijakan pembatasan penggunaan cadar/niqab perlu dipertimbangkan, bukan penggunaan jilbab. Untuk kebaya sendiri perlu didorong industri kebaya agar lebih maju bahkan untuk ekspor ke luar negeri. (yed)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
close

TOPIK TERPOPULER

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Jerry Massie, Dr., M.A., Ph.D.

Direktur Eksekutif Political and Public Policy Studies

Yahya Agung Kuntadi, Ir., M.M.

Kepala Kantor UGM Kampus Jakarta, Institute of Research and Community LPPM UGM

FOLLOW US

Konsep Sudah Benar, Implementasinya Gagal             Tugas Terbesar Negara, Mencerdaskan Bangsa!             Indonesia Butuh Terobosan-terobosan Progresif Bidang SDM             Penekanan pada Memobilisasi Kapasitas Modal Manusia Lokal Secara Otentik             Meritokrasi vs Kabilisme             Kendalikan Harga Pangan untuk Menekan Inflasi             Utang Semakin Besar, Kemampuan Membiayai Pembangunan Berkurang             Perhatikan Belanja Non K/L yang Semakin Membesar             GBHN Isu Elite Politik Saja             Kepentingan Politik Lebih Menonjol