Setengah Beras Setengah Nasi
berita
Pikiran Bebas
dokpri penulis 19 April 2021 10:00
Penulis

Pemerhati Hubungan Internasional

Bagi masyarakat Indonesia, siapa yang tidak mengenal beras sebagai salah satu dari sembilan bahan pokok (sembako) pemenuh kebutuhan pangan masyarakat setiap hari.

Memperhatikan pentingnya beras maka Pemerintah pun membentuk Badan Urusan Logistik (Bulog) untuk mengatur rantai pasok distribusi beras dari tingkat hulu dan hilir. Tujuannya untuk menjamin rantai pasok distribusi beras.

Bulog membeli beras dengan semua tingkat kualitas dari petani di hulu dan mendistribusikannya di pasar tingkat hilir serta menyimpan stok beras penyangga sebagai cadangan nasional di gudang milik Bulog.

Di bulan Ramadan dan menjelang hari raya Idul Fitri ketersediaan beras menjadi salah satu isu penting di masyarakat, bukan saja untuk memenuhi kebutuhan konsumsi saat berbuka ataupun sahur, namun juga untuk membayar zakat fitrah. Seperti diketahui, setiap menjelang akhir bulan Ramadan, umat Muslim diwajibkan untuk membayar zakat fitrah yang dapat berupa uang tunai maupun beras. Kenapa beras?

Seperti diriwayatkan dalam Hadis Riwayat Bukhari dan Muslim "Dari Ibnu Umar ra berkata bahwa Rasulullah SAW mewajibkan zakat fithr sebesar 1 sha’ kurma atau 1 sha’ tepung (sya’ir), atas setiap hamba atau tuan, laki atau perempuan, kecil atau besar yang beragama Islam dan memerintahkan agar ditunaikan sebelum keluarnya orang- orang untuk salat." (HR Bukhari dan Muslim)

Sesuai hadis tersebut, besar harta yang harus dikeluarkan adalah sebanyak satu sha' gandum atau kurma. Mengingat bahwa tidak semua masyarakat dunia menghasilkan dan mengonsumsi gandum atau kurma, maka  para ulama mazhab Syafi'i memahami arti kurma dan gandum dalam hadis sebagai makanan pokok penduduk di suatu kawasan. Imam Abu Syuja' dalam Matan Taqrib mengatakan, "Maka seseorang mengeluarkan satu sha' makanan pokok daerahnya."

Sampai di sini jelas mengenai status beras sebagai salah satu bahan pokok pangan dan kaitannya dengan beras sebagai alat pembayar zakat fitrah selain uang.

Lalu bagaimana hubungannya dengan judul tulisan “separuh beras separuh nasi.”?

Sebelum menjawab pertanyaan di atas, saya akan bercerita sedikit mengenai fakta-fakta unik yang dijumpai di sejumlah kelompok etnik di Indonesia terkait beras dan nasi. Setiap etnik atau daerah memiliki cara yang khas atau kearifan lokal untuk mengungkapkan konsep beras dan nasi, termasuk cara memasak dalam bahasanya. Keunikan cara pengungkapan tersebut mencerminkan keragaman realitas dan budaya yang melatarbelakanginya.

Mari kita lihat beberapa kearifan lokal yang ada di beberapa daerah, misalnya Jawa Tengah dan Jawa Barat. Di Jawa Tengah, kita mengenal istilah-istilah yang sangat detail tentang beras. Berbeda dengan orang Inggris yang menyebut padi, beras dan nasi dengan satu nama yaitu rice, maka orang Jawa menyebut padi secara rinci yaitu butir-butir padi yang masih melekat di tanaman disebut pari. Pari yang sudah di panen dan di lepaskan dari batang-batangnya dinamakan gabah. Kulit gabah namanya merang. Gabah yang sudah di keringkan, kemudian digiling menghasilkan antara lain biji padi (beras), kulit gabah (katul) dan menir (beras yang tidak utuh). Terakhir adalah sego atau nasi dalam bahasa indonesia, yakni beras yang sudah berhasil dimasak dan di tanak.

Saat memasak, orang Jawa pun memiliki kearifan lokal tersendiri yaitu dengan cara diaron. Cara ini dilakukan dengan memasak air terlebih dahulu kemudian dikukus setengah matang. Beras yang sudah dikukus setengah matang tersebut kemudian dimasukkan ke dalam wadah besar untuk diaduk menggunakan air mendidih. Nah beras setengah matang inilah yang disebut setengah beras setengah nasi karena memang belum matang dan belum siap disantap. Agar bisa disantap, beras yang telah diaron dimasak kembali dengan cara dikukus sampai matang.

Adapun tujuan memasak beras dengan cara diaron adalah untuk menjadikan nasi yang dihasilkan lebih tahan lama dan tidak mudah basi. Bahkan kalau memasaknya menggunakan kukusan bambu dan kayu bakar, nasi menjadi wangi sedap.

Etnik lain yang juga memiliki kearifan lokal tersendiri terkait konsep nasi adalah masyarakat adat Kampung Naga di Tasikmalaya, Jawa Barat. Masyarakat Kampung Naga  mengenal berbagai leksikon yang berkaitan dengan nasi, seperti ditutu [ditutu] ‘ditumbuk’, ditapian [ditapi’an] ‘diayak’, diisikan [di’isikan] ‘dicuci’, dikarihan [dikarihan] ‘dimasak setengah matang’, diseupan [dis?pan] ‘ditanak’, dan diakeul [diake?l] ‘diaduk perlahan setelah matang’. Leksikon-leksikon tersebut memiliki makna yang khas bagi masyarakat adat Kampung Naga yang masih memegang teguh nilai-nilai kearifan lokalnya.

Meski setiap daerah memiliki kearifan lokal tersendiri mengenai beras, namun ada persamaannya yaitu penanganan perjalanan padi ataupun beras menjadi nasi dilakukan dengan penuh kesadaran bahwa proses yang sungguh-sungguh akan menghasilkan hasil yang membahagiakan dan menyehatkan. Ketika beras dimasak dengan benar maka nasi yang dihasilkan akan sempurna kelembutannya, bahkan wanginya pun tercium jauh sebelum suapan nasi masuk ke rongga mulut.

Selain kenikmatan nasi yang disantap, kebahagiaan menjadi kata kunci tersendiri. Bukankah di era pandemi Covid-19 ini. kebahagiaan menjadi impian banyak orang untuk meningkatkan imun tubuh.

Lalu bagaimana dengan masalah kebahagiaan dan kesehatan jika mengkonsumsi separuh beras separuh nasi?

Seperti dikutip dari laman healtthime, mengkonsumsi beras mentah atau setengah matang ternyata dapat meningkatkan risiko keracunan makanan. Hal ini dikarenakan beras dapat menampung bakteri berbahaya, seperti Bacillus cereus (B. cereus). Faktanya, satu penelitian menemukan bahwa B. cereus hadir di hampir setengah dari sampel beras komersial.

B. cereus adalah jenis bakteri yang biasa ditemukan di tanah dan dapat mencemari beras mentah. Bakteri ini dapat membentuk spora, yang dapat membantu bertindak sebagai perisai untuk memungkinkan B. cereus bertahan hidup.

Jika sudah dimasak, maka bakteri di nasi akan mati. Namun, beras mentah yang kemudian tidak disimpan dengan benar dapat meningkatkan pertumbuhan bakteri ini.

Keracunan makanan yang terkait dengan B. cereus dapat menyebabkan gejala seperti mual, muntah, kram perut, atau diare dalam 15-30 menit konsumsi.

Jadi pilih mana? Nasi Padang eh matang atau nasi aron alias setengah beras setengah nasi?

 

 

* Konten ini adalah kiriman dari user, isi konten sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis/kreator/user. Ingin membuat konten di Watyutink? Klik di sini!

SHARE ON
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF