Hidup Bertumpu Pada Kejujuran. Sulitkah?
berita
Humaniora

Sumber Foto : Kompasiana.com

19 September 2017 17:33
Penulis
“Kurang cerdas dapat diperbaiki dengan belajar

 Kurang cakap dapat dihilangkan dengan pengalaman

 Namun tidak jujur itu sulit diperbaiki”

Mohammad Hatta selalu bertumpu pada kejujuran hidup. Petikan kalimat di atas menegaskan prinsipnya sebagai warga sipil maupun pejabat negara. Hatta nyaris tanpa cela soal sikap jujur.

Suatu waktu di tahun 1950-an, Hatta menggunting sepotong iklan surat kabar yang memuat promosi sepatu bermerek “Bally”. Sepatu mahal dan berkualitas impor dari Schönenwerd, Switzerland, yang diproduksi oleh perusahaan Bally & Co. Sayangnya, Hatta tidak memiliki uang untuk membeli sepatu idamannya. Potongan iklan itu disimpan. Hingga akhir hayat. dia tidak mampu membeli sepasang sepatu Bally.

Sikap jujur juga dicontohkan Muhammad Natsir, Menteri Penerangan pada 1946 dan Perdana Menteri pada 1950. Dia tidak mampu membeli jas baru. Dalam rapat kabinet, Natsir selalu menggunakan jas penuh tambalan. Bahkan keluarganya menumpang tinggal di rumah sahabatnya, Prawoto Mangkusastro, di Kampung Bali, Tanah Abang, Jakarta Pusat.

Natsir tidak memiliki uang untuk menyewa atau membeli rumah. Di zaman sekarang, tokoh agama Buya Syafii Maarif menjadi teladan bagi kesederhanaan hidup. Buya Syafii tidak segan menggunakan transportasi publik commuterline untuk menghadiri undangan resmi ke Istana Presiden di Bogor, Jawa Barat.

Kejujuran dan loyalitas ketiganya, seolah membalikkan kenyataan bahwa pejabat-pejabat negara saat ini gemar korupsi. Perbuatan pidana korupsi menggerogoti uang negara dapat ditemui di level terendah hingga tertinggi.

Meski negara memperkuat pendidikan budi pekerti melalui kurikulum di sekolah, toh hasil berbicara lain. Ironisnya, institusi pendidikan juga tidak luput melakukan korupsi. Padahal ruang paling strategis dalam membangun moral, karakter, akhlak mulia, dan budi pekerti justru di sekolah dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi. Apakah ini potret gagalnya Revolusi Mental?

Apa pendapat Anda? Watyutink?

(fai)

SHARE ON
OPINI PENALAR

Saya kebetulan berasal birokrasi dan anak buah kenal siapa saya.  Mereka tahu persis bagaimana saya selama ini bekerja, jadi anak buah saya akan mengikut saja. Pada dasarnya PNS itu akan mengikuti apa yang dicontohkan oleh pemimpinnya. Pelayanan publik yang transparan dapat menghemat biaya, semua orang bisa lihat, memiliki kepastian waktu, bisa menangkal korupsi dan KKN.

Jabatan sebagai Wali Kota itu berat karena pertanggungjawabannya bukan hanya di dunia. Saya bisa bohongi rakyat, pura-pura baik, tapi Tuhan masa bisa dibohongi. Boleh dicek di warga Surabaya, saya gak punya beban-- untuk apa? Awal-awal menjabat niat saya untuk kebaikan semuanya. Kalau saya diamkan korupsi itu kan salah. Kalau saya enak-enakan, saya bilang kepada diri sendiri “Lho Risma kok enak kamu duduk-duduk gitu”.

Saya sering berantem, saya debat free flow begitu. Pernah suatu waktu menjelang kampanye, saya datang di suatu arisan ibu-ibu. Ada seorang bapak yang saya nggak akan pernah lupakan wajahnya. Dia bilang, “Ibu-ibu amplop undangannya dibawa gak? Ibu-ibu serentak menjawab, “Nggak...”

“Itu amplop si Pak X diisi dengan uang,” kata bapak itu.

Saya bilang, maaf ya ibu-ibu saya tidak akan memberi uang, saya tidak akan membeli suara Tuhan. Kalau bapak dan ibu tidak mau, saya pamit pulang. Ibu-ibu itu menjawab, “Oh, jangan Bu, kita disini menunggu bu Risma. Kita gak butuh uang”. Saya tegaskan, mohon maaf bapak-ibu, saya tidak bisa membeli suara Tuhan. Saya juga tidak punya uang. Silakan dicek, banyak saksinya warga disitu. Kalau bapak-ibu tidak memilih saya, tidak jadi masalah. Tidak ada yang bisa mengatur jalan Tuhan, kita harus percaya ada kekuatan lain. (fai)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Guru, Pegiat Pendidikan Kritis

Jujur adalah satu kata penuh makna  yang indah didengar, tetapi tidak seindah mengaplikasikan dalam keseharian. Tidak pula berlebihan, bila ada yang mengatakan “jujur” semakin langka dan terkubur, bahkan tidak lagi menarik bagi kebanyakan orang. Semua orang paham akan maknanya, tetapi begitu mudah mengabaikannya.

Jujur senantiasa menjadi harapan setiap orang, bahkan tidak sedikit orang berlomba-lomba untuk mendapatkan gelar jujur, padahal jujur yang sebenarnya sudah tertanam dalam diri dan hati setiap individu, bahkan setiap individu sesungguhnya bisa menilai dan merasakan makna jujur dalam hatinya. Jujur adalah keselarasan antara lisan dan praktik serta perilaku setiap individu yang benar-benar menjadi satu kesatuan yang utuh, satu sama lain saling menguatkan dan meyakinkan. Jika ada seseorang berhadapan dengan sesuatu atau fenomena, maka orang itu akan memperoleh gambaran tentang sesuatu atau fenomena tersebut. Jika orang itu menceritakan informasi tentang gambaran tersebut kepada orang lain tanpa ada “perubahan” (sesuai dengan realitasnya) maka sikap yang seperti itulah yang disebut dengan jujur. Dengan kata lain seseorang dikatakan jujur, bila ucapannya sejalan dengan perbuatannya.

Jadi yang disebut dengan jujur adalah sebuah sikap yang selalu berupaya menyesuaikan atau mencocokkan antara informasi dengan fenomena atau realitas. Makanya jujur itu bernilai tak terhingga. Karena semua sikap yang baik selalu bersumber pada “kejujuran”. Merupakan suatu keindahan bila setiap individu bersikap jujur terhadap dirinya, pedagang senantiasa jujur dalam usaha dagangannya, demikian pula pemimpin yang jujur dalam melaksanakan tugas dan kewajibannya.

Dalam dunia pendidikan, jujur senantiasa sering dibahas dan disampaikan kepada segenap siswa didik dengan harapan tentunya para siswa didik mampu memahami dan mengerti akan makna jujur yang sebenarnya yang pada akhirnya dapat dilaksanakan dalam kegiatan belajar mengajar. Sebagai contoh kita dengan mudah dapat melihat dan menilai sejauh mana makna jujur yang dilakukan oleh para siswa didik dalam pelaksanaan tes/ujian. Semua siswa tentunya berharap mendapatkan nilai yang maksimal yang akan membuat mereka senang dan bahagia. Padahal nilai bukanlah segala-galanya apalagi didapat dari sikap-sikap yang bertentangan dengan nilai-nilai kejujuran itu sendiri. “Jujur sudah tentu benar, tetapi kebenaran belum tentu jujur”. (fai)

 

 

 

 

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest

Benteng pertahanan saya sudah habis, tersisa tinggal satu lapis yaitu kesehatan saya. Saya gak merasa diri saya berani. Jujur saya gak merasa berani. Saya hanya coba menjalankan yang saya bisa, mampu, dan kuat saya lakukan.

Saya berprinsip “Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madya Mangun Karso, Tut Wuri Handayani” artinya saya harus jadi panutan, memberi contoh anak buah, mendukung anak buah agar bekerja dengan baik. Tidak ada jaminan seluruh anak buah saya mau mengikuti irama saya sebagai Bupati Batang. Saya harus berusaha menjadi pemimpin yang baik.

Selain sebagai panutan, pemimpin juga bapak, guru, teman, sekaligus komandan. Kadang harus bertindak sebagai adik, harus lengkap, yang susah selama saya menjalani kewajiban sebagai bupati adalah membangun SDM yang bagus dan bagaimana anak buah taat aturan.

Yang mengerikan, saya tahu punya uang seragam dan tunjangan kesehatan ke dokter itu tahun kedua sebagai Bupati. Gak ada yang ngajarin saya. Membangun sistem sebagus apapun, bila digawangi orang-orang yang tidak jujur ya percuma saja.

Selama dunia ini masih ada, gak akan bisa memberantas korupsi. Gak ada yang bisa jamin. Saya buat surat yang ditempel di meja kerja anak buah, “Wahai Kepala Dinas, jika ada orang yang mengatasnamakan saya, adik saya, kakak saya, keluarga saya, tim sukses saya atau siapapun yang mengatasnamakan saya, yang meminta proyek agar tidak dilayani atau diladeni.”

Saya menerapkan Pakta Integritas yang disaksikan LSM dan Universitas di Jawa Tengah dan Yogyakarta. Semua proyek melalui lelang terbuka. Saya dirikan UPKP2, sebuah institusi di luar pemerintah daerah yang independen untuk menjembatani komplain masyarakat kepada pemerintah daerah. Setiap tahun diselenggarakan Festival Anggaran, dibuka semua APBD, pengeluaran dan pemasukan proyek-proyek, bahkan gaji saya dan Wakil Bupati, semua dibuka secara transparan. (fai)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest

PILIHAN REDAKSI

close

PENALAR

PILIHAN REDAKSI

PENALAR TERPRODUKTIF

Ujang Komarudin, Dr., M.Si.

Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Nanang Djamaludin

Direktur Eksekutif Jaringan Anak Nusantara (JARANAN), Konsultan Keayahbundaan dan Perlindungan Anak.

Ahmad Heri Firdaus

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)

FOLLOW US

Rekonsiliasi ala Amien Rais Tidak Beretik Demokrasi             Indonesia Butuh Rupiah Kuat             Pembangunan Kodim untuk Wilayah 3T Urgen             Harus Disesuaikan dengan Kebutuhan dan Ancamanya             Rekonsiliasi Transaksional Rusak Mental Bangsa             Tak Ada Rekonsiliasi Tanpa Power Sharing             Polisi Tunduk Pada Hukum             Inovasi Kebijakan yang Tidak Menjual             Kebijakan Tergantung Tujuan Awalnya             Kebaya Tak Perlu Dipertanyakan