Pengamat Minta Sri Mulyani Jujur, Ke Mana Saja Uang Hasil Utang Luar Negeri Mengalir
berita
Satyo Purwanto. Sumber Foto: rmol.id
28 July 2021 07:00
Watyutink.com - Direktur Eksekutif Oversight of Indonesia's Democratic Policy, Satyo Purwanto mengatakan Menteri Keuangan Sri Mulyani harus bisa mempertanggung jawabkan keputusannya menarik utang yang jumlahnya kian menggunung. Satyo menyebut Sri Mulyani harus menjelaskan dan menguraikan secara detail kepada publik ke mana saja aliran utang luar negeri itu mengalir.

Saat memberikan keterangan, Selasa 27 Juli 2021, Satyo menuturkan sekarang ini kejujuran dan keterbukaan sangat penting. Pasalnya di saat kondisi pandemi utang luar negeri Indonesia mengalami lonjakan tajam. Di lain pihak pertumbuhan ekonomi justru merosot.

Satyo menambahkan seolah masa pandemi menjadi justifikasi pemerintah untuk terus menambah utang tanpa ada perubahan kebijakan. Justru pemerintah membebani rakyat dengan berbagai pajak. Sampai-sampai sembako pun dikenakan pajak. Sri Mulyani pun aktif melakukan bujuk rayu rencana rekapitulasi dana wakaf dan lain-lain.

Satyo menilai selama ini mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia itu menjalankan kebijakan keuangan negara dengan gaya neoliberalis. Sri Mulyani diperkirakan bakal terus membuat kebijakan konservatif dalam mengurua keuangan negara.

Satyo mengakui perlambatan ekonomi dialami pula oleh negara-negara lain. Hal ini sebagai dampak pandemi yang menyebabkan kemunduran ekonomi global. Negara-negara lain pun banyak yang memproduksi utang. Namun menurut Satyo tidak lantas semua semua negara dianggap posisinya terhadap utang.

Satyo mengungkapkan, masalah yang dihadapi Indonesia adalah karena sudah lama perekonomian dikendalikan oleh  teknokrat, Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia. Akibatnya pandemi Covid-19 yang saat ini terjadi semakin mereduksi kekuatan ekonomi. Indonesia  semakin terjerat dalam skenario utang jangka panjang dengan progresifitas yang cukup mengkhawatirkan.

Pada kondisi inilah, menurut Satyo, Menteri Keuangan diminta jujur dan terbuka kepada masyarakat. Jelaskan dengan rinci ke masa saja uang hasil utang luar negeri itu mengalir.

Sebelumnya saat berbicara Senin 14 Juli 2021, Sri Mulyani menyatakan pemerintah bakal kembali menambah utang baru di semester II 2021, sebesar Rp515,1 triliun. Angka tersebut dipatok lebih rendah dari rencana dalam APBN 2021. Sehingga pemerintah bisa  mengurangi kenaikan utang, yang tadinya Rp 1.177 triliun jadi Rp958 triliun.

Dalam kesempatan yang lain, Senin 26 Juli 2021 Sri Mulyani mengatakan tindakan pemerintah menambah utang semata-mata demi untuk menyelamatkan rakyat. Menurutnya utang merupakan salah satu instrumen untuk menyelamatkan perekonomian negara, terutama selama masa pandemi Covid-19.

Kementerian Keuangan mencatat jumlah utang pemerintah hingga Mei 2021 sebesar Rp6.418,15 triliun. Jumlah itu setara dengan 40,49 persen dari produk domestik bruto (PDB). Dalam sebulan terakhir jumlahnya turun Rp109,14 triliun atau 41,18 persen dibanding PDB pada akhir April 2021.

Namun jika dibandingkan periode yang sama tahun lalu jumlah utang pemerintah naik Rp1.159,58 triliun dari Rp 5.258,57 triliun atau 32,09 persen dari PDB.

Jangan ada dusta disaat pandemi, berterus teranglah bu!

Tetaplah kritis membaca berita!

SHARE ON
OPINI PENALAR
close

PENALAR

PENALAR TERPRODUKTIF