'Agama Benci' Versus 'Agama Cinta': Membaca Pikiran Prof. Yudian Wahyudi
berita
Pikiran Bebas
Ilustrasi kan watyutink.com 18 February 2020 08:30
Penulis

Direktur Pengkajian Materi Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP).

Siapa yang pernah membaca atau menonton film Harry Potter karya J.K. Rowling, akan bertemu dengan Voldemort, sosok jahat yang ingin menekuk dunia dengan misteri yang digenggamnya. Voldemort sosok rekaan di film ini hadir untuk mengabaikan banyak hal, kecuali kegelapan. Ia menjadi makhluk satu dimensi. Dan itulah ikhwal segenap misteri paling menakutkan yang terkandung dalam kejahatan.

Voldemort bisa meresap ke lubuk gelap setiap orang di atas mana seluruh actus yang ditampilkannya tunduk pada kegelapan. Orang pun hidup dalam kecemasan dan kebutaan, sehingga tak bisa melihat yang liyan (the other). Itu sebab, jika seorang terhalang melakukan kebaikan, justru karena terkepung kebutaan dan kegelapan yang tumbuh dari dirinya sendiri. 

Kebenaran Satu Dimensi

Dari dimensi kegelapan Voldemort, kita bisa meletakkan fanatisme, radikalisme, dan fundamentalisme. Ketiga paham ini mengandaikan kebenaran semata-mata dalam “satu dimensi”. Risiko mulai muncul, ketika orang hanya berpegang pada kebenaran menurut “aku” sendiri, dan gagal melihat kebenaran “yang liyan” di luar dirinya. Ia merasa benar dan membela kebenaran, padahal ia sudah mulai tersuruk dalam kegelapan, karena tak mampu melihat yang lain kecuali kebenarannya sendiri. Kebenarannya tidak lagi mencerahkan, namun menggelapkan bahkan membutakannya. Di sini kejahatan mulai menyelinap dan mekar, seperti Voldemort, menyusul ketidakmampuan seseorang untuk melihat dimensi lain, kecuali konstruksi kebenaran berdimensi tunggal. Ini menjadi penjelas mengapa pikiran orang yang direngkuh fanatisme, radikalisme, dan fundamentalisme bisa menjadi gelap, benci, marah, dan jahat terhadap orang lain, seperti halnya sosok Voldemort.

Belakangan, gejala fanatisme, radikalisme dan fundamentalisme kian gemuruh dalam ruang-ruang kebangsaan kita. Ibarat bayangan kelam, ia pun menyaput hampir seluruh sendi kehidupan kita: agama, sosial, budaya, politik, hukum, ekonomi, pendidikan, dan seterusnya. Kekerasan, sebagai sayap terluar dari bayangan pekat kejahatan pun tiba-tiba menjelma “udara” yang bisa kita hirup sehari-hari. 

Agama misalnya, tidak lagi hadir sebagai oase yang memiliki inti pesan memuliakan manusia dengan cinta dan pengampunan, tetapi menjadi post-agama: sebilah napas pemahaman yang menjadikan agama kehilangan rasionalitas dan pesan cintanya. Di titik ini, agama mengalami distorsi dalam menghalau kebencian dan dendam karena kehilangan basis akal-budinya. Ironisnya, agama lalu menjadi habitus, tempat di mana kaum fanatik-radikalis-fundamentalis berlindung dan menjadikannya zona nyaman dalam memupuk kebencian dan amarah kepada yang liyan.

 Agama Cinta

John D. Caputo, seorang post-modernis Heideggerian-Derridean, dalam On Religion (2001) memperlihatkan kegusarannya terhadap gejala post-agama. Ia mencoba melakukan dekonstruksi dan perumusan ulang atas makna dan posisi agama itu kini. 

Sebagai dekonstruksionis Derridean, Caputo lalu mengenalkan semacam theologia negativa yang memroduksi sejumlah anggitan teknis serba “negatif” macam “ketidakmungkinan”, “ketidakterbatasan”, dan “ketidakmampuan” manusia merumuskan paras Tuhan. Meski demikian, Caputo tak lantas jatuh ke dalam lembah “nihilisme” mistis-esoteris macam kecenderungan para perennialis, atau “netralisme” dogmatis macam ahli compartive study of religions.

Skeptisisme dan napas dekonstruksi Caputo, sejatinya lebih merupakan “siasat” untuk melepaskan agama dari kepungan verbal proposisi nyinyir kaum Demagog tentang “apa” atau “siapa” Tuhan, sikap intoleransi menyusul truth claim berlebihan, dan mengembalikan kehidupan religius kepada intinya yakni cinta. Di tengah tendensi kebangkitan dan “bela” agama dalam kecenderungan dogmatisme-legalisme-literalisme—yang sejatinya justru berisiko menghancurkan inti-agama itu sendiri—apa yang belakangan disebut Caputo sebagai “agama cinta” patut dipertimbangkan.
    
Sementara itu, pada ladang subur keruhanian Islam, Ibn ‘Arabi dan Rumi dipandang sebagai teosof-penyair yang paling intens mengonstruk “agama cinta”. Dalam Tarjuman al-Asywaq, Ibn ‘Arabi misalnya mengenalkan sifat tak terbatas dan tak menjelma (nonspecifity and non-entification) dari jantung cinta sang Insan Kamil Muhammad, yang berkekalan mengalami teofani atau manifestasi Zat Ilahiah. Karena itu, jantungnya menjadi “wadah” segenap kosmik. Rumi menyinggung hal serupa ketika mengatakan, “intelek tak berdaya di hadapan agama cinta” (D 2610).
    
Bagi Rûmî, cinta merupakan jantung dan sum-sum agama, tema sentral segenap spiritualitas. Sementara Ibn ‘Arabi, mengandaikan cinta sebagai sebilah alternatif untuk menyadari Kebenaran Tak Terbatas. Ketika membaca Rûmî, manusia secara terus menerus didorong pada pengalaman akan cinta sebagai realitas sentral yang melampaui segala konseptualisasi yang mungkin. Sedangkan ketika membaca Ibn ‘Arabi, tak akan terasa bahwa cinta memiliki peranan yang mengatasi segalanya.
    
Dalam konteks psikologi-spiritual Rumi, kehidupan ego identik dengan kematian ruhani; persekutuan dengan dunia-rendah berarti keterpisahan dengan Tuhan. Derita dan kepedihan hati berakar pada ilusi kedirian (illusory selfhood) dan jarak yang mencerabut diri dari Sang Diri Sejati. Inilah makna senandung Rumi: “selama kita tak menanggung kepedihan/ kita tak akan pernah mencari penawarnya/selama diri tak memiliki cinta/kita tak akan pernah mencari Sang Kekasih.” Diri yang ilusif adalah diri yang terjebak pada simulakrum dan karena itu tak otentik. Saat manusia berhasil melenyapkan ego-tak-otentiknya—yang dibakar oleh bara kerinduan dan api cinta—tidak akan ada yang tersisa selain Tuhan sendiri. Seperti yang diungkapkan Rûmî, dengan kalimah syahadat: Setelah “tiada Tuhan,” apa lagi yang tersisa?/Masih tertinggal “selain Allah” yang lain telah sirna/Bagus, hebat, wahai Cinta yang membakar berhala (M V 589-90).

Kesejatian dan otentisitas selalu akan terancam sirna terutama ketika selubung tanda, dunia lambang dan simulakrum melumatnya. Demikian halnya dengan agama, ketika ia menyapa kehidupan kita kini melalui paras post-agama, “agama” bentukan kaum demagog secara peyoratif, maka api cinta agama pun padam. Agaknya, manifesto “agama cinta” lebih merupakan palu-godam dekonstruksi terhadap anggitan “agama-topeng” atau “agama benci” yang sejauh ini tengah mengerkah otentisitas kita sebagai bangsa. Dalam konteks keindonesiaan, “paras agama” jenis ini yang terjerembab pada kubangan paham-gelap pemikiran dan amat bernafsu mematahkan Pancasila sebagai philosopfische grondslag maupun Weltanschauung. Anggitan “agama” dalam pengertian ini pula, yang diandaikan Kepala BPIP Prof. Yudian Wahyudi sebagai “musuh” Pancasila. Agama cinta—yang  secara substansial bersemayam dalam jantung Ketuhanan Yang Maha Esa dan dibakukan Bung Karno sebagai “Ketuhanan yang Berkebudayaan”—sebab itu, hadir untuk mengandaikan satu hal: bahwa “Tuhan Yang Maha Esa lebih penting dari agama, sebagaimana cinta lebih agung dari iman.”

* Konten ini adalah kiriman dari user, isi konten sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis/kreator/user. Ingin membuat konten di Watyutink? Klik di sini!

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF

Ahmad Heri Firdaus

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)