Theologia Religionum
berita
Pikiran Bebas
Ilustrasi/ Net 19 April 2021 07:00
Penulis

Direktur Pengkajian Materi Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP).

Dalam sebilah napas sejarah, perjumpaan agama-agama acapkali dilimbur skisma, perpecahan dan huru hara. Akar persoalannya terbit dari perselisihan manusia perihal Tuhan, Sang Maha Misteri di setiap lipatan waktu.

Penulis genial Religious Studies, Karen Armstrong, dalam The Battle for God (2000) mendaku, aneka rumusan Tuhan pada agama-agama dan tradisi autentik kelak menimbulkan perpecahan yang keras tidak saja antar-agama tapi juga masing-masing intra-agama. Dalam Islam, perseteruan paling dini dan berdarah antara Sunni dan Syiah terjadi karena dipicu perebutan politik dan haus kuasa, pada hal tak ada perbendaan prinsip di antara keduanya. Dalam Kristianisme, skisma serupa tampaknya jauh lebih rumit dan panjang, diwarnai dengan peperangan antara para raja yang berdampak perpecahan gereja hingga lahirnya fideisme, keyakinan adanya Allah secara rasional, tetapi tak ada campur tangan Allah dalam ruang historis dan agama pun menjelma menjadi filsafat yang sekular.

Salah satu persoalan besar di balik perjumpaan agama-agama yang memicu sejumlah perdebatan abadi menyangkut kebenaran dan keselamatan adalah bagaimana seorang beragama bisa mendefinisikan dan meletakkan dirinya secara tepat di tengah-tengah agama lain dan tradisi autentik yang juga eksis dan punya autentisitas. Di alas kesadaran ini, tumbuh mekar sebilah paham apa yang disebut sebagai theologia religionum yang mengandaikan semakin pentingnya dewasa ini berteologi dalam konteks lintas-iman yang memilah sikap keberagamaan dalam tiga disposisi: eksklusivisme, inklusivisme dan paralelisme.

Eksklusivisme mengandaikan sikap agama yang hanya membenarkan  agama rumah sendiri sembari menampik agama lain. Inklusivisme adalah sikap agama yang menerima agama lain, tapi lebih merupakan sub-ordinat agama rumah sendiri, sementara Paralelisme merupakan sikap yang meletakkan agama lain setara dengan agamanya sendiri.

Meskipun ide theologia religionum itu sangat kompleks, tetapi sikap paralelisme ini sangat mendukung paham pluralisme atau kepelbagaian, meski memang tidak mudah memahami segi ini. Karena itu, untuk melukiskannya lebih dalam, tak sedikit ahli menggunakan galaksi tanda dan semesta alegoris. Sebutlah dintaranya metafora pelangi.

Dalam metafor pelangi, diandaikan jika semua agama mempunyai warna dasar yang sama, yang tidak terlihat dari warna luarnya.Warna dasar itu adalah warna putih. Setiap warna muncul dari warna putih lewat pembelokan, atau dilihat dari sisi lain, setiap warna menyimpan warna putih. Begitulah misalnya, agama Islam adalah warna hijau, agama Kristen adalah warna biru dan agama Budha adalah warna kuning, dan seterusnya. Semua warna-warna itu pada intinya berasal dari warna putih, yang diandaikan  sebagai warna dari agama primordial. Para penganut philosophia perennis  menyebutnya sebagai primordial truth.”

Sikap paralelisme ini kiranya mengekspresikan adanya fenomena Satu Tuhan, banyak agama yang bermakna suatu sikap toleran terhadap adanya jalan lain kepada Tuhan (ingat konsep al-subul al-salâm dalam tradisi Islam). Karena itu, yang terpenting dari agama bukanlah bentuk atau kerangkanya (eksoteris) tapi substansi dan nilai moral dan transendesinya (esoteris). 

Para penganut philosophia perennis berkeyakinan: dalam jantung setiap agama dan tradisi yang autentik memiliki pesan kebenaran yang sama yang disebutnya the heart of religions. Karena itu, setiap agama dan keyakinan autentik memiliki jarak yang sama ke pusat Kesadaran dan Kebenaran yaitu Tuhan. Dengan sikap keberagamaan seperti itusebagai simpul gagas theologia religionum—diharapkan mampu melahirkan pemikiran dan sikap keagamaan yang lebih pluralis dan sejuk: satu sikap teologis yang memang sangat dibutuhkan oleh bangsa kitayang  kerapkali terancam api konflik horizontal dan dentuman praharakarena  dipicu oleh sebuah paham keagamaan yang belum terdewasakan.

* Konten ini adalah kiriman dari user, isi konten sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis/kreator/user. Ingin membuat konten di Watyutink? Klik di sini!

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF