Disengat Asia Sentinel, Demokrat Sentil Istana
berita
Politika
Ilustrasi watyutink (gie/watyutink.com) 20 September 2018 09:00
Penulis
Elite Demokrat “menyentil” Istana terkait artikel Asia Sentinel yang menyebut Partai Demokrat dan SBY mendesain konspirasi kriminal dalam skandal Bank Century. Selasa (18/9/2019), Wasekjen DPP Partai Demokrat Rachland Nashidik, melalui akun twitternya, mempertanyakan kemungkinan adanya campur tangan pihak Istana dalam pemberitaan tersebut. Cuitannya itu disertai unggahan gambar yang menampilkan Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko berdampingan dengan Co-Founder Asia Sentinel Lin Neumann, bersama 13 orang lainnya. Pertanyaannya, apakah sentilan Nashidik sebagai pertanda bahwa Partai Demokrat sedang menabuh genderang perang dengan Istana?

Sebelumnya, Asia Sentinel menerbitkan artikel yang berjudul Indonesia’s SBY Government: ‘Vast Criminal Conspiracy’. Artikel yang dimuat pada 10 September 2018, kini sudah dihapus dari laman websitenya, itu menyebut adanya konspirasi penggelapan uang senilai 12 miliar dolar AS. Duit tersebut diperoleh dari dana para pembayar pajak dan dilakukan pencucian uang (money laundry) atas dana tersebut melalui  sejumlah bank internasional. Begitu berita ini menyebar luas, elite Demokrat ramai-ramai menuding bahwa artikel tersebut sebatas fitnah. Bahkan saat menyampaikan pidato politik dalam HUT ke-17 Partai Demokrat pada Senin (17/9/2018), SBY merasa geram dengan pemberitaan itu.

Alih-alih melakukan upaya hukum terhadap artikel tersebut, mereka justru mensinyalir ada campur tangan Istana dalam memproduksi artikel tersebut. Namun Moeldoko membantah jika Istana terlibat atas artikel tersebut. Ia mengklaim tidak tahu Lin Neumann adalah Co-Founder Asia Sentinel saat itu. Bahkan ia berdalih tidak sempat berbicara satu demi satu, termasuk dengan Lin Neumann. Menurut pengakukannya, ia hadir dalam diskusi yang digelar Kamar Dagang dan Industri Amerika Serikat terkait situasi politik dan keamanan Indonesia—kaitannya untuk mengetahui iklim investasi di Indonesia. 

Jika Demokrat merasa difitnah Asia Sentinel, bukankah “counter attacknya” kepada Istana juga semestinya diiringi fakta yang meyakinkan? Memang Nashidik menyebut keterlibatan Istana dalam kalimat tanya. Tetapi dalam pikiran konspiratif, unggahan Rachland Nashidik bisa berdampak  dua kemungkinan: ada yang mengamini keterlibatan Istana dan ada juga yang menilai sebaliknya. Mengapa Partai Demokrat tidak mencari bukti terlebih dahulu soal keterlibatan Istana dalam pemberitaan Asia Sentinel sebelum mengumbar ke publik?

Lantas, apakah dugaan elite Demokrat itu sama saja menggiring publik berpikir konspiratif? Jika demikian, wajar publik kita saat ini banyak yang ngotot dengan keyakinannya meski tanpa argumentasi atau fakta yang kuat. Sudah saatnya pernyataan elite politik mengedepankan kepentingan publik dengan menyampaikan informasi yang akurat, bukan materi, kabar, atau foto yang bersifat asosiatif!

Apa pendapat Anda? Watyutink?

SHARE ON
OPINI PENALAR
Pengamat Politik dan Dosen Universitas Al Azhar Indonesia

Partai Demokrat pernah berkuasa selama 10 tahun di Republik ini. Partai Demokrat tahu betul bagaimana dengan kekuasaan yang dimiliki, istana bisa melakukan apapun, termasuk dalam meng-counter kritikan oposisi. Kini Partai Demokrat tidak berkuasa lagi dan berada dalam barisan oposisi.

Partai Demokrat merasa dikerjai terkait pemberitaan dalam artikel di Asia Sentinel. Oleh karena itu, wajar jika Partai Demokrat "menuduh" istana ikut bermain. Walaupun sudah dibantah oleh Moeldoko, tapi Partai Demokrat sepertinya tahu betul siapa yang membuat ulah. Sebagai partai yang tidak segaris dengan pemerintah, sesungguhnya Partai Demokrat sedang mengingatkan pemerintah terkait pemberitaan miring tersebut. Bukan menabuh gendrang perang, tetapi sedang mengingatkan pemerintah agar pemerintah tidak lempar batu sembunyi tangan. Karena dalam politik jika kita tidak suka dengan orang lain, maka kita bisa pakai tangan orang lain. Namun semua tuduhan tersebut harus dibuktikan berdasarkan fakta-fakta.

Bisa saja Partai Demokrat sudah tahu fakta dan memiliki data. Oleh karena itu, Partai Demokrat langsung menunjuk hidung walaupun dalam tanda tanya. Istana kan bisa terlibat dan bisa juga tidak. Namun baiknya, Partai Demokrat melaporkan Asia Sentinel ke pihak yang berwajib. Agar kasusnya berjalan objektif, transparan, dan berkeadilan.

Saya berkeyakinan Partai Demokrat memiliki bukti. Tapi tidak diungkap ke publik. Ibaratnya, tahu sama tahu. Istana dan Partai Demokrat "tahu sama tahu". Saling menuduh dan saling membantah. Mana yang benar kita tidak tahu.

Melawan dan menuduh istana memang harus hati-hati. Karena Istana bisa melakukan apapun, yang baik maupun yang buruk. Bagi Partai Demokrat, tak ada asap jika tak ada api. Tak akan ada pemberitaan negatif terhadap SBY, jika tidak ada yang menggerakannya. Yang pasti, jangan berpikir konspiratif, tapi berpikir dan berbuat sesuai data dan fakta. (mry)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
Pengamat Politik. Peneliti di Indo Survey & Strategy. Peneliti Senior Indonesian Public Institute (IPI)

Isi pernyataan Sekjen DPP Partai Demokrat Rachland Nashidik melalui akun twitternya, itu jelas bahwa dia menantang perang dengan Istana. Tapi justru itu kontraproduktif, yang bisa menjadi bumerang bagi Partai Demokrat. Mestinya, Demokrat harus menunjukkan data atau bukti yang kuat mengenai keterlibatan Istana dalam pemberitaan Asia Sentinel, tidak hanya sekadar meng-upload fotonya Moeldoko dengan Lin Neumann yang disebut-sebut sebagai Co-Founder Asia Sentinel.

Foto tersebut bukanlah bukti yang bisa dipertanggungjawabkan. Apalagi, pertemuan tersebut dalam dalam rangka meningkatkan investasi Indonesia sebagamana dijawab oleh Pak Moeldoko. Sehingga foto tersebut tidak bisa dipastikan bahwa ada konspirasi yang dibangun antara Istana dengan Lin Neumann untuk menjatuhkan Partai Demokrat dan SBY dalam artikel Asia Sentinel.

Terkait dengan serangan Demokrat ke pihak istana, bisa jadi itu bagian dari psywar yang didesain untuk mengganggu psikologis Jokowi dalam kontestasi pilpres. Ini merupakan teror psikologis. Selain itu, dalam pertarungan politik ada taktik dan strategi kanalisasi isu dan pengalihan isu. Lawan politik sengaja digiring ke dalam isu tertentu yang kontra produktif. Tujuannya untuk mengganggu konsentrasi dan menyita waktu lawan politik agar tidak sempat berfikir strategis dan melakukan langkah-langkah strategis. Dalam strategi ini sengaja diciptakan orang-orang atau kelompok yang sejatinya bukan lawan utama. Strategi ini sekadar untuk memecah konsentrasi agar lawan politik tidak fokus mengincar aktor yang menjadi lawan politik sesungguhnya. Ini bagian dari jebakan. Secara tidak sadar, lawan akan digiring ke dalam "killing field". Karenanya, pihak istana tidak perlu reaktif menanggapi serangan SBY dan Demokrat. Karena mereka bukan lawan politik sesungguhnya dalam kontestasi pilpres 2019.

Meski begitu, mestinya Demokrat harus memberikan data-data lebih valid dan bisa dipertanggungjawabkan, sehingga masyarakat percaya dengan “tudingan” yang dibangun mengenai ada keterlibatan Istana dalam pemberitaan Asia Sentinel. Selain itu, yang dilakukan oleh SBY dan Demokrat harusnya menempuh jalur hukum kalau memang punya bukti yang kuat. Mungkin Demokrat tidak menempuh jalur hukum  karena memang tidak punya bukti valid yang bisa digunakan sebagai barang bukti untuk melaporkan. Kalau pernyataan Rachland Nashidik sekedar sebuah asosiasi yang lebih condong ke arah propaganda untuk menyerang Istana. Ini kan sama menuduh orang tanpa bukti.

Saya pikir, elite politik harus memberikan contoh yang baik kepada masyarakat. Dalam menyelesaikan persoalan harus bersandarkan pada hukum yang berlaku. Mengumbar pernyataan yang dilandasi oleh sentimen politik, baik pribadi maupun kelompok, tentu akan menjadi preseden buruk. Hal-hal seperti itu harus segera dihentikan, berpolemik tanpa disertai data yang akurat itu bisa menimbulkan kegaduhan dan bisa berujung pada segregasi sosial di masyarakat.

Kalau kita baca dari berbagai polemik yang terjadi selama ini, kepentingannya lebih kepada kepentingan elektoral termasuk polemik tentang dugaan adanya keterlibatan Istana dalam pemberitaan Asia Sentinel. Jadi, mereka ingin membentuk sentimen negatif melalui opini-opini yang dibangun tanpa disertai dengan bukti. Hal-hal semacam ini didorong karena adanya pertarungan politik. Memang, pertarungan politik itu sejatinya adalah pertarungan persepsi. Sehingga para elite politik itu bukan lagi bicara benar dan salah, itu tidak penting. Yang terpenting bagi mereka adalah bagaimana membangun persepsi negatif untuk lawan politiknya. Akhirnya, yang terjadi adalah saling melempar pernyataan dengan tujuan untuk saling menjatuhkan.

Begitupun terkait “serangan” Rachland Nashidik ke Istana, ini dalam rangka untuk membangun image negatif Istana. Meskipun harus kita akui, pernyataan tersebut merupakan reaksi Partai Demokrat terhada isu keterlibatan SBY dan Demokrat dalam skandal Bank Century. (mry)

SHARE ON
Linkedin
Google+
Pinterest
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF